Selasa, 13 November 2018 10:04 WIB
pmk

Ekonomi

Sentimen Global Angkat Rupiah, Investor Masih Ragu-Ragu

Redaktur: Jakfar Shodik

PERKASA - Seorang teller pada salah satu bank di Jakarta tengah menghitung uang rupiah. Nilai tukar rupiah melanjutkan apresiasi atas dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu (7/11). Foto : Toni Suhartono/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) belum terbendung. Kemarin rupiah ditransaksikan di kisaran Rp 14.575 per USD. Apresiasi itu terjadi menyusul kepastian ekonomi tumbuh akibat transaksi valas dan bergesernya sentimen global terhadap Indonesia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Azami Ilman mengatakan, Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu baru menerbitkan produk derivatif Non-Deliverables Forward (NDF) berdampak positif. Itu kemudian mendorong kepastian transaksi mata uang valas dengan kontrak jangka tertentu dan nilai tukar ditentukan di awal. ”Kepastian itu sangat penting di tengah deru sentimen negatif pasar global,” tutur Ilman di Jakarta, Rabu (7/11)

Ilman menyebut dari sisi eksternal, rencana perundingan perdagangan antara AS dan China sukses menumbuhkan persepsi positif di mata investor. Itu kemudian diterjemahkan pelaku pasar untuk kembali melakukan penanaman modal di negara-negara mitra dagang China.

Perang dagang beberapa bulan terakhir menahan investor untuk menanamkan modal di China dan juga negara mitra dagang. Selain didukung peningkatan bunga Bank Sentral AS (The Fed), juga estimasi analisis dampak akan dirasakan China dari pengenaan tarif dagang pemerintah AS dikhawatirkan akan berpengaruh ke negara mitra dagang.

Pemerintah dapat menjaga momen tersebut dengan terus mempertahankan performa positif di pasar NDF. Selain itu, juga menjaga kondisi dalam negeri kondusif baik segi ekonomi dan politik stabil. Itu penting supaya tidak menimbulkan kekhawatiran investor untuk menanamkan modal.

Dampak langsung perang dagang terhadap Indonesia lebih banyak dirasakan di awal. Terutama pada penurunan ekspor bahan input ke China karena menurunnya kemampuan perusahaan di China untuk mengekspor ke AS. Namun, itu tidak perlu dikhawatirkan karena China sudah menemukan pasar alternatif pengganti AS seperti Uni Eropa dan Asia Tenggara. ”Perang dagang juga memperparah ketidakpastian ekonomi. Imbasnya, investor tidak begitu agresif menanamkan modal di negara-negara emerging market,” ucapnya. (dai/uji/jpc)


TOPIK BERITA TERKAIT: #sentimen-global-angkat-rupiah 

Berita Terkait

IKLAN