Senin, 19 November 2018 02:38 WIB
pmk

Nasional

Pengamat Sebut Pola Intelijen Ada di Kasus HRS

Redaktur: Darul Fatah

INDOPOS.CO.ID - Pengamat Terorisme dan Intelijen Harits Abu Ulya menegaskan, serangkaian yang dialami oleh HRS di Arab Saudi merupakan pola tindakan yang sangat mungkin dilakukan oleh anggota intelijen.

"Jika kita mencermati bagaimana kasus bendera (ISIS) itu terjadi dan kemudian distribusi kabar kasus ke dan dari jejaring media dari yang abal-abal hingga viral merambah ke media mainstream akan mengantarkan pada satu kesimpulan, ini by design. Dan analisa saya, dari evident (indikasi-indikasi) yang ada, apa yang menimpa HRS adalah produk operasi intelijen," ucap Harits kepada INDOPOS, Kamis (8/11/2018).

Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini pun meyakini ada upaya yang ingin menjatuhkan HRS dalam berbagai kubangan masalah.

"Ketika dikulik soal keimigrasian atau melebihi batas izin tinggal, HRS ternyata lolos. Kali ini modusnya adalah membangun image kedekatan dan keterkaitan HRS dengan kelompok-kelompok yang dilabeli ekstrimis bahkan teroris ISIS dengan menempelkan benderanya di tembok rumahnya, di mana Saudi sangat alergi bahkan keras bersikap terhadap kelompok tersebut. Ini cara atau modus murahan yang dilakukan intelijen," tegas dia.

Jika ternyata cara-cara seperti itu tidak ampuh untuk menjatuhkan citra Habib Rizieq di Arab Saudi maupun di tanah air, dirinya mengkhawatirkan HRS akan dibunuh.

"Berikutnya niscaya akan dicoba dengan modus lain. Bisa jadi di "Munir" kan. Kalau HRS di "Munir" kan, itu akan memantik kontraksi sosial yg luar biasa. Dan rezim yang bercokol hari ini akan menjadi pihak yang paling tertuduh dan harus bertanggungjawab dengan segala resikonya," cetus dia.

Terkait beredarnya empat nama yang diduga anggota BIN, dirinya menyangsikan hal tersebut. "Saya kuat dugaan ini kerjaan intelijen. Tapi soal akurasi nama pelaku saya kira tidak. Karena seorang intelijen tidak pernah memakai nama asli dalam bertugas maupun di tempat sehari-hari," jelas dia.

Begitupun dengan adanya bantahan dari BIN, kata Harits, merupakan hal yang wajar. "Jangan lupa, kalau pemerintah, polisi atau BIN atau institusi lain membantah tidak ada operasi intelijen di Saudi. Itu kan SOP. Mana ada operasi intelijen itu terbuka," tegas dia. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #habib-rizieq #bendera-tauhid 

Berita Terkait

IKLAN