Internasional

Trump Tutup Peluang Suaka Imigran Gelap

Redaktur: Jakfar Shodik
Trump Tutup Peluang  Suaka Imigran Gelap - Internasional

Ribuan pendatang dari Honduras dan Meksiko tak lagi berpeluang memperoleh suaka di AS. (FOTO : ALFREDO ESTRELLA / AFP)

INDOPOS.CO.ID – Para imigran gelap yang masuk melalui perbatasan Amerika Serikat bagian selatan tidak akan lagi memenuhi syarat untuk suaka. Hal itu diumumkan pelaksana pejabat Jaksa Agung Matthew Whitaker dan Kepala Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen. Keduanya menegaskan, pengumuman itu adalah  Peraturan Akhir Interm.

Dilansir dari BBC, Jumat (9/11), pengumuman bersama itu menyatakan bahwa presiden memiliki kekuasaan untuk menangguhkan masuknya semua apa yang disebut Presiden Donald Trump sebagai ”alien” dan pihaknya akan memaksakan pembatasan apapun jika dinilai merugikan kepentingan AS di bawah UU Imigrasi dan Kewarganegaraan.

Dengan demikian, jika presiden mengeluarkan penangguhan atau larangan masuk melalui perbatasan AS dan Meksiko, mereka yang secara ilegal berhasil masuk ke AS tidak akan diizinkan mengajukan permohonan suaka satu kali pun di sana. ”Hari ini, kami menggunakan wewenang yang diberikan kepada kami oleh Kongres untuk melarang orang asing yang melanggar larangan masuk Presiden atau pembatasan lainnya dari suaka suaka,” kata pernyataan bersama itu.

Aturan baru ini tidak akan berlaku surut dan diperkirakan segera ditandatangani langsung oleh Presiden Trump. Untuk diketahui, masalah imigran gelap menjadi salah satu fokus utama Presiden Trump dalam kampanye pemilihan jangka menengah (midterm election) 2018. Hal itu dilakukannya, menyusul serbuan ribuan orang Amerika Tengah menuju utara melalui Meksiko. Saat itu juga Trump memerintahkan ribuan prajurit AS berjaga-jaga di perbatasan, dan menyatakan para imigran sebagai sebuah ”invasi”.

Sementara di bawah UU AS, ada kewajiban untuk mendengar klaim suaka dari migran yang melarikan diri karena takut menjadi korban tindak kekerasan di negara asal mereka. Di bawah hukum internasional, imigran ini dianggap pengungsi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Amnesty Internasional Kumi Naidoo mengeluarkan pernyataan yang menyerang retorika "tidak manusiawi" Presiden Trump. ”Suaka bukanlah celah, ini adalah jalur kehidupan. Kebijakan ini tidak perlu menempatkan kehidupan ribuan orang dalam bahaya,” lontar Naidoo. (wid/rmol/jpg) 

 

Berita Terkait


Baca Juga !.