Jadi Pemicu Kanker, Tak Layak Konsumsi

INDOPOS.CO.ID –  Kali Bekasi berkali-kali tercemar. Catatan INDOPOS, dua tahun belakangan tujuh kali sudah sungai itu dilanda pencemaran. Bentuk pencemaran, selain dipenuhi busa, berbau tak sedap hingga air berwarna hitam pekat. Dampaknya, ribuan ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal tahan terhadap air kotor mati di Kali Bekasi. Karenanya, air sungai itu sangat tak layak konsumsi.

Kali Bekasi berhulu Sungai Cikeas, yang berlokasi di kawasan Sentul dan Sungai Cileungsi di kawasan Babakan Madang, kedua daerah itu masuk wilayah Kabupaten Bogor. Pertemuan kedua sungai itu membentuk Kali Bekasi, yang berujung di Sungai Cikarang Bekasi Laut, Kabupaten Bekasi.   

Dari hulu Sungai Cileungsi hingga Kali Bekasi, sedikitnya terdapat 1.200 perusahaan. Puluhan perusahaan itu berada di sepanjang Kali Bekasi yang diduga membuang limbah seenaknya ke sungai tersebut, hingga tercemar hebat.

Pencemaran Kali Bekasi dinyatakan berbahaya setelah kandungannya terdapat crom hecavalent dan chemical oxygen demand (COD). Sebab, sifat crom hecavalent itu berbentuk racun dan karsinogenik atau pemicu kanker.

Hasil uji labotarium yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, COD yang ada di Kali Bekasi berasal dari limbah perusahaan yang dibuang ke sana. COD sudah melebihi baku mutu hingga 200 persen di atas ambang batas. Dampaknya, mempengaruhi kualitas air sungai tersebut.

Karena chromic atau logam berat terlarut dalam air yang beracun dan bersifat karsinogen. ”Memang tidak langsung berdampak pada manusia, namun kalau terakumulasi bisa menjadi pemicu kanker. Karena itu air Kali Bekasi tak layak konsumsi,” terang Kepala DLH Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, Minggu (11/11).

Sekarang ini, kata Luthfi lagi, pemerintah daerah (pemda) terus melakukan pengawasan terhadap sejumlah industri yang berdiri di bantaran Kali Bekasi. Diduga industri itu membuang limbah ke kali yang menjadi penyebab pencemaran. Lantaran tidak bisa membuat IPAL (instalasi pengolahan air limbah) industrinya.

Pengawasan kali ini, kata dia juga, melibatkan kepolisian dan TNI. Bukan itu saja, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi juga sudah melaporkan masalah pencemaran berat Kali Bekasi ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Tujuannya agar pencemaran di Kali Bekasi bisa teratasi.

”Karena masalah pencemaran ini menyangkut tiga daerah. Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Bogor,” ucapnya lagi. Menurut dia, kandungan Kali Bekasi saat ini berstatus tercemar sedang. Artinya, kandungan air Kali Bekasi sudah tercemar berat dan berbahaya.

Untuk itu, pihaknya tetap berupaya berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor guna mengatasi pencemaran tersebut. Lantaran beberapa kali pencemaran sumbernya berasal dari pabrik di wilayah Bogor. Belum lama ini, Pemkab Bogor menyegel empat perusahaan pembuang limbah ke Sungai Cileungsi, penyebab pencemaran atau hulu Kali Bekasi.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, pihaknya sudah melaporkan pencemaran limbah Kali Bekasi ke Kementerian LHK pada Selasa (23/10). Dia berharap laporan itu bisa berbuah keputusan penanganan agar Kali Bekasi bisa terbebas dari pencemaran.

”Laporan kami ke kementerian berikut contoh limbah yang kami ambil dari Kali Bekasi,” terangnya. Rahmat menambahkan, contoh air yang tercemar itu diambil dari air Kali Bekasi, Instalasi Pengelolaan Air Sampah (IPAS) TPST Bantargebang dan TPA Sumur Batu.

Rahmat juga mengatakan, tahun lalu pihaknya pernah menyegel dua perusahaan terkait pencemaran Kali Bekasi. Yakni, PT Prima Kemasindo dan PT Prima Baja Utama karena diduga tidak memiliki IPAL dan membuang limbahnya ke Kali Bekasi. Selain itu, Pemkot Bekasi juga pernah menyegel pabrik  PT Millenium Laundry.

Air Kali Bekasi yang sudah tak layak konsumsi dibenarkan Koordinator Environment Community Union (ECU) Benny Tunggul. Dia mengatakan, air Kali Bekasi sudah tercemar limbah berbahaya dan beracun (B3). Buktinya, katanya juga, sejumlah hewan air yang hidup di sungai itu banyak yang mati.

 ”Air Kali Bekasi sudah berbahaya. Pencemaran limbah sampai membentuk busa,” terangnya, Minggu (11/11). Benny menambahkan, kandungan air Kali Bekasi itu diduga mengandung zat surfaktan. Menurut dia, zat tersebut merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus.

Sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Selama ini, kata Benny lagi, zat surfaktan banyak ditemui di bahan deterjen, kosmetik, farmasi dan tekstil. Produk pangan seperti es krim, kata dia, juga menggunakan surfaktan sebagai bahannya. ”Zat ini banyak dimanfaatkan industri,” paparnya.

Bukan itu saja, kata Benny juga, karena sifatnya yang menurunkan tegangan permukaan, surfactant dapat digunakan sebagai bahan pembasah (wetting agent), bahan pengemulsi (emulsion agent) dan sebagai bahan pelarut (solubilizing agent) serta agen pembusa (foaming agent).

Berbahayanya air Kali Bekasi akibat pencemaran juga pernah diungkapkan Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi – Cikeas (KP2C) Kota Bekasi, Puarman. Dia mengatakan, akibat pencemaran itu diperkirakan ribuan ikan sapu-sapu mati di sekitar Curug Parigi, Pangkalan Lima, Kecamatan Bantargebang,  Rabu (12/9).

Dia juga mengatakan, jumlah ikan yang mati lebih banyak dari yang pernah ia temukan selama ini.  ”Itu luar biasa, mungkin ribuan yang mati itu, baik yang di air atau bebatuan yang mengering,” katanya juga. Menurutnya juga, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kondisi Kali Bekasi sudah sangat tercemar.

”Artinya pencemaran itu sudah sangat luar biasa.  Artinya ikan sapu-sapu itu ikan yang paling tahan pada air kotor, tapi bisa mati juga. Kan bisa dibayangkan bagaimana pencemaran Kali Bekasi,” cetusnya juga.

 

Pemerintah Pusat Turun Tangan

Sementara itu, pencemaran Kali Bekasi yang mengkhawatirkan mendapat perhatian pemerintah pusat. Itu terjadi setelah Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengadukan pencemaran akibat limbah di sungai yang ada di wilayahnya tersebut.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) langsung merespon laporan tersebut. Kepala Biro Humas Kementerian LHK Djati Witjaksono Hadi mengatakan akan membantu mengatasi pencemaran Kali Bekasi. 

Dia mengatakan, pihaknya mempunyai program dan kegiatan terkait pengendalian pencemaran bukan hanya di Kali Bekasi tapi juga Sungai Cileungsi yang jadi hulunya. ”Yang pertama, kami akan melakukan pembinaan, pengawasan, dan penegakan hukum untuk industri yang ada di bantaran Kali Bekasi dan Sungai Cileungsi,” terangnya, Minggu (11/11).

Apalagi, katanya juga, pencemaran Kali Bekasi diduga akibat limbah yang dilarung ke sungai oleh industri yang belum memiliki IPAL. Kemudian yang kedua, kata Djati lagi, Kementerian LHK akan memberikan bantuan penerapan teknologi plasma-nano bubble untuk Pemkot Bekasi.

Teknologi itu untuk memulihkan kualitas air Kali Bekasi. ”Dan yang ketiga, kami melakukan pendampingan kepada Pemkot Bekasi terkait program pengendalian pencemaran Kali Bekasi secara komprehensif,” pungkasnya. Dia juga mengaku, pencemaran di Kali Bekasi bisa dituntaskan bila ada komitmen semua pihak. (dny/dai) 

 

Komentar telah ditutup.