Kurangi Air Baku, Butuh Biaya Lebih Banyak Mengolah

INDOPOS.CO.ID – Sementara itu, Kasubag Humas PDAM Tirta Patriot Uci Indrawijaya mengakui pencemaran Kali Bekasi menggangu suplay bahan baku air bersih perusahaannya untuk 51 ribu pelanggan. Lantaran, untuk mengolah air sungai itu agar layak konsumsi tidak mudah dan butuh biaya lebih banyak.

”Selain itu juga kami atasi dengan menurunkan bahan baku produksi air bersih dari Kali Bekasi,” terangnya Minggu (11/11). Jadi, kata Uci juga, bila selama ini pihaknya mengambil bahan baku air dari Kali Bekasi sekitar 5 kubik per detik, maka dikurangi jadi 2 kubik per detik.

Kekurangannya, PDAM Tirta Patriot mengakali dengan mengambila ir dari suplemasi air Kalimalang sebesar 3 kubik per detik. ”Kami sudah kordinasi dengan pihak Perusahaan Jasa Tirta II untuk pengambilan air dari Kalimalang,” ucapnya juga

Selain itu, kata Uci lagi, produksi air bersih juga diturunkan. Biasanya, dalam keadaan normal produksi air bersih mencapai 550 liter per detik. Namun karena pencemaran Kali Bekasi maak produksi air bersih berkurang menjadi 320 liter per detik,” tandasnya.

Sedangakn PAM Jaya mengklaim pencemaran Kali Bekasi bisa diatasi dengan siphon (saluran air tertutup) Bekasi. Manager Humas PDAM Jaya Linda Nurhandayani mengatakan, siphon Bekasi memang menyediakan pasokan air baku untuk wilayah Jakarta.

”Suplai kebutuhan air baku di Jakarta 81 persen berasal dari Waduk Juanda Jatiluhur yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II (PJT II),” ujar Manager Humas PDAM Jaya Linda Nurhandayani kepada INDOPOS, Minggu (11/11). Menurut Linda juga, fungsi pembangunan siphon Bekasi agar aliran saluran Tarun Barat tidak tercamput dengan aliran Kali Bekasi.

Karena, air dari Waduk Juanda Jatiluhur dialirkan melalui saluran terbuka Tarum Barat yang melewati Kalimalang. ”Kalau air dari Tarum Barat dan Kali Bekasi tercampur, membuat kualitas air baku akan menurun,” ungkap Linda juga.

Linda menyebutkan, panjang siphon Bekasi mencapai 98.000 meter yang berada 11.000 meter di bawah muka air Kali Bekasi. Jalur saluran dari Sungai Citarum terbentang sepanjang saluran Tarum Barat dari Bendung Curug dan memotong beberapa sungai, antara lain Kali Bekasi yang kemudian sampai ke instalasi pengolahan air.

”Siphon Bekasi mengalirkan air dari saluran Tarum Barat dialirkan ke bawah melalui Kali Bekasi. Ini untuk menjaga kualitas air baku dari PJT II,” katanya lagi. Jadi, untuk memenuhi pasokan kebutuhan air baku wilayah Jakarta, PAM Jaya tidak mengambil air baku dari Kali Bekasi.

Sehingga, pencemaran yang terjadi pada Kali Bekasi tidak berdampak pada pasokan air baku untuk wilayah Jakarta. Perlu diketahui Sungai Bekasi sendiri sudah tercemar dengan konsentrasi sedimen mencapai 5000 m/l di atas standar (500-2000m/l).

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan road map untuk mengatasi pencemaran limbah di sungai-sungai ibu kota. Pasalnya, persentase pencemaran sungai di Jakarta meningkat sejak 2014 lalu.

”Kualitas air di Jakarta cukup mengkhawatirkan, tapi secara kasat mata oke,” ujar Isnawa Adji. Data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, 61 persen sungai di Jakarta tercemar berat. Pencemaran dengan kategori sedang sempat menurun dari 44 persen pada 2014 menjadi 17 persen pada 2017.

Penurunan juga terjadi pada kategori pencemaran ringan, dari sebesar 23 persen menjadi 12 persen, sepanjang 2014-2017. Namun yang mengejutkan, kategori pencemaran berat meningkat dari 32 persen menjadi 61 persen pada periode yang sama.

”Upaya kita lakukan, tapi kita lihat dulu penyebabnya. Apa itu dari industri atau rumahan,” ungkapnya. Isnawa menegaskan, target jangka pendek dari road map tersebut, bisa dimulai pada akhir tahun ini.

Minimal, menurutnya ada penurunan persentase pada sungai dengan kategori tercemar berat. ”Pak gubernur (Anies Baswedan) ingin ada perbaikan air sungai di Jakarta dari yang terberat 61 persen jadi 30 persen,” ucapnya. (nas)

Komentar telah ditutup.