Kamis, 13 Desember 2018 06:58 WIB

Headline

Hoax Emak Mirip India

Redaktur: Juni Armanto

Ilustrasi Hoax. Dok.Indopos

INDOPOS.CO.ID - Penyebar hoax atau hoaks penculikan anak yang sebagian besar dilakukan ibu-ibu atau emak-emak terus didalami aparat kepolisian. Ini karena adanya penyebaran berita bohong lintas negara yang begitu mirip, Polri mencoba mendeteksi kemungkinan hoax tersebut by design atau didesain seseorang.
Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan, ada informasi bahwa hoax penculikan ini polanya muncul saat akhir tahun. Ini yang menjadi tanda tanya. ”Perlu untuk didalami,” ujarnya ditemui di kantor Divhumas Polri, Jakarta, Senin (12/11).

Kondisi ditemukannya hoax yang mirip antara Indonesia dengan India, membuat Polri akan berupaya akan bertindak bila memang menemukan indikasi hoax tersebut by design. ”Kalau ada yang mendesain tentu akan diketahui,” tuturnya.

Menurut Setyo, pengguna internet di Indonesia mencapai 240 juta orang. Jumlah sebanyak itu, tapi sebagian besar tidak memiliki kemampuan dan edukasi yang baik dalam memahami teknologi informasi. ”Makanya, hoaks itu terus disebar dan bermunculan,” paparnya.

Untuk menghentikan hoax, lanjut Setyo, seharusnya muncul gerakan yang massif di Indonesia. untuk memberikan pemahaman dan kemampuan dalam menggunakan teknologi. ”Ini eranya Revolusi Industri 4.0, integrasi big data dan artificial intelijen. Sangat-sangat perlu orang memahami teknologi informasi,” jelasnya.
Menurut Setyo, gerakan yang massif ini bisa dimulai pemerintah sekaligus masyarakat. Yang paling penting, masyarakat akhirnya mengetahui bagaimana menghadapi hoax. ”Yang utama ibu-ibu itu harusnya diberikan pemahaman,” urai dia.

Perlu diketahui, puluhan orang yang tewas di berbagai tempat di India akibat dicurigai sebagai penculik anak-anak. Rumor soal kelompok penculik anak ini tersebar luas dan amat cepat di India lewat layanan pesan WhatsApp dan media sosial seperti Facebook.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan Hetifah Sjaifudian mengatakan, kejadian hoaks itu karena minimnya pengetahuan yang dimiliki para ibu bahwa tindakannya itu sebagai bentuk kejahatan. "Kalau mereka (para pelaku, Red) beralasan karena iseng, bisa jadi memang para ibu belum menyadari apa dampak dari pembuatan dan penyebaran berita bohong seperti itu," katanya kepada INDOPOS di Jakarta, Senin (12/11).

Alasan kedua, kata Hetifah, bisa didasari karena bentuk ketakutan dari para ibu atas nasib anak-anaknya serta bagian dari pengingatan untuk para orang tuanya. "Atau bisa jadi memang masalah penculikan anak adalah hal yang paling ditakuti ibu-ibu, sehingga spontanitas mereka menyebarkan tanpa memeriksa dan memverifikasinya terlebih dahulu," tukasnya.

Atas dasar itu, perempuan berjilbab dari Fraksi Golkar ini sangat mengimbau pihak kepolisian tidak menyamakan kasus ini dengan kasus pelanggaran UU Informasi dan Teknologi (ITE) lainnya. "Kalau ada preseden penegakan hukum akan menjadi peringatan bagi yang lain. Tapi untuk aparat sebaiknya melihat apa motif dan sebab hal ini terjadi. Bedakan dengan penyebar hoaks dan fitnah yang memang terencana dan diniatkan untuk mengacau, menteror, atau menjatuhkan nama baik seseorang," serunya.

Politisi PKS yang juga Wakil Ketua Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera menuturkan, masyarakat memang harus waspada terhadap segala bentuk kriminalitas sekecil apapun. "Semua pihak harus waspada. Penculikan memberi dampak psikologis pada korban anak-anak. Dan itu bisa trauma yang lama sembuhnya. Karena itu semua pihak harus menganggap serius," ujar Mardani kepada INDOPOS.

Meski begitu, dirinya memang menyayangkan jika ada pihak yang sengaja membuat berita hoaks dalam bentuk apapun. "Dan jika menerima berita dalam bentuk apapun seharusnya masyarakat mulai saat ini membiasakan diri untuk melakukan klarifikasi. Tidak boleh berita tanpa fakta dan data disebarkan. Jika terima info yang tidak jelas lakukan penelusuran apakah bersumber dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan," jelasnya.

Dirinya pun mengaku bahwa emosi di ruang publik jika dikelola dengan baik justru menjadi energi sosial yang dahsyat. "Misal menyebarkan berita kegiatan positif seperti pelatihan bencana atau pelatihan berkebun dan sebagainya," imbuh dia.

Terkait permasalahan hukum ini, dia juga mengimbau agar pihak kepolisian lebih mengedapankan edukasi, bekerja sama dengan lembaga pendidikan formal dan informal ataupun denga lembaga penyiaran tentang literasi media, dampak hoaks, dan sebagainya. "Jadi pendekatan hukum dan sanksi untuk penyebar hoaks, khususnya terkait penculikan anak yang dilakukan kaum ibu ini hendaklah cuma dijadikan sebagai shock terapi. Bukan pendekatan utama," tambahnya.

Pakar hukum pidana Universitas Al Azhar Jakarta Suparji Achmad menegaskan, polisi hendaknya dalam melakukan penangkapan seseorang harus hati-hati dan memperhatikan perbuatan yang ditangkap, yakni apakah ada unsur pidananya atau tidak. "Dalam kasus penyebar hoaks penculikan anak harus diperhatikan niat dari pelaku. Jangan sekadar dilihat bahwa berita itu hoaks, tetapi harus dilihat latar belakang dan motivasi dan melihat profil pelakunya," tandas dia.

Dia pun memprediksi sepertinya yang dilakukan pelaku penyebar berita hoaks itu merupakan bagian dari usaha untuk masyarakat hati-hati akan adanya dugaan penculikan tersebut. "Bukan sepenuhnya bermaksud untuk menebar hoaks untuk menimbulkan keonaran," tuturnya.

Sesuai dengan konsep hukum pidana sebagai ultimum remidium, lanjut Suparji, maka seharusnya polisi dapat melakukan semacam pembinaan dan penyadaran agar mereka hati-hati dan mudah menyebarkan berita yang belum ada kepastian kebenarannya.

Sama halnya dengan pernyataan Hetifah dan Mardani Ali Sera, Suparji juga mengimbau aparat kepolisian agar selektif memilah para hukuman untum para pelaku pembuat dan penyebar berita hoaks penculikan anak itu. "Perlu dipertimbangkan polisi dalam menentukan langkah berikutnya. Artinya perlu ada upaya untuk meninjau status mereka, yakni tidak serta merta menjadi tersangka dengan mempertimbangkan motivasi dan kemanfaatan bagi yang bersangkutan. Maka polisi hendaknya bersifat selektif. Tidak semuanya dilanjutkan perkaranya, tetapi bisa dihentikan," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengaku prihatin lantaran dari 16 tersangka penyebar hoaks penculikan anak sebagian besar merupakan ibu-ibu. Dalam pemeriksaan diketahui mereka hanya iseng dalam menyebarkan berita bohong tersebut. (idr/dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #hoax 

Berita Terkait

Ibu-ibu Cantik Siap Tangkal Hoaks

Politik

Kaum Muda Diminta Tak Sebar Hoax

Nasional

GP Ansor Laporkan Sejumlah Akun Medsos ke Polisi

Nasional

IKLAN