Megapolitan

Ke Banyuwangi, Ngopi Enak di Desa Kemiren

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Ke Banyuwangi, Ngopi Enak di Desa Kemiren - Megapolitan

SRUPUT- Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (keempat kiri), di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. FOTO: RADAR BANYUWANGI

INDOPOS.CO.ID - Bupati Abdullah Azwar Anas mengapresiasi inisiatif dan keterlibatan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, dalam penyelenggaraan Festival Ngopi Sepuluh Ewu di desa setempat kemarin. Bagi Anas, even Ngopi Sepuluh Ewu tersebut bukan sekadar festival, tetapi juga menjadi salah satu pemantik geliat ekonomi kreatif di Banyuwangi.

Anas mengatakan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu merupakan kegiatan yang berangkat dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan untuk masyarakat itu sendiri. “Festival Ngopi ini sebagai undangan kepada khalayak untuk merasakan kehangatan warga Kemiren dalam menyambut tamu,” ujarnya saat menghadiri even yang digelar di sepanjang jalan Desa Kemiren tersebut.

Sudah sejak lama, masyarakat Kemiren yang mayoritas Suku Oseng itu memiliki tradisi menyuguhkan kopi kepada para tamunya. Media penyajian kopi itu sangat khas, yakni menggunakan cangkir yang memiliki bentuk dan corak yang nyaris seragam. Bahkan, mayoritas cangkir untuk menyuguhkan kopi itu merupakan warisan dari generasi ke generasi. “Tradisi masyarakat Kemiren yang suka berbagi inilah yang menjadi roh dari festival ini. Dari tradisi demikian, Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren memiliki nilai lebih. Warga Kemiren mendapat banyak keberkahan dari kegemarannya bersedekah ini,” kata Anas.

Lebih jauh Anas menuturkan, festival ini bertujuan untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif. Dia lantas mengutip pendapat dari miliarder dunia, yakni Jack Ma tentang tiga hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. “Untuk menghadapi revolusi industri 4.0, menurut Jack Ma, harus ada tiga hal yang disiapkan. E-government, education, dan ekonomi kreatif. Dua hal pertama dipersiapkan langsung oleh pemerintah. Sedangkan ekonomi kreatif dilakukan bersama-sama rakyat. Festival ini adalah bagian dari mendorong ekonomi kreatif tersebut,” paparnya.

Sektor agro (pertanian), lanjut Anas, menjadi elemen terbesar dalam mendorong ekonomi kreatif. “Dari riset yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Jatim), sektor agro menjadi penyumbang terbesar dalam pemberdayaan ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Untuk itu, kopi sebagai salah satu hasil produksi pertanian Banyuwangi, didorong menjadi ekonomi kreatif. Mulai dari peningkatan hasil tani, produksi, distribusi hingga penjualannya. “Sebelum ini, kita juga menggelar event Coffee Processing. Ini untuk memberikan edukasi pelaku bisnis kopi di Banyuwangi lebih profesional dan sesuai standarisasi pasar. Hal ini untuk mendorong ekonomi kreatif lebih pesat,” tegasnya.

Tak hanya pada kopi, Pemda Banyuwangi juga mendorong potensi hasil pertanian di masing-masing desa atau kecamatan. Potensi tersebut akan menjadi basis pengembangan ekonomi kreatif. “Pemkab sedang menganggarkan bantuan alat roasting, pengering buah naga, dan peralatan lain untuk mendorong potensi ekonomi kreatif berbasis agro di Banyuwangi,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, ribuan warga berbuar mengikuti Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Sabtu malam (10/11). Praktis, ruang jalan sepanjang hampir lima kilometer (km) itu penuh dengan meja, kursi, lengkap dengan jajanan tradisional, dan tentu saja kopi. Seolah jalanan tersebut menjadi lautan manusia yang bertujuan sama, menikmati kopi.(bw/sgt/aif/als/jpg)

Baca Juga


Berita Terkait

Lifestyle / Ingin BAB Usai Minum Kopi, Ini Penyebabnya

Hobi / Lahirkan Barista Milenial Sejak Dini

Hobi / Tawarkan Sensasi Homestay Rasa Lokal

Nasional / Mentan Dorong Pertanian Kopi di Citarum

Headline / Kementan Tanam Sejuta Kopi di DAS Citarum


Baca Juga !.