Kamis, 13 Desember 2018 06:18 WIB

Nusantara

Latihan Minimal 1 Jam Sehari, Ciptakan Robot Pemindah Barang

Redaktur: Folber Siallagan

HOBI- Darvesh Yalubia Nabel mulai gemar merakit dan membuat robot sejak kecil. Radar malang/jpg

INDOPOS.CO.ID - Darvesh Yalubia Nabel adalah salah satu generasi hebat dari Malang Raya. Keahliannya menciptakan aneka macam robot berbuah prestasi. Kelak, dia ingin robot ciptaannya bisa mempermudah pekerjaan seseorang.

ARIS DWI KUNCORO

Sosoknya pendiam. Tapi, di balik sikap pendiamnya itu, ada potensi besar di dalam diri siswa Kelas VIII Tazkia Islamic International Boarding School (IIBS) ini. Ya, siswa bernama Darvesh Yalubia Nabel ini baru saja meraih satu medali emas dan tiga perak dalam International Islamic School Robot Olympiad (IISRO) 2018 di Malaysia, 9 September lalu.

Nabel memang tidak sendiri, dia bersama dengan teman-temannya pernah meraih medali di banyak ajang.”Saya sudah ikut lomba saat SD dulu,” ungkap Nabel, saat ditemui, Senin (12/11).

Setelah menyambut wartawan koran ini, dia lantas mengambil salah satu robotnya. Bentuk robot yang diambil Nabel, seperti mainan mobil. Namun, hanya punya roda di belakang, dan chasis (rangka)-nya tidak tertutup. Sehingga, rangkaian elektroniknya pun terlihat.”Kalau ini robot line tracer, yang mengikuti garis,” ujar alumnus SD Muhammadiyah 4 Pucang  Surabaya itu.

Hanya saja, diajang IISRO lalu, Nabel tidak mengikuti kategori line racer itu. Dalam kompetisi yang berlangsung di International Islamic Univercity Malaysia (IIUM) ini, kurang lebih ada 300 peserta dari seluruh Asia yang ikut serta. Nabel, ikut dalam kategori transporter (memindah barang), sumo, underwater, dan rescue.”Yang kategori transporter dapat emas, yang tiga (sumo, underwater, dan rescue) itu dapat perak,” ungkap Nabel.

Bisa mendapat empat medali di ajang internasional, tentunya sangat membanggakan baginya.”Senang saja, bisa bawa nama Indonesia dan sekolah juga,” ujarnya sambil tersenyum. Untuk bisa membawa pulang empat medali itu, memang bukan perkara mudah. Nabel menceritakan, persiapan untuk mengikuti lomba ini sudah disiapkan selama dua bulan. Jam latihan juga ditambah dari biasanya.

”Lebih sering saja, dibandingkan biasanya. Paling minimal satu jam sehari,” ungkap dia. Biasanya, untuk latihan bersama dilakukan saat eksrakulikuler, atau, kurang lebih seminggu sekali.

Susah berlatih, tak lantas rintangan berakhir. Saat perlombaan tak kalah mendebarkan. Saat itu, waktu Nabel masuk final dalam kategori transporter dan melawan peserta dari tuan rumah.”Ya sedikit grogi, dan pusing,” ungkapnya saat tersenyum kecil.

Pusing yang dialami Nabel, bukan karena sakit. Namun, karena harus melakukan pemrograman.”Saat pemrograman, hanya diberi waktu satu jam setengah, tidak terasa waktu mau habis dan tiba-tiba sudah mau lomba dimulai. Cepat sekali,” imbuhnya sambil tersenyum.

Untungnya, Nabel bisa menyelesaikan dengan cepat. Sehingga, dalam lomba tidak mengalami masalah. Menurutnya, harus berpacu dengan waktu itu menjadi tantangan tersendiri dalam dunia robotic.”Serunya di situ (saat pemrograman) dan melihat robot jalan sesuai program,” ungkap dia.  Dan itu, menjadi pengalaman yang berbeda-beda setiap pertandingan. Karena, setiap lintasan pertandingan pasti tidak sama.”Jadi saya harus menyetel ulang program,” ungkap putra Vana Prantanto dan Luluk Abidah itu. 

Namun, saat dikategori transpoter itu dia berhasil meraih waktu tercepat dan memindah barang paling banyak.”Dapat waktu satu menit berapa detik waktu itu,” ungkap dia. Saat di kategori under water, Nabel juga nyaris kehilangan medali perak. Sebab, saat itu robot yang dijalankannya sebelum perlombaan sempat macet.”Panik juga, tapi alhamdulillah kami minta saran pelatih, terus bisa diperbaiki,” ujarnya.

Dalam dunia robotic, memang bukan hal pertama baginya mengikuti berbagai perlombaan baik nasional maupun internasional.”Dulu saat kelas VI SD pernah ke Singapura, namun dapat juara tiga. Saya ikut kategori rescue,” ungkapnya.

Sedangkan di Indonesia, pada awal Baronas (Lomba Robot Nasional) di ITS Surabaya awal 2018, Nabel mendapatkan medali emas.”Di Baronas ini saya ikut di transpoter manual, waktu itu lawannya dari Jogjakarta,” terang Nabel. Dari berbagai pengalaman itu, menjadi bekal baginya mengikuti berbagai event lomba robot nasional dan internasional baginya. Nabel sendiri berharap dengan robot nantinya bisa menjadi jawaban untuk berbagai kebutuhan di masa depan.”Karena mungkin nanti bisa lebih praktis menggunakan robot itu,” tandasnya.(*/riq)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ciptakan-robot-pemindah-barang #darvesh-yalubia-nabel #lomba-robot-di-malaysia 

Berita Terkait

IKLAN