Lagi-Lagi, Kosmetik BD/BB Ditemukan Bisa Sebabkan Jantung dan Ginjal

INDOPOS.CO.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menemukan enam jenis kosmetik yang mengandung bahan dilarang (BD)/ bahan berbahaya (BB). Selain itu, mereka juga menemukan tujuh item obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO) sepanjang Januari hingga November 2018.

Tujuh produk itu terdiri dari lima produk dalam negeri dan dua produk impor. Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan, temuan kosmetik didominasi oleh produk kosmetik yang mengandung merkuri, hidrokuinon, dan asam retinoat. BPOM juga menemukan enam jenis kosmetik yang sudah ternotifikasi mengandung BD/BB, yaitu pewarna dilarang (merah K3) dan logam berat (timbal).

”Secara umum bahan tersebut dapat menyebabkan kanker (karsinogenik), kelainan pada janin dan iritasi kulit,” ujarnya di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (14/11). Sementara itu, BKO yang teridentifikasi dalam temuan obat tradisional didominasi oleh sildenafil sitrat, fenibutazon, dan parasetamol yang berisiko menimbulkan efek kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, kerusakan hati, perdarahan lambung, hingga gagal ginjal.

Selama tahun ini, BPOM menemukan banyak kosmetik ilegal. Jenisnya beragam.

Mulai dari lipstik, pensil alis, hingga eyeshadow yang mengandung bahan berbahaya. Temuan kosmetik ilegal ini disebut mencapai angka Rp 112 miliar.

Temuan ini merupakan hasil pengawasan produk di peredaran (post-market control) secara rutin, adanya kasus, maupun operasi penertiban ke sarana produksi, sarana distribusi, atau retail oleh BPOM melalui Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia. Seluruh temuan kosmetik mengandung BD atau BB dan OT mengandung BKO telah ditindaklanjuti secara administratif.

Antara lain berupa pembatalan notifikasi atau izin edar, penarikan, dan pengamanan produk dari peredaran, serta pemusnahan. Untuk produk kosmetik dan OT ilegal dilakukan proses pro-justitia.

”Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, putusan tertinggi pengadilan perkara OT yaitu pidana penjara 2 tahun dan denda Rp 1 miliar. Sementara perkara kosmetik dijatuhi sanksi berupa putusan pengadilan paling tinggi penjara 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 1 miliar,” imbuhnya.

Selain hasil temuan tersebut, BPOM juga menindaklanjuti hasil laporan PMAS (Post-Marketing Alert System) yang dilaporkan oleh negara lain. Yaitu sebanyak 113 item kosmetik mengandung BD atau BB dan 115 item OT dan suplemen kesehatan mengandung BKO.

Semua temuan PMAS tersebut merupakan produk yang tidak terdaftar di BPOM RI. Pihaknya kembali menegaskan agar pelaku usaha menjalankan usahanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

”Selama tahun ini kami masih menemukan produk yang sudah pernah diumumkan dalam public warning tahun sebelumnya. Namun masih beredar di pasaran,” bebernya.

Untuk itu, lanjutnya, masyarakat diimbau agar lebih waspada serta tidak mengonsumsi produk-produk sebagaimana tercantum dalam lampiran public warning ini. Ataupun yang sudah pernah diumumkan dalam public warning sebelumnya.

”Ingat, selalu Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, Kedaluwarsa). Pastikan kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk yang tertera pada labelnya, memiliki izin edar BPOM, dan tidak melebihi masa kedaluwarsa,” imbau Penny.

Kepala Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mayagustina Andarini menyarankan kepada seluruh masyarakat agar mulai berhati-hati dalam membeli kosmetik dan obat tradisional secara online. Mengingat banyaknya kosmetik dan obat tradisional yang ilegal, dan juga mengandung bahan berbahaya.

”Masyarakat diminta untuk berhati-hati membeli barang kosmetik. Masyarakat harus dicerdaskan bagaimana memilih produk yang baik. Mereka bisa mengontrol atau cek dulu produk tertentu lewat aplikasi cek BPOM,” katanya.

Misalkan, lanjut Maya, jika ingin membeli suatu produk, diharuskan mengecek produk tersebut di aplikasi cek BPOM. ”Bisa masukan nama merek, nama perusahaan, atau nomor edar. Di situ kita bisa cek. Apa terdaftar atau tidak oleh BPOM. Kalau tidak berarti, nomor palsu. Nomor karangan sendiri,” imbuhnya. (dew)

Komentar telah ditutup.