News in Depth

Gincu Cantik Pencabut Nyawa

Redaktur: Syaripudin
Gincu Cantik Pencabut Nyawa - News in Depth

Grafis GIMBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Cantik memang mahal. Tapi, masih banyak wanita yang ingin instan dan murah agar cantik. Terutama wanita kelas menengah bawah. Akibatnya, mereka terperdaya kosmetik yang seharusnya jadi ’senjata’ wanita agar cantik, tapi karena berbahan berbahaya mengancam jiwa. Selama 2018, BPOM menemukan kosmetik mengandung bahan berbahaya dan dilarang senilai Rp 112 milar.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menemukan enam jenis kosmetik yang mengandung bahan dilarang (BD)/bahan berbahaya (BB) sepanjang Januari hingga November 2018. Tujuh produk itu terdiri dari lima produk dalam negeri dan dua produk impor.

Kosmetik yang mengandung bahan berbahaya yaitu Marie Anne Beauty Shadow 02 dan 07 (dua produk itu buatan Hollywood Sister Malang Jawa Timur) mengandung bahan timbal. Lalu ada QL Matte Lipstick 07 (sunset orange), 08 (flaming red), 09 (pretty peach) dan QL Matte Lipstick 10 (lady red), yang diproduksi PT Usaha Mandiri Makmur, Tangerang, ini  mengandung bahan merah K3.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito menjelaskan, temuan kosmetik didominasi oleh produk kosmetik yang mengandung merkuri, hidrokuinon dan asam retinoat. BPOM juga menemukan enam jenis kosmetik yang sudah ternotifikasi mengandung BD/BB, yaitu pewarna dilarang (merah K3) dan logam berat (timbal).

”Secara umum bahan tersebut dapat menyebabkan kanker (karsinogenik), kelainan pada janin dan iritasi kulit,'' ujarnya di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, (14/11). Selama 2018, BPOM RI menemukan banyak kosmetik ilegal, jenisnya beragam mulai dari lipstik, pensil alis, hingga eyeshadow yang mengandung bahan berbahaya senilai Rp 112 miliar .

Temuan ini merupakan hasil pengawasan produk di peredaran (post-market control) secara rutin, adanya kasus, maupun operasi penertiban ke sarana produksi, sarana distribusi, atau retail oleh BPOM RI melalui Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia. Catatan INDOPOS, selama lima tahun terakhir disita 359 merek kosmetik berbahaya.

Seluruh temuan kosmetik mengandung BD atau BB telah ditindaklanjuti secara administratif, antara lain berupa pembatalan notifikasi atau izin edar, penarikan dan pengamanan produk dari peredaran, serta pemusnahan. ''Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, putusan tertinggi pengadilan perkara perkara kosmetik dijatuhi sanksi berupa putusan pengadilan paling tinggi penjara 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 1 miliar rupiah,” ucapnya juga.

Selain hasil temuan tersebut, BPOM RI juga menindaklanjuti hasil laporan PMAS (Post-Marketing Alert System) yang dilaporkan oleh negara lain yaitu sebanyak 113 item kosmetik mengandung BD atau BB. Semua temuan PMAS tersebut merupakan produk yang tidak terdaftar di BPOM RI. BPOM kembali menegaskan agar pelaku usaha menjalankan usahanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

''Selama tahun 2018 kami masih menemukan produk yang sudah pernah diumumkan dalam public warning tahun sebelumnya, namun masih beredar di pasaran,'' tukasnya.  Untuk itu, lanjutnya, masyarakat diimbau agar lebih waspada serta tidak mengonsumsi produk-produk sebagaimana tercantum dalam lampiran public warning ini ataupun yang sudah pernah diumumkan dalam public warning sebelumnya.

''Ingat selalu Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, Kedaluwarsa). Pastikan kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk yang tertera pada labelnya, memiliki izin edar BPOM, dan tidak melebihi masa kedaluwarsa,'' imbau Penny.  

 

Jadilah Konsumen Cerdas

Maraknya produk kosmetik berbahaya membuat BPOM bekerja sama dengan asosiasi pengiriman barang, Asperindo, untuk terus melakukan pengawasan dan mengedukasi masyarakat dalam berbelanja kosmetik maupun obat tradisional di beberapa e-commerce atau media online. Salah satunya yaitu memfasilitasi masyarakat dengan sebuah aplikasi CEK BPOM untuk melakukan pengecekan nama perusahaan, nama produk, dan nomor perizinan.

''Dari situ mereka bisa cek, jika ada di database badan POM berarti sudah terdaftar, kalau tidak itu nomor palsu atau karangan,'' jelas Mayagustina Andarini,  Deputi Bidang Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmentik, BPOM. Dia juga menambahkan, BPOM juga telah bekerja sama dengan pihak kepolisian dimana kepolisian juga memiliki unit sendiri yatu cyberpatrol.

Dan juga melakukan kerjasama dengan Kemenkominfo untuk melaporkan apa saja yang sudah ditindak oleh BPOM dan melaporkannya kepada masyarakat. Juga terus mengajak masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas teredukasi.

''Terus kami lakukan pengawasan karena yang tumbuh banyak sekali. Jadi sebenarnya konsumen harus pintar dalam memilih barang, nantikan kalo lama-lama tidak ada yang beli kan juga jadi mati produsen dan peredar dari produk yang iilegal,'' ucapnya.

Maya menyarankan kepada seluruh masyarakat agar mulai berhati-hati dalam membeli kosmetik dan obat tradisional secara online dan lebih bijak dalam memilih produk kosmetik dan tidak tergiur dengan iklan-iklan menyesatkan atau harga yang tidak wajar.

Lantas bagaimana mengenali kosmetik palsu? Saat membeli kosmetik, pastikan Anda melakukan pengecekan terlebih dahulu, mulai dari kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa. Periksalah apakah ada kecacatan pada kemasan. Lalu, baca apakah ada Nomor Izin Edar (NIE) pada kemasan. Sebab, hanya kosmetik legal dan aman yang punya NIE dan izin resmi dari BPOM.

Anda juga bisa mengecek NIE langsung di situs resmi BPOM. Jika produk yang Anda beli tidak punya NIE atau tidak terdaftar, bisa dipastikan kosmetik tersebut ilegal. Kosmetik ilegal adalah produk yang beredar tetapi tidak atau belum dinotifikasi ke BPOM, termasuk kosmetik palsu. Ada juga kosmetik yang tergolong TIE atau tanpa izin edar, yaitu produk yang tidak memiliki nomor notifikasi dari BPOM.

Sementara itu, kosmetik palsu adalah kosmetik yang dibuat dengan tidak memenuhi kaidah cara pembuatan kosmetik yang baik (CPKB) dan menggunakan bahan-bahan yang tidak seharusnya digunakan. ''Penggunaan kosmetik tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada kulit penggunanya karena ada kemungkinan produk kosmetik tersebut diproduksi secara tidak tepat dan tidak memperhatikan serta menerapkan prinsip CPKB,'' tandasnya.

Kandungan kosmetik palsu bisa ditemukan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, hidrokinon, asam retinoat, bahan pewarna, dietilen glikol, dan resorsinol. Jika digunakan terus menerus bisa menimbulkan masalah kesehatan. Untuk mencegah terjadinya risiko kesehatan akibat kosmetik, mulailah meningkatkan kewaspadaan.  

Saat membeli kosmetik, Anda bisa melakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu, termasuk soal harga. Jangan sampai, Anda tertipu saat membeli kosmetik mahal tetapi dijual dengan harga murah yang tak masuk akal. Daripada membeli kosmetik palsu, lebih baik Anda mencari alternatif produk yang memang harga jualnya lebih rendah tetapi asli dan legal.

Sebab, kandungan bahan dalam kosmetik palsu tidak bisa dipastikan keamanannya untuk kulit. Jika merek kosmetik yang Anda inginkan punya toko atau stan resmi, ini bisa jadi pilihan yang aman untuk membelinya. Jangan lupa cek kemasan, tekstur, aroma, dan warna kemasan secara detail. Bila Anda membelinya di situs online jangan lupa bandingkan harganya. Curigalah bila selisih harganya terlalu besar dan jauh lebih murah. Bisa jadi produk tersebut palsu.

 

Kosmetik Berbahaya Celakai Keluarga

dr. Eyleny Meisyah Fitri, SpKK dari ZAP Clinic Premiere Menteng menyampaikan, penggunaan kosmetik yang mengandung bahan-bahan berbahaya tidak hanya berakibat fatal untuk penggunanya, orang-orang terdekat pengguna juga dapat terpapar dampak negatif.

''Contohnya, orang yang menghirup merkuri, walaupun tidak melakukan kontak langsung di kulit, bisa terpapar efek bahayanya. Pada penggunaan jangka panjang, kosmetik ilegal dapat menimbulkan penyakit di seluruh tubuh, organ-organ vital, bahkan dapat menyebabkan depresi,'' katanya.

"BPOM telah merilis terdapat 1.371 daftar bahan yang dilarang dalam kosmetik," kata dr. Eyleny Meisyah Fitri, SpKK. Dari sekian banyak daftar bahan berbahaya itu, yang paling banyak ditemukan merupakan Merkuri, Hidroquinon, Kortikosteroidtopikal, Asam retinoat/Tretinoin, Resorsinol, Bahan Pewarna (Merah K3, Merah K10, Jingga K1), Diethylene Glycol (DEG), dan Timbal.

Bahan-bahan tersebut sangat sering ditemukan dalam beberapa produk kosmetik ilegal yang berada di pasaran, termasuk di situs belanja online. Jenis Hidroquinon sebenarnya, menurut dr. Eyleny, aman untuk penggunaan pengobatan. Hanya saja, kalau digunakan untuk kosmetik menjadi terlarang sebab bisa menyebabkan kanker kulit. Penggunaannya perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter, bukan sembarangan.

Selain itu, bahan Timbal pun sebenarnya selalu ada di setiap kosmetik. Namun, ada takaran maksimal yang perlu ditaati yaitu di bawah 10 parts per million (ppm). Sayangnya tidak ada takaran yang tepat timbal yang ada di setiap kosmetik.

dr. Eyleny menjelaskan, bahan kosmetik ilegal tersebut memiliki efek samping. Dalam jangka pendek kita bisa melihat apakah kulit iritasi, gatal, atau kemerahan. Sedangkan, jangka panjang bisa terserang kanker kulit. ''Untuk itu, dalam memilih produk kecantikan kita harus hati-hati, jangan hanya karena ingin cepat putih atau cantik kita memilih produk sembarangan. Padahal ingin tampil lebih sempurna butuh prosesnya,'' tukasnya.

Dibandingkan membeli kosmetik yang memiliki efek instan, lebih baik konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Masalah jerawat misalnya. Ini bisa dibilang menjadi satu diantara masalah kulit wajah yang sering dialami oleh banyak orang.

Masalah tersebut juga bisa dipicu oleh berbagai macam faktor baik faktor eksternal maupun internal. dr. Gaby Syerly, aesthetic doctor dan founder dari sebuah klinik kecantikan bernama Youth & Beauty Clinic menjelaskan, meskipun jerawat adalah masalah kulit yang wajar dan bisa sembuh dengan sendirinya namun ada baiknya kita perlu melakukan pencegahan dengan langkah-langkah yang tepat.

''Jerawat itu kan disebabkan karena hormon, setiap orang pasti mengalaminya terutama wanita yang sedang mengalami masa pre mestruation syndrome (PMS) tapi ada juga jerawat yang timbul karena kurangnya perawatan pada wajah kita sendiri,'' katanya.

Menurutnya, jerawat bisa timbul karena sisa minyak yang menempel pada wajah apalagi yang disebabkan oleh make up. Untuk itu, terdapat langkah - langkah yang harus dilakukan seperti triple cleanser atau pembersihan tiga tahap saat menghapus make up agar minyak pada wajah terangkat.

''Yang jelas utamakan kebersihan terlebih dahulu, karena itu hal yang paling penting, tidak boleh juga malas untuk mencuci muka minimal dua kali sehari,'' tuturnya.

Tahap pembersihannya saat ingin menghapus make up ialah yang pertama menggunakan cleansing solution, atau pembersih wajah. Lalu dilanjutkan dengan penggunaan toner wajah setelah itu, membasuh muka dengan facial foam agar minyak terangkat maksimal.

Gaby juga menambahkan, seringnya melakukan facial dan massage pada kulit wajah juga justru akan menimbulkan minyak berlebih melalui pijatan - pijatan.

Maka, hal tersebut harus dikontrol dan tidak dilakukan dengan jangka waktu yang sering. ''Melakukan perawatan boleh saja asal tidak rutin setiap hari, selain itu jika kita terlalu banyak mengkonsumsi protein juga akan bisa menimbulkan jerawat di wajah, jadi semua harus sesuai porsinya,'' katanya. (dew)

Berita Terkait


Baca Juga !.