Aturan Lemah, Produk Palsu Merajalela

INDOPOS.CO.ID – Ancaman serius bagi kesehatan terhadap peredaran kosmetik berbahan berbahaya, membuat Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mendesak RUU Pengawasan Obat dan Makanan (POM) segera disahkan jadi undang-undang. ”Agar payung hukumnya kuat,” terangnya kepada INDOPOS, Kamis (15/11).

Selain kosmetik ilegal, penemuan penjualan obat juga marak. Apalagi penjualan kosmetik berbahaya secara online belum terpantau. Karena itu, Tulus juga meminta badan POM harus aktif bekerja sama dengan Kominfo menutup paksa akun-akun pedagang kosmetik ilegal tersebut.

Menurut Tulus juga, beberapa ritel moderen di Tanah Air pun tak jarang masih kerap terciduk menjual sejumlah produk kosmetik hingga makanan ilegal.  Selain itu juga, perbatasan Indonesia dengan negara lain jadi surga perdagangan barang obat.

”Situasi ini sangat membahayakan konsumen. Apalagi di tengah gempuran liberalisiasi ekonomi dan pasar digital yang sangat riskan terhadap keselamatan konsumen,” paparnya juga. Karena itu, dia meminta agar produsen bisa memenuhi aspek mutu hingga legalitas produknya.

”Di lapangan, kasus besar seperti pemalsuan kosmetik dan obat kerap tidak sampai ke hulu. Kita tahu rimbanya seperti apa! Banyak kasus besar tidak bisa diselesaikan karena minimnya kewenangan sehingga mentok,” cetusnya lagi.

Karena itu, Tulus meminta masyarakat mewaspadai kosmetik palsu. Penggunaan kosmetik palsu yang menggunakan bahan berbahaya tentu akan berdampak negatif kepada pemakainya. ”Konsumen bisa mengklaim pada si penjual jika posisi konsumen tidak mengerti bahwa barang kosmetik yang bersangkutan adalah palsu,” katanya lagi.

Bahkan, konsumen bisa menuntut pengembalian uang dan menuntut ganti rugi yang lebih besar pada si penjual. ”Terutama untuk penjual produk kosmetik besar seperti supermarket, jika barang palsu yang digunakan menimbulkan kerugian fisik atau efek negatif,” ujarnya

Di lain pihak, Pengamat Masalah Obat dan Kosmetik dr Freddy Wilmana SpFK mengatakan masyarakat yang kurang pengetahuan terhadap ancaman kosmetik berbahaya menjadi salah satu penyebab larisnya  produk kecantikan palsu tersebut.  

”Masalahnya, masyarakat kita kurang mendapatkan sosialisasi produk berbahaya, atau juga masih beranggapan lebih baik menggunakan barang murah. Tak bisa dipungkiri, banyak wanita kita yang ingin cantik tapi dana terbatas,” ucapnya juga. 

Freddy juga menambahkan, pihaknya beberapa kali menggelar seminar kepada para dokter maupun warga yang awam bahayanya produk kecantikan palsu. ”Kami sudah lakukan berbagai cara menyadarkan bahaya kosmetik ilegal. Termasuk dengan seminar. Tapi yah tidak semua masyarakat mengikuti,” paparnya juga kepada INDOPOS.

Bahkan, Freddy mengaku sudah melakukan upaya penangkapan terhadap penjual kosmetik palsu tersebut.

”Penjual kosmetik palsu online susah ditangkap. Karena sistem mereka transfer. Kalau toko-toko sudah ada beberapa yang kami rekomendasikan ditindak,” cetusnya juga. 

Freddy juga mengaku ada satu cara yang mudah bagi warga mengecek produk palsu atau bukan dengan mengecek kode produk kosmetik itu ke website http://cekbpom.pom.go.id . ”Kalau kode produk kosmetik itu tercantuk di website BPOM, aman digunakan. Kalau tidak hati-hati itu barang palsu,” cetusnya juga. (zbs)

Komentar telah ditutup.