Senin, 10 Desember 2018 10:43 WIB

Nasional

Solidaritas Internal Ras-Etnis Tinggi

Redaktur: Jakfar Shodik

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Kesadaran masyarakat terhadap isu diskriminasi ras dan etnis perlu ditingkatkan. Hasil survei Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menunjukkan ikatan internal ras dan etnis begitu tinggi. Sedang masyarakat juga masih menganggap isu diskriminasi ras dan etnis kadang sebagai candaan.

Survei KomnasHAM itu melibatkan 1.207 responden berasal dari 34 provinsi. Survei pada 25 September-3 Oktober itu dilakukan dengan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka pada responden berusia 17-65 tahun.

Hasilnya, ikatan priomordialisme masih menjadi nilai dianggap penting bagi masyarakat. Buktinya, berdasar survei itu, sebanyak 82,7 persen mengaku lebih mudah dalam menjalani kehidupan karena kesamaan ras. Ada 83,1 persen responden mengaku mudah karena kesamaan etnisitas, kesamaan keluarga 81,9 persen, tingkat kekayaan 78,2 persen, dan tingkat pendidikan 74,2 persen.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menuturkan selama kurun sepuluh tahun terakhir pihaknya juga menerima 101 laporan dugaan pelanggaran ras dan etnis. Jumlah itu belum merepresentasikan angka sebenarnya di masyarakat. Bentuk pelanggaran itu diantaranya pembatasan pada pelayanan publik, politik etnisitas dan identitas, pembubaran ritual adat, diskriminasi hak kepemilikan tanah, dan akses ketenagakerjaan. ”Problem utamanya karena orang tidak sensitif. Sekarang kita tingkatkan sensitifitasnya. Ini bukan persoalan pelanggaran hukum biasa ini hak asasi,” ungkap dia di kantor Komnas HAM, Jakarta, Jumat (16/11).

Dia menuturkan kadang karena kurang sensitif masih banyak orang bercanda dengan mautan etnis dan ras. Padahal, itu termasuk salah satu pelanggaran tercantum pada Undang-undang 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Komnas HAM sedang meningkatkan edukasi dan sosialisasi bentuk-bentuk pelanggaran tersebut. ”Kalau sudah teredukasi begitu dugaan kita nanti pengaduan pada komnas nanti akan lebih banyak. apalagi tahun-tahun poltik,” ungkap dia.

Taufan menyontohkan pada 2016 saat ada pilkada DKI Jakarta aduan pada diskriminasi ras dan etnis sebanyak 38 pengaduan.

Komisioner Pengkajian dan Penelitian Mochammad Choirul Anam menuturkan dari penelitian tersebut dapat dinilai bahwa masih banyak masyarakat yang lebih nyaman dengan etnis dan ras yang sejenis. Sehingga solidaritas di internal etnis itu begitu tinggi. ”Di balik solidaritas internal yang tinggi banget adalah potensi segregasi (pemisahan kelompok ras atau etnis secara paksa, Red) sosial juga tinggi. Karena orang lebih nyaman berkumpul dengan golongannya sendiri,” kata Anam.

Pria asal Malang itu mengungkapkan karena solidaritas internal itu begitu tinggi diharapkan untuk para politisi tidak menggunakan isu etnis dan ras itu dalam politik elektoral. Karena, bila dipergunakan terus menerus maka tingkat solidaritas internal itu akan makin melebar. Dan imbasnya ikatan komunitas yang lebih besar justru bisa tak terjadi. Tidak sesuai dengan semboyan bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetap satu jua. ”Harusnya dengan siapapun kita nyaman-nyaman saja. Sama-sama warga negara Republik Indonesia kalau dalam potret Indonesia,” jelas dia. (jun/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #solidaritas-internal-ras-etnis-tinggi #komnas-ham 

Berita Terkait

Komnas HAM Pelototi Kasus Novel Baswedan

Nasional

Komnas HAM Minta Pengesahaan KUHP Ditunda

Nasional

Pra Peradilan Setnov, Ini Penilaian Komnas HAM

Headline

IKLAN