Headline

Siapa Calon Kuat Pengganti Megawati?

Redaktur: Juni Armanto
Siapa Calon Kuat Pengganti Megawati? - Headline

PILIHAN-Megawati bersama Puan Maharani (depan kiri) dan Jokowi (depan kanan). FOTO: ISMAIL POHAN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri belum lama ini sempat curhat dan menginginkan posisinya sebagai pimpinan tertinggi dalam partai berlambang banteng tersebut diganti. Hasrat ini entah serius atau bercanda diungkapkannya di hadapan ratusan caleg partainya pada Kamis (15/11) lalu. Padahal ia telah memimpin partai ini sejak berdirinya PDIP pada 1999.

Menanggapi hal ini, sejumlah pengamat politik dengan kompak menyatakan bahwa memang sudah selayaknya PDIP memiliki ketua umum (ketum) baru untuk regenerasi partai tersebut serta untuk pembelajaran politik. "Ya saya kira sudah semestinya demi regenerasi, ada ketum baru pengganti Megawati," kata Lili Romli, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada INDOPOS di Jakarta, Minggu (18/11).
Meski tidak menjadi ketum, lanjut dia , namun Megawati bisa menempati posisi penting lainnya di partai.

"Megawati dapat ditempatkan posisi terhormat yang juga memiliki pengaruh kuat. Kalau dalam partai Islam bisa disebut dengan Ketua Dewan Syuro," jelasnya.

Lantas siapakah yang cocok menggantikan posisi Megawati? Lili menjelaskan bahwa banyak kader-kader andal di PDIP, baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif. "Banyak kader-kader PDIP yang jadi, kepala daerah, menteri, bahkan presiden, yakni Jokowi (Presiden Joko Widodo, Red)," ucapnya.

Andaikan Jokowi berminat, lanjut Lili, maka sangat mungkin bisa langsung terpilih. "Ya saya kira kalau Jokowi maju dan bersedia dicalonkan akan menjadi kandidat kuat mengalahkan Puan Maharani. Bahkan bisa aklamasi," jelasnya.

Senada diutarakan Peneliti Indonesia Public Institute Jerry Massie. Ia menjelaskan, banyak kader PDIP yang bisa menggantikan Megawati jadi ketum PDIP. "Ada Hendrawan Supratikno, Ahmad Basarah, Tjajho Kumolo, Pramono Anung ada juga figur muda Budiman Sudjatmiko, Puan Maharani, bahkan Jokowi sekalipun," ucapnya kepada INDOPOS.

Andaikan Megawati mundur atau digantikan, maka PDIP juga harus menyediakan posisi yang bagus untuk mantan Presiden RI ke-5 itu. "Paling tidak posisinya bisa sebagai Ketua Dewan Pembina. Jabatan tersebut juga masih memiliki pengaruh kuat dalam menentukan kebijakan partai," terangnya.

Meski begitu, Jerry masih belum meyakini Megawati murni ingin melepaskan jabatannya ke orang lain. "Persoalan di sini mau tidak Megawati melepas jabatannya. Apalagi bukan keturunan Soekarno. Paling dia berharap Puan Maharani yang menggantikannya. Cuma nanti pastinya akan dicap sebagai dinasti politik," cetusnya.

Lalu, andaikan Puan yang disodorkan Megawati, kata Jerry, maka hal itu juga makin menunjukkan kegagalan dari kepemimpinannya dalam menciptakan regenerasi. "Seorang pemimpin tanpa menciptakan kader, maka bisa disebut dia gagal. Seharusnya, dia tahu kapan dia naik, kapan turun. Itulah pemimpin sejati," ujarnya.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) Bin Firman Tresnadi mengatakan, kapasitas Puan Maharani untuk menduduki posisi sebagai ketum PDIP justru diragukan Megawati saat memberikan pembekalan caleg PDIP di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (15/11) lalu. "Mungkin (Megawati meragukan kemampuan atau kapasitas Puan jadi ketum PDIP, Red)," tandasnya.

"Puan tidak memiliki kapasitas untuk muncul sebagai tokoh perempuan. Langkah Puan berpolitik pun bukan karena kerja-kerja politik, tapi lebih dikarenakan posisi dia sebagai anak Megawati. Selama ini memang tak ada terobosan politik Puan yang membuat citra dia sebagai politisi perempuan yang patut diperhitungkan," paparnya.

Sebelumnya, Megawati mengeluhkan kalau dia merupakan satu-satunya perempuan yang diperhitungkan di kancah politik nasional. Berkaitan dengan itu, Presiden kelima itu pun mengaku semakin hari menjadi semakin kesal.

Menurut Bin Firman, sebenarnya banyak tokoh perempuan yang berpandangan progresif dan memiliki kerja-kerja politik yang jauh lebih mumpuni dibandingkan Puan. Ini baik dari luar PDIP maupun dalam PDIP sendiri. "Contoh, mulai dari Khofifah (Khofifah Indar Parawansa, Red) sampai Risma (Tri Rismaharini, Red). Hanya saja sistem kepartian kita masih kurang membuka ruang bagi kader-kader di luar konco untuk memberi peran lebih terhadap perempuan-perempuan progresif tersebut," pungkasnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menilai kehendak Megawati untuk turun dari posisi pemimpin tak bisa serta-merta terjadi. Hal itu mengacu pada suara kader PDIP untuk menghendaki sosok lain selain putri dari Presiden pertama RI Sukarno itu sebagai pemimpin.

Menurut Hasto, selama ini Megawati selalu terpilih berdasarkan suara terbanyak. Meski Megawati sudah ingin mundur, kader partai tidak ingin menggantinya. ”Ketika kongres menghendaki beliau untuk memimpin, itu bagian dari dedikasi bagi partai dan negara. Bukan karena orang per orang, bukan karena ambisi,” jelas Hasto.

Menurut Hasto, pada kongres berikutnya, bukan tidak mungkin Megawati akan terpilih lagi. Masalahnya, hal ini tergantung pada kader partai di berbagai daerah untuk mencari orang lain yang bisa mendapat dukungan partai seluruhnya. ”Pandangan saya sebagai sekjen dengan melihat tantangan-tantangan ke depan, Jokowi juga memerlukan pengawalan seorang pemimpin dengan pengalaman yang luas seperti Megawati. Dalam pandangan kami, beliau masih mendapat dukungan dan akan mendapatkan dukungan sangat kuat,” ucapnya.

Meski demikian, Hasto menampik bila kaderisasi partai disebut tidak berjalan dengan baik. Partai telah berusaha semampu mungkin untuk mendidik kader yang masih muda. Dia mengklaim PDIP mempunyai kader perempuan paling banyak dan cukup banyak kader muda dengan umur di bawah 21 tahun. ”Proses kaderisasi kepemimpinan itu harus terus menerus dilakukan partai. Berkaitan dengan kepemimpinan partai, kami melihat kami punya mekanisme, kami punya budaya dan tradisi kita,” tegasnya lagi.

Saat memberikan pembekalan calon legislatif PDIP gelombang terakhir di Gedung DPP PDIP, Megawati sempat menyatakan keinginannya sejak lama untuk mundur dari pemimpin PDIP. Namun, dia melihat belum banyak perempuan di Indonesia yang terjun ke politik dan sukses seperti dirinya. Dia merasa setelah 73 tahun Indonesia merdeka belum mengalami banyak kemajuan dalam hal itu. ”Saya jadi ketua umum partai yang paling senior. Sudah sekian lama belum diganti-ganti. Padahal saya sudah sekian lama berharap diganti, karena umur saya yang sudah 17 (maksudnya 71 lebih, Red), tapi hari ini pun malah ditambahi tugas untuk (Ketua Dewan Pembina, Red) Badan Pembinaan Ideologi Pancasila,” kata Megawati. (dil)

 

Berita Terkait

Politik / Rekapitulasi Nasional, PDIP Kuasai Provinsi Jawa Timur

Politik / Nama Puan Maharani Mencuat Menempati Kursi ketua DPR RI

Politik / PDIP Bisa Raih Tiga Kursi DPR dari Dapil IX Jateng

Politik / PDIP Surabaya Keberatan Hitung Suara Ulang

Politik / Jelang Pemilu,  Kader PDIP Gelar Istighasah


Baca Juga !.