Terkena ISPA, Warga Tiga Desa Desak Penutupan TPA Jatiwaringin

INDOPOS.CO.ID – Masyarakat tiga desa mendesak Pemkab Tangerang menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Penyebabnya, warga menderita inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat pembakaran sampah yang dilakukan pengelola TPA. Bahkan, warga akan mendemo sampai TPA tersebut ditutup.

Ketua Paguyuban Desa Jatiwaringin, Denny Aldi menyatakan penutupan TPA itu telah lama diajukan warga ke Pemkab Tangerang mengingat kondisi TPA telah overload akibat tak ada pengelolaan yang benar dan sampah hanya dibakar setiap sore.

“Pengelolaan sampah dilakukan dengan cara dibakar dan menyebabkan banyak warga terserang infeksi saluran pernapasan (ISPA). Jadi kami minta TPA ini ditutup atau dipindahkan ke daerah lain,” katanya, Minggu (18/11).

Denny menyatakan aksi pembakaran sampah itu dilakukan pekerja TPA Jatiwaringin sejak empat bulan lalu. Pembakaran dilakukan sejak pukul 15.00 hingga tengah malam. Asap pembakaran sampah ini juga sampai ke dua desa yang bertetangga dengan Desa Jatiwaringin.

Baca Juga :

“Di sini ada 89 warga yang sudah terserang ISPAdan itu juga dialami warga desa lain. Sampai sekarang warga belum mendapatkan pengobatan dari Pemkab. Memang sudah tak muat lagi TPA ini menampung sampah,” paparnya.

Denny mengaku, penderita ISPA akibat pembakaran sampah itu menimpa Desa Jatiwaringin, Desa Rajeg Mulya, Desa Buaran Jati. Koordinasi antar paguyuban warga antar desa untuk meminta Pemkab menutup TPA telah diajukan masyarakat. Serta meminta pengobatan gratis atas serangan ISPA dari asap pembakaran sampah dari TPA Jatiwaringin yang dihirup.

Baca Juga :

“Sudah kami ajukan dan dibicarakan antar desa. Kami sepakat minta segera ditutup. Kalau tidak kami akan demo ke kantor Bupati. Harusnya puskesmas menggratiskan penderita ISPA yang datang,” ungkapnya.

Menurut Deny, permintaan warga menutup TPA juga dikarenakan TPA tidak memiliki Instalasi Pengelolaan Limbah Air (IPAL), akibatnya air tanah warga pun tak dapat digunakan untuk memasak karena sudah berbau amis.

Kepala UPT TPA Jatiwaringi, Hermawan menuturkan pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin mengelola sampah yang dibuang. Namun, hal itu belum mampu menekan timbunan limbah masyarakat tersebut. Terkait pembakaran sampah itu dirinya belum mengetahui pasti. “Mungkin pemulung yang bakar, kami tidak tahu. Tahu sendiri petugas kami sedikit, jadi tidak bisa mengawasi lokasi TPA. Kalau ditutup itu urusan Pemkab bukan kami,” tuturnya.

Ditambahkan Hermawan, persoalan belum terbangunnya IPAL di dalam TPA merupakan kebijakan Pemkab Tangerang. Pihaknya mengaku telah mengajukan pembangunan IPAL untuk direalisasikan pada 2019. Selain itu pembuangan sampah juga akan dialihkan ke TPA Nambo milik Pemkab Bogor.

“Insya Allah bisa terealisasi. Kendalanya terbentur oleh anggaran, karena cukup besar membuat IPAL. Kami berharap masyarakat bersabar, nanti semuanya akan diperbaiki oleh pihak pemerintah daerah,” pungkasnya. (cok)

Komentar telah ditutup.