Sup Sampah di Laut RI

INDOPOS.CO.ID -Sampah di laut menjadi permasalahan serius. Kondisi ini bahkan menjadi sorotan dunia. Berdasarkan data Ocean Conservancy pada pertengahan tahun ini, lima negara Asia penghasil sampah terbesar di dunia di antaranya Indonesia, Tiongkok, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Jika penanganan sampah tidak serius dilakukan sejumlah negara, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memprediksi laut akan berubah menjadi sup plastik dalam waktu singkat. Bahkan, pada 2050, jumlah ikan di lautan bakal kalah banyak oleh jumlah sampah plastik di laut. Kalau saat ini paus, anjing laut, dan lumba-lumba yang mati karena mengonsumsi plastik, berikutnya manusialah yang mati kelaparan karena tidak ada lagi hasil laut yang bisa dipanen, kecuali plastik.

Pada Minggu (18/11) lalu, bangkai Paus Sperma di Perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara sempat memantik keprihatinan banyak pihak. Pasalnya, di dalam tubuh paus yang memiliki panjang 9,5 meter dan lebar 4,37 meter tersebut terdampak beragam sampah. Berdasarkan hasil identifikasi Balai Taman Nasional Wakatobi di dalam perut paus berisi berbagai sampah antara lain gelas plastik 750 gr (115 buah), plastik keras 140 gr (19 buah), botol plastik 150 gr (4 buah), dan kantong plastik 260 gr (25 buah). Selain itu, ada juga serpihan kayu 740 gr (6 potong), sandal jepit 270 gr (2 buah), karung nilon 200 gr (1 potong) dan tali rafia 3.260 gr (lebih dari 1.000 potong).

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Dwi Sawung mengatakan, kasus hewan-hewan laut yang mengkonsumsi sampah plastik belakangan semakin marak. Berdasarkan hasil pantauan lembaganya, kasus serupa juga banyak dilaporkan nelayan-nelayan di daerah. “Cuma kali ini ukuran ikannya sangat besar,” ujarnya, Selasa (20/11).

Peristiwa tersebut, lanjutnya, menunjukkan tingkat polusi sampah di perairan Indonesia sudah sangat buruk. Bahkan, penyebarannya tidak hanya di laut Jawa, melainkan juga mulai menyebar ke wilayah timur Indonesia. Hal itu selaras segan hasil penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck beberapa tahun silam. Saat itu, Jenna menyebut Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah laut terbesar di dunia.

Sawung menambahkan, sampah plastik sangat berbahaya bagi kelangsungan biota laut. Sebab, beberapa sampah dalam kondisi tertentu kerap memiliki bentuk yang mirip dengan makanan sejumlah hewan laut. “Kadang mirip ubur-ubur, sehingga kerap dimakan,” imbuhnya.

Untuk mengatasi persoalan itu, kata dia, kuncinya adalah pengelolaan sampah di darat. Pasalnya, mayoritas sampah laut berasal dari sampah darat yang tercecer dan hanyut terbawa arus sungai.

Pengelolaan sampah di darat sendiri, dia menilai masih jauh dari ideal. Terbukti, masih banyak masyarakat yang memilih membuang sampah ke sungai. Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk menekan penggunaan plastik juga tidak terlaksana dengan baik. Kebijakan plastik berbayar misalnya, sudah tidak dilanjutkan.

Sawung menilai untuk menuntaskan persoalan tersebut perlu upaya yang menyeluruh. Selain, pengelolaan sampah, dibutuhkan juga perubahan budaya penggunaan plastik. “Misalnya pengurangan penggunaan sedotan. Toh, tanpa sedotan orang masih bisa minum,” tuturnya.

Sebelumnya, Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (Ditjen PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, jumlah sampah di Indonesia rata-rata sekitar 65 juta ton per tahun dengan asumsi setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0,7 kg per hari. ”Karenanya, harus dilakukan pengurangan dan penanganan. Pengurangan artinya kita meminimalisir produksi sampah, misalnya tidak menggunakan kantong plastik, tak menggunakan botol plastik air mineral sekali pakai, tidak gunakan sedotan plastik, dan lainnya,” tandasnya.

Vivien menegaskan, dalam pengelolaan sampah, yang pertama diperbuat adalah menyiapkan regulasi. ”Kita sudah punya PP No 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, dan PP No 97/2017,” jelasnya kepada INDOPOS.

Ditjen PSLB3 juga gencar kampanye pengurangan dan pembatasan penggunaan kantong plastik. Permen LHK soal itu tengah disusun Direktur Pengelolaan Sampah. Peraturan lainnya yang juga digodok yakni, permen roadmap atau peta jalan untuk produsen penghasil bungkus atau kemasan plastik. “Permen ini akan mengatur produsen agar merancang kembali kemasannya, sehingga tidak single use atau sekali pakai. Gunakan plastik yang recyclable (didaur ulang, Red) dan reusable (digunakan kembali). Kemudian produsen juga harus melakukan take back (pengambilan kembali, Red) misalnya kemasan mie instan,” ujar Vivien.

Sementara PBB untuk pertama kali merilis laporan tentang bahaya plastik bagi lingkungan hidup. ”Stop mencemari laut dengan plastik,” tegas Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pidato World Oceans Day beberapa waktu lalu seperti dikutip NHK World.

Setiap tahun sekitar 8 juta ton sampah plastik sampai ke lautan dan menjadi polutan. Tidak hanya membuat makhluk penghuni laut menderita, polutan yang tidak bisa terurai atau membusuk itu juga merusak ekosistem. Guterres juga mengimbau masyarakat internasional segera mengubah cara pandang terhadap plastik. Bahwa plastik adalah ancaman bagi kehidupan. ”Jangan bergantung pada plastik,” tandas diplomat asal Portugal tersebut.

Earth Day melaporkan, sekitar 2 juta tas dan kantong plastik didistribusikan ke toko-toko di seluruh dunia tiap menit. Padahal, untuk memproduksi tas dan kantong plastik yang lantas berakhir di perut paus, anjing laut, dan lumba-lumba itu dibutuhkan sekitar 10 persen pasokan minyak di dunia.

Selama ini sejumlag negara yang kebijakan pemakaian plastiknya patut dijadikan teladan di antaranya Amerika Serikat (AS), India (khusus Kota Karnataka), Kenya, Cile, Inggris, Australia, dan Tiongkok. (far/aro/hep/c11)

 

 

 

 

Komentar telah ditutup.