Nasional

DPR Telusuri Perusahaan Perusak Lingkungan

Redaktur: Nurhayat
DPR Telusuri Perusahaan Perusak Lingkungan - Nasional

LIMBAH- Perusahaan pemasok utama aki/battery kendaraan disinyalir merusak lingkungan. Foto: Yapelh For Indopos

INDOPOS.CO.ID - Komisi VII DPR RI bakal melakukan penelusuran terhadap PT IMLI, perusahaan pemasok utama aki/battery menyalahi aturan dan mencemarkan lingkungan. Anggota Komisi VII DPR RI, Totok Daryanto mengatakan, pihaknya bakal menelusuri perusahaan pemasok aki yang diduga melanggar aturan sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan.

Penelusuran itu, kata Totok, bisa berasal dari pengaduan masyarakat atau terjun langsung ke lokasi dimana perusahaan itu melakukan aktivitasnya. ”Sampai saat ini kami (Komisi VII, Red) belum menerima pengaduan dari masyarakat. Kita tunggu aduan baru bisa bergerak,” kata politisi PAN itu.

Namun, sambung Toto, bila pengaduan daru masyarakat telah diterima, pihaknya tidak segan-segan menghadirkan perusahaan tersebut ke DPR dan meminta penjelasan terkait langkahnya yang diduga telah mencemari lingkungan. ”Bila ada tindakan yang melanggar hukum, Komisi VII bisa saja mendorong aparat hukum untuk bertindak,” tegasnya.

Diketahui, perkembangan ekonomi Indonesia yang pesat akhir-akhir ini dan membuat pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia meningkat. Jalan-jalan tol dan jalan non-tol dibangun oleh pemerintah di mana-mana sehingga mempermudah transportasi dari setiap kota dan daerah ke kota dan daerah lainnya. Akibat dari perkembangan tersebut, salah satu group usaha yang mempunyai usaha utama yaitu memproduksi dan menjual mobil, sepeda motor dan komponen kendaraan bermotor di Indonesia. Group ini sebagian sahamnya dimiliki oleh orang/perusahaan asing yaitu perusahaan dari negara tetangga kita Singapura.

Direktur Eksekutif Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia, Uyus Setia Bhakti menemukan, aki/battery (yang diproduksi dari bahan logam timah hitam) sebagai salah satu komponen utama dari kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) yang juga menjadi bagian dari bisnis grup perusahaan tersebut, produksi dan penjualannya ikut naik seiring dengan naiknya penjualan kendaraan bermotor tersebut.

Aki/battery, kata dia, setelah tidak dipakai dan menjadi aki bekas adalah benda yang berbahaya dan beracun. Secara Peraturan dan Perundangan Republik Indonesia, aki bekas ini dikategorikan sebagai Limbah Bahan Beracun Berbahaya (LB3), sehingga harus dan wajib dikelola dengan di-daur ulang secara hati-hati dan dengan prosedur dan metode proses yang benar serta peralatan khusus. ”Tanpa hal-hal tersebut maka akan mengakibatkan dampak kerusakan lingkungan berupa pencemaran tanah, air dan udara yang sangat serius berkepanjangan. Debu dan asap yang dihasilkan sangat berbahaya untuk kesehatan manusia (terutama kecerdasan anak) karena asap dan udara tersebut mengandung timah hitam dan asam sulfat,” terang Uyus.
”Dari investigasi dan penelitian kami di lapangan kami menemukan dengan bukti yang kuat bahwa sebagai pemasok utama perusahaan aki/battery, tidak mengolah/mendaur ulang aki bekas sesuai dengan Ketentuan dan Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup tetapi membeli timah batangan dari pelebur liar yang membakar aki bekas dengan peralatan seadanya,” papar Uyus.

”Kami punya bukti lapangan yang faktual dan sangat valid. Selain itu kami juga memiliki bukti bahwa perusahaan ini juga membuang limbah pabrik yang masih mengandung timah hitam ke pembakar liar. Dengan melakukan praktek seperti ini pasti perusahaan mendapatkan keuntungan besar dan bisa memberikan harga murah yang ingin mencari keuntungan besar usaha di Indonesia,” bebernya.

Ditanya apa saja langkah yang akan dilakukan oleh Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia menyikapi temuan investigasi tersebut? Uyus mengatakan, pihaknya akan segera mengadukan permasalahan ini kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Komisi VII DPR-RI agar segera menindak dan mengusut tuntas masalah ini.

Uyus menambahkan, di zaman sekarang di mana semua negara termasuk Indonesia, berlomba-lomba memelihara lingkungan tetap baik untuk bisa diwariskan kepada anak cucu kita dan semua penduduk Indonesia bisa menikmati lingkungan yang baik, sebagai perusahaan besar seharusnya ikut menjaga kelestarian lingkungan. Faktanya hari ini malahan ada perusahaan asing yang tidak peduli dan hanya mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya untuk dikirim ke pemegang sahamnya di luar negeri yaitu di Singapura. ”Tentu saja praktek bisnis seperti itu harus kita tindak tegas, jangan sampai terus-menerus merusak alam dan merongrong kesehatan (kecerdasan) penduduk Indonesia,” tutupnya. (aen)

 

Berita Terkait

Nasional / DPR Kritisi Kesejahteraan 439 Ribu Honorer

Nasional / ICW Luncurkan Platform Digital Rekam Jejak Anggota DPR RI

Megapolitan / Tercemar Logam, Air Kali Bekasi Tak Layak Konsumsi

Nasional / DPR-Mendag Memanas Bahas Etanol


Baca Juga !.