Nusantara

Sosok Eko Ristanto, Eks Polisi Penyerang Polisi dalam Kasus Terorisme

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Sosok Eko Ristanto, Eks Polisi Penyerang Polisi dalam Kasus Terorisme - Nusantara

GONDRONG-Eko Ristanto. FOTO: Polres Lamongan for Jawa Pos

INDOPOS.CO.ID - Pergerakan Eko Ristanto, pelaku penyerangan polisi di Lamongan, seharusnya bisa dideteksi lebih awal oleh polisi. Pria asal Sidoarjo itu telah menunjukkan gelagat mencurigakan sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, selama tiga bulan ini Eko tidak pernah lagi menjalankan kewajiban melapor ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan memastikan penyerangan terhadap Bripka Andreas Dwi Anggoro usai insiden penyerangan pos polisi Wisata Bahari Lamongan (WBL) merupakan aksi terorisme. Pelakunya dua orang, Eko Ristanto, mantan anggota Satreskrim Polresta Sidoarjo dan rekannya M. Syaif Ali Hamdi.

Kepala Bapas Kelas I Surabaya Hasan menyatakan, permohonan pembebasan bersyarat (PB) yang diajukan Eko disetujui pada 3 Juli 2017. Sejak saat itu pula dia menjadi klien bapas. Penjaminnya adalah keluarga besar Eko, termasuk ayahnya yang juga pensiunan polisi, M. Faqih.

Menurut Hasan, selama pendampingan, Eko diwajibkan melapor kepada petugas pendamping dari bapas yang bernama Pramudi. "Syarat paling penting itu tentang wajib lapor. Minimal dua minggu atau sebulan sekali. Jika tidak dilakukan, petugas akan datang ke rumah untuk mengingatkan," ujarnya.

Hasan sempat terkejut mendengar Eko berulah di Lamongan. Dia juga tidak menyangka Eko bakal terlibat paham radikalisme. Menurut dia, ulah Eko bisa memperberat hukumannya. Sebab, masa PB-nya belum selesai. Sesuai dengan ketentuan, Eko harus menjalani wajib lapor mulai Juli 2017 hingga Desember 2020.

Pramudi menyatakan, semula Eko rajin melaksanakan wajib lapor sebulan sekali. Namun, sejak tiga bulan lalu Eko tak pernah lagi datang. Pram -sapaan Pramudi- tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Eko. Alasannya, sudah ada Faqih yang menjadi penjamin Eko. "Kata ayahnya (Faqih, Red), Eko tidak bisa datang karena istrinya sedang hamil," ungkapnya.

Saat masih sering melapor, Eko pernah menceritakan aktivitasnya sehari-hari kepada Pram. Waktu itu, Eko mengaku sibuk berdagang bawang. "Orangnya baik kok. Di lingkungan bapas juga dikenal baik. Tapi, saya tidak tahu kok dia berani melakukan tindakan teror," kata Pram.

Sebagaimana diberitakan, Eko menyerang seorang polisi di Lamongan, Selasa (20/11). Dia ditemani MSA, remaja 17 tahun. Akibat aksinya itu, kaca pos polisi di Wisata Bahari Lamongan (WBL) pecah berantakan. Seorang polisi, Bripka Andreas Dwi Anggoro, terluka.

Semula, motif penyerangan diduga hanya sakit hati karena Eko dipecat dari kepolisian. Namun, kasus tersebut kini ditangani Densus 88 Antiteror. Sebab, aksi Eko ternyata bukan kriminal biasa. Dia diduga memiliki hubungan dengan jaringan teroris di Indonesia. Eko dan MSA terbukti beberapa kali mengunjungi napi kasus terorisme (napiter) di lapas.

Sementara itu, rumah orang tua Eko di RT 2, RW 3, Dusun Pojok, Desa Lajuk, Kecamatan Porong, Sidoarjorumah cokelat muda itu kosong. "Yang tinggal di sini bapak dan ibunya. Mungkin mereka sedang keluar," kata Misdi, ketua RT setempat.

Dia menuturkan, keluarga Eko sebenarnya termasuk terpandang. Faqih, bapak Eko, merupakan pensiunan Polri yang terakhir berdinas di Polsek Tanggulangin. "Eko anak pertama. Punya adik perempuan," jelasnya. Namanya Dwi Asrini. Namun, perempuan kelahiran 1987 itu tidak tinggal di Desa Lajuk. Dia indekos di sekitar tempat kerjanya di Surabaya.

Menurut Misdi, Eko sempat tinggal bersama orang tuanya di Desa Lajuk setelah keluar dari penjara. Dia bahkan merintis usaha. "Jualan bawang putih." Eko kulak bawang putih di Mojosari, Mojokerto. Bawang itu lantas dikupas di rumah, lalu dijual ke sejumlah pasar di sekitar Sidoarjo. Misdi mengungkapkan, Eko termasuk tipe pendiam. Sulung dua bersaudara itu jarang bergaul dengan warga di lingkungan sekitar. Namun, beberapa kali warga sempat melihatnya keluar malam. Tidak ada yang tahu ke mana tujuannya.

Beberapa bulan setelah bebas dari penjara, Eko menikah. Dia mempersunting Ummu Difah, warga Brondong, Lamongan. Mereka menikah siri. Desas-desus yang berkembang di masyarakat, Eko dijodohkan oleh guru ngajinya ketika di lapas.

"Entah lapas mana. Yang pasti, ikut-ikutan radikal itu sejak di Malang," jelas Misdi. Apakah Eko tidak pernah dibesuk ketika mendekam di lapas? Misdi menyatakan, keluarga Eko rutin menjenguk. Mereka sesekali juga mengajak tetangga sekitar. Kunjungan itu biasanya dilakukan 1-2 bulan sekali. "Waktu masih di Malang, sering. Setelah dipindah ke Madiun, keluarganya tidak pernah mengajak warga," terangnya.

Di sisi lain, pengamat terorisme Al Chaidar menyampaikan, sangat mungkin Eko direkrut saat menjalani hukuman di dalam lapas. "Jadi, di penjara itu memang jaringan keras," ungkapnya. Niat penyerangan semakin bulat karena Eko dibakar api dendam kepada institusi Polri. "Dan memang tidak harus menggunakan senjata tajam, bom, atau pistol," tambah dia.

Chaidar menyebutkan, teroris bisa melancarkan serangan dengan menggunakan media apa pun. Yang penting, serangan terlaksana. Yang dilakukan Eko memang terbilang sporadis. Bisa jadi karena dia bergerak sendiri (lone wolf). Hanya, jika melihat lokasi penyerangan yang berada di wilayah Jatim, bukan tidak mungkin yang bersangkutan terhubung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang sudah dilarang. (edi/de/c5/oni/jpg)

Berita Terkait

Megapolitan / Dekat Ibu Kota, Bekasi Jadi Pilihan, Zona Merah Aksi Terorisme

Headline / Eks Napi Teroris WNI Dipulangkan dari Malaysia

Nasional / Berharap Intelijen TNI Dapat Deteksi Dini

Internasional / Turki Siap Bantu Pembangunan Irak


Baca Juga !.