Alexa Metrics

Pengendalian Perubahaan Iklim di Indonesia Harus Lebih Agresif

Pengendalian Perubahaan Iklim di Indonesia Harus Lebih Agresif

INDOPOS.CO.ID – Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan bahwa implementasi agenda perubahan iklim di Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain. Seperti halnya, penyelesaian status hutan adat, hutan sosial, pengendalian kebakaran hutan dan restorasi gambut.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, pemanfaatan lahan telah dilakukan dengan baik, sehingga mampu memperhatikan lingkungan hingga menahan karbon lebih dari 30 juta ton seperti di Provinsi Kalimantan Timur.

“Bayangkan apabila seluruh provinsi menerapkan hal yang sama, beberapa bahkan sudah memulai juga. Kita mempunyai mandat harus menyelesaikan kira-kira 2,8 giga ton sampai dengan tahun 2030, sekarang sudah 890 juta ton. Berarti kita sebetulnya maju, kita menapak maju, dalam perjalanannya, dan ini harusnya dengan segala modal praktek yang ada, harusnya bisa disampaikan juga ke dunia internasional,” ujar diadi kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Ia menegaskan, Indonesia perlu mengambil sikap yang lebih agresif, terutama untuk outreach internasional. Karena sudah banyak inisiatif dan inovasi pengendalian perubahan iklim di Indonesia.

Agenda-agenda di Paviliun Indonesia juga dapat bermanfaat untuk menunjukkan progres yang telah dilakukan oleh seluruh lapisan di Indonesia. Dalam menghadapi UNFCCC ke-24, ataupun perundingan di luar negosiasi, Indonesia dapat menunjukan yang sudah dilakukan dalam pengendalian perubahan iklim.

“Kita ini sebetulnya dalam implementasi agenda perubahan iklim tidak tertinggal. Jadi sekarang kita bukan hanya aware, yaitu waspada dan memahami perubahan iklim lalu bersikap,” jelas Siti Nurbaya.

“Sekarang kita sudah harus advokasi, apa yang perlu dilakukan oleh negara lain. Jadi sekali lagi, kita ajak orang aware, appeal, ask, act, dan advocate,” tambah dia. (dan)



Apa Pendapatmu?