Headline

Antara Menghina dan Mengkritik

Redaktur: Juni Armanto
Antara Menghina dan Mengkritik - Headline

Ilustrasi Ojek Online

INDOPOS.CO.ID - Setelah mendapat kritikan terkait ucapan ‘Tampang Boyolali’, Calon Presiden (Capres) nomor urut dua Prabowo Subianto kembali disorot. Kali ini tentang pidatonya yang menyebutkan generasi muda Indonesia banyak memilih menjadi tukang ojek setelah lulus dari SMA. Pernyataan tersebut diungkapkannya dalam Indonesia Economic Forum di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (21/11) lalu. Pidatonya itu pun menjadi buah bibir dan viral di media sosial (medsos). Tak hanya itu, di beberapa daerah sudah muncul aksi unjuk rasa kalangan ojek lantaran statemen Prabowo dinilai telah merendahkan profesi tukang ojek. Lantas apa kata pengamat politik terkait statemen Prbowo?

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Dr Ujang Komarudin mengatakan, pidato Prabowo bermaksud untuk mengkritik pemerintahan saat ini. Namun, seolah-olah menyinggung profesi tukang ojek, maka tak bisa dihindari menjadi perbincangan publik. Mengingat saat ini tahun politik, ucapan capres atau calon wakil presiden (cawapres) pasti menjadi sorotan. "Karena ini tahun politik. Apapun yang dikatakan capres dan cawapres akan menjadi sorotan dan isu nasional,” ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulisnya di Jakarta, Minggu (25/11).

Ujang menambahkan, salah atau tidaknya ucapan Prabowo tergantung dari sudut pandang yang menilai. ”Prabowo mungkin ingin mengatakan bahwa lapangan kerja sangat sulit," tandasnya.
Menurut Ujang, terlepas salah tidaknya perkataan Ketua Umum Gerindra itu, bangsa Indonesia termasuk bangsa pemaaf. Ini termasuk masyarakat, jadi memberi maaf lebih baik jika merasa tersinggung dengan perkataannya. "Lebih baik tabayun terlebih dahulu (minta klarifikasi, Red) ke Prabowo. Tapi tadi, karena ini sudah masuk ranah persaingan politik Pilpres. Maka, apapun komentar capres dan cawapres akan digoreng (kubu lawan, Red)," ungkapnya.

Bagi pendukung petahana, lanjut Ujang, maka pernyatanya itu dianggap menguntungkan. Dengan anggapan pemerintah telah berhasil menciptakan lapangan pekerjaan dan menurunkan angka pengangguran. "Bagi kubu petahana, ucapan Prabowo tersebut menguntungkan petahana. Kira-kira seperti itulah logikanya," terang dia.

Kendati demikian, kata Ujang, masyarakat tentu harus objektif dalam menilai pernyataan yang dikeluarkan capres dan cawapres. Fenomena ini, menggambarkan saling mencari-mencari kesalahan lawan politik. Bila salah berkata, maka akan ramai dan menjadi keuntungan bagi lawan. "Belum pada perdebatan beradu ide dan gagasan yang ada dalam visi, misi, dan program-progam kandidat. Belum mengarah dan memberi pendidikan politik yang mencerdaskan dan mencerahkan. Masih berkutat pada perdebatan yang non-substatif," ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu.

Pengamat politik UIN Jakarta Adi Prayitno juga menilai pidato tersebut ditujukan untuk mengkritik pemerintah. Lantaran sebagian besar lulusan SMA tidak siap untuk bersaing. Mustinya persoalan ini bisa diselesaikan semua pihak, bukan malah menjadi alat perang politik.

"Substansinya jelas, bagaimana mutu dan kualitas lulusan SMA harus ditingkatkan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain. Prabowo bunuh diri jika niat menghina tukang ojek," tandasnya kepada INDOPOS. "Problemnya, dua kandidat lebih suka berdebat yang hal remeh temeh, bukan daleman dan substansi isunya. Yang ironis terkesan ada mobilisasi untuk merasa tersinggung dengan kritik tertentu," tambahnya.
Meski dalam melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan perlu legalitas yang jelas, akan tetapi perlu dibekali dengan mutu pendidikan. "Betul. tapi setidaknya kualitas lulusan SMA andal setara lulusan Strata Satu (S1). Karenanya, skill mereka mesti diasah kompetitif," ucapnya.

"Iya mestinya yang diperdebatkan itu bagaimana lulusan SMA bukan hanya jadi tukang ojek. Tapi bisa masuk ke dunia lainnya seperti otomotif dan lain-lain. Bukan malah digiring seakan-akan menghina profesi tukang ojek," jelasnya.

Lebih jauh, Adi mengungkapkan, demo yang terjadi di berbagai daerah tidak kebetulan, tapi tersistematis dan terkoordinir. Terlebih zaman sekarang susah lihat masyarakat demo terkait kebijakan pemerintah yang tak populis seperti impor beras, kenaikan BBM, kenaikan listrik, hal itu justru berhubungan langsung dengan rakyat. "Ini tiba-tiba banyak demo di berbagai daerah yang isunya justru tak berkaitan dengan kehidupan mereka. Apalagi kita tak pernah lihat tukang ojek demo secara massif bersamaan di berbagai daerah. Menuntut itu tertentu, misalnya soal kesejahteraan mereka. Ini tiba-tiba banyak yang demo. Tentu nalar alamiah publik bertanya soal ini," terangnya.

Bagaimana tanggapan dari kubu Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang pengusung Capres Jokowi-Ma'ruf Amin? Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tentu menyayangkan pernyataan yang disampaikan Prabowo tersebut. "Menjadi pemimpin itu tidak boleh menghina profesi tukang ojek," ungkapnya kepada wartawan, kemarin.
Untuk itu, Hasto meminta para caleg PDIP tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang merendahkan martabat profesi tertentu atau juga merendahkan harkat dan martabat masyarakat. "Menjadi pemimpin itu harus menggelorakan martabat dan kehormatan rakyat apapun profesinya," tegasnya.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang juga Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi -Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding meminta Prabowo tidak merendahkan profesi tukang ojek. "Jangan rendahkan tukang ojek! Itu kita lihat ojek online, sekarang penghasilan tukang ojek juga semakin baik," tandasnya.

Soal pernyataan Prabowo, Karding menilai itu sebagai bentuk pesimistis. Ia menyebut sifat pesimistis memang sudah menjadi ciri capres nomor urut 02 itu. "Kebiasaan Prabowo yang selalu pesimistis dan mengeluh dengan keadaan," tuturnya.

Anggota Komisi III DPR RI itu menegaskan, pemerintah sudah terus melakukan perbaikan, termasuk sistem pendidikan. Karding juga menyebutkan Presiden Jokowi bersama pemerintah yang dipimpinnya juga mengedepankan pendidikan vokasi (pendidikan) pada penguasaan keahlian terapan tertentu. "Menghubungkan antara dunia pendidikan dan usaha. Jadi lulusan pendidikan ke depan, mereka terakomodasi karena kesesuaian lulusan dengan kebutuhan dunia kerja," ucapnya.

Ditambahkan Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir, pihaknya menilai hal sebaliknya juga terjadi. Misalnya para tukang ojek juga merasa miris kepada Prabowo. "Para pengemudi ojek pun bisa saja merasa miris terhadap Prabowo juga," tukasnya.

Anggota Penugasan Khusus Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi -Ma'ruf Amin itu juga mengatakan, Prabowo mengukur segala sesuatu berdasarkan materi. Padahal, tukang ojek berjasa besar dalam membantu pemerintah mengatasi kemiskinan. "Prabowo menilai sesuatu berdasarkan ukuran materi, misalnya pekerjaan seseorang diukur dengan berapa besar uang yang bisa dihasilkan. Dia tidak lagi memandang suatu pekerjaan itu baik atau buruk, tapi berapa besar uang yang dihasilkan dari pekerjaan itu," jelasnya.

Lalu seperti apa klarifikasi kubu Prabowo-Sandiago? Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dr Mardani Ali Sera menegaskan bahwa ucapan itu justru untuk menyentil kinerja pemerintahan saat ini. "Tidak. Itu bukan ucapan penghinaan (terhadap profesi tukang ojek, Red). Itu ucapan untuk menyentil pemerintah dalam mempersiapkan kualitas hasil sistem pendidikan serta rendahnya lapangan pekerjaan," katanya dalam diskusi publik bertemakan ‘Indonesia di Persimpangan’ di Kota Melbourn, Australia, Minggu (25/11).

Ia menyatakan bahwa kondisi riil saat ini, banyak indikator yang membuktikan negara dalam kondisi lemah dan kalah dari negara tetangga sekitar. Dari sisi indeks prestasi manusia, yang meliputi sektor pendidikan, kesehatan, level Indonesia masih di angka 70,19 jauh dari Malaysia, dan Singapura. "Jika sistem pendidikan yang baik, maka kita seharusnya bisa meningkatkan IPM kita di level 80. Dulu negara tetangga menyekolahkan pemuda-pemudinya di Indonesia, sekarang malah berbalik," ujarnya

Menurut Mardani, jika pembangunan manusianya berkualitas, maka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik. "Nah inilah kenapa Prabowo menginginkan para pelajar tidak stagnan pendidikannya mentok di SMA agar dapat lebih diberi kemudahan mendapatkan kelanjutan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih baik, yang setidaknya mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru," terang di depan 300.000 WNI yang bekerja ataupun menjadi pelajar/mahasiswa di Kota Melbourne.
Selain itu, Mardani juga menyoroti lemahnya pertumbuhan ekonomi, serta tingginya angka pengangguran.

"Kita inginkan ekonomi tumbuh minimal tujuh persen, tidak seperti saat ini yang hanya di angka 5, 2 persen. Serta angka pengangguran terbuka yang mencapai 5,2 persen. Seharusnya angka pengangguran di angka empat persen," ujar Ketua DPP PKS.

Atas dasar data-data itu, lanjut Mardani, maka ucapan Prabowo tidak sama sekali menyinggung profesi Jokowi. "Profesi ojek itu mulia. Tapi alangkah lebih bagus jika kehidupan anak bangsa saat ini di level yang lebih tinggi lagi dengan perbaikan sistem yang saya sebutkan tadi," pungkasnya.
Ketua BPN Prabowo –Sandi, Jenderal (Purn) Djoko Santoso turut mengatakan, ungkapan tersebut adalah kejujuran dari risau hati Prabowo. ”Dia mengatakan seperti itu secara jujur, sprotif, dan bersih dari dalam hati, kalau soal kata-kata dia memang biasa mengungkapkan lewat gurauan,” ujarnya di Jakarta.

Djoko menegaskan bahwa tidak etis mempermasalahkan ungkapan jujur dari lubuk hari seorang Prabowo. ”Jangan sedikit-sedikit dipermasalahkan, memangnya jadi ojek online profesi bagus. Saya tidak memimpikan pemuda-pemuda kita jadi seperti itu. Saya ingin pemuda jadi insinyur, polisi, dan tentara serta dokter,” tegasnya.

”Mereka jadi pengemudi ojek online hanya menjadi korban kapitalisme.Mereka hanya disuruh-suruh seenaknya,” pungkas Djoko.

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Faldo Maldini juga menjelaskan bahwa bukan maksud Prabowo merendahkan profesi itu. "Apa yang salah menyampaikan realitas? Tidak merendahkan profesi sama sekali. Saya berharap ini jadi diskusi yang bermutu, misalnya isu ketenagakerjaan dalam sharing economy. Kan lebih cerdas diskusinya," singkatnya.

Lebih lanjut, Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Dirgantara dan Transportasi (SPDT) Rusli justru mengaku tak merasa direndahkan dan mengklaim 74 persen driver ojek online se-Indonesia mendukung Prabowo-Sandi. "Nggak merasa direndahkan. Orang bentuk keprihatinan, justru dia merasakan perihnya anak bangsa yang kondisinya seperti itu tidak bisa diberikan regulasi. Gitu lho. Jadi di mana letak melecehkannya? Nggak!" ungkap Rusli kepada wartawan saat deklarasi dukungan ojek online, Jumat (24/11) lalu di Jakarta.

Diketahui sebelumnya, isu soal profesi tukang ojek ini berawal saat Prabowo berbicara mengenai jalur karir pemuda yang kini tengah jadi tren. Ia menyoroti banyaknya pemuda yang setelah lulus SMA memilih berkarir menjadi sopir ojek. Hal tersebut ia sampaikan dalam Indonesia Economic Forum 2018. Prabowo menyimpulkan pidatonya dengan kenyataan saat ini yang tergambar lewat meme. Melalui power point, ia menunjukkan meme gambar empat penutup kepala, yakni topi SD-SMP-SMP kemudian helm berwarna hijau.

"Yang paling di sebelah kanan adalah topi SD, setelah ia lulus, ia pergi ke SMP, setelah ia lulus, ia pergi ke SMA, dan setelah lulus dari SMA, ia menjadi pengemudi ojek. Sedih, tetapi ini kenyataan," sebut Prabowo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (21/11).

Prabowo ingin pemuda Indonesia memiliki karir yang bagus. Untuk itulah ia mengaku memiliki dorongan untuk menjadi Presiden RI. "Ini adalah gairah saya. Ini adalah dorongan batin saya. Saya tidak merasa bahagia. Saya ingin pemuda Indonesia untuk menjadi pengusaha, insinyur, pilot. Selain itu juga memiliki restoran sendiri dan tidak menjadi pelayan di restoran, juga memiliki kafe sendiri, juga perusahaan sendiri, juga memiliki pertanian, dan tidak hanya menjadi kuli, itulah yang mendorong saya," paparnya. (dan/aen/dil)

 

Baca Juga


Berita Terkait

Politik / Kapolri Tegaskan Larang Aksi Unjuk Rasa di MK

Politik / Mendagri Sebut Tak Ada Penggelembungan Data Kependudukan

Headline / Sidang MK Ditutup saat Adzan Subuh Berkumandang

Headline / Sidang Ketiga, Akses Jalan Depan Gedung MK Tetap Dibuka

Daerah / Warga Pamekasan Deklarasi Tolak Kerusuhan


Baca Juga !.