Minggu, 16 Desember 2018 08:43 WIB

makanmakan

Ini Filosofi Rendang

Redaktur: Dani Tri Wahyudi

SEDAPNYA-Ilustrasi rendang.FOTO:IST

INDOPOS.CO.ID - Orang kebanyakan menyebut olahan daging ini dengan rendang. Namun makanan khas Minangkabau itu sebenarnya bernama asli randang.

Nama randang bukanlah nama yang muncul tiba-tiba. Ini merupakan sebuah proses yang dikenal dengan nama marandang. Marandang adalah sebuah proses memasak dan memiliki tahapan-tahapannya. Dalam marandang ada prosesnya gulai, kalio hingga menjadi randang. ''Jadi ini adalah proses karyanisasi bagaimana bahan-bahan yang digunakan dalam memasak randang. Itulah mengapa namanya randang karena hasil dari proses marandang,'' kata Andre Setiawan, SSTP, MPA, selaku Kepala Badan Penghubung Provinsi Sumatera Barat.

Andre mengatakan, proses marandang dengan segala bahan bakunya tidak hanya sebuah produk kuliner saja. Di balik randang ada filosofi dan budaya masyarakat sumbar yang melekat di dalamnya. Di dalam randang ada empat unsur utama.

Pertama adalah daging yang menggambarkan niniak mamak. Niniak mamak merupakan orang tua atau yang dituakan dalam lingkungan masyarakat adat Minangkabau di Sumbar. Yang kedua adalah santan yang mewakili cadiak pandai atau kaum cendikiawan yang merupakan khalayak pemikir. Yang ketiga adalah lada atau cabai yang mewakili alim ulama yang tegas dan fokus mengajarkan syariat agama di masyarakat.

Terakhir adalah bumbu-bumbu pelengkap randang yang banyak jenisnya. Ini semua kata Andre mewakili masyarakat Sumbar yang menjadi perekat keseluruhan. ''Filosofi ini memang jarang diketahui tidak hanya oleh masyarakat luar Sumbar bahkan di masyarakat Sumbar tidak seluruhnya tahu,'' jelasnya.

Oleh karena itulah melalui kegiatan Nusantara Marandang yang akan fi gelar di Gelora Bung Karno 2 Desember mendatang inilah Pemprov Sumbar akan memunculkan randang tidak hanya sebagai proses kuliner saja. Melainkan juga mereka ingin mengenalkan randang sebagai sebuah proses budaya. ''Karena dulunya randang ini tidak dijual banyak di masyarakat seperti sekarang ini. Biasanya dulu ada jenis-jenis randang. Dan jenis ini akan menyangkut dengan pada saat kapan randang itu bisa disajikan dalam proses adatnya. Semuanya akan berbeda,'' imbuhnya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rendang #filosofi #nusantara-marandang #gelora-bung-karno 

Berita Terkait

Yuk Icip Beragam Rendang dalam Nusantara Marandang

makanmakan

JK Tinjau Kesiapan GBK dan Wisma Atlet

Nasional

IKLAN