Headline

I Wayan Juliantara, Pembuat Sedotan Bambu yang Digandrungi di Luar Negeri

Redaktur: Juni Armanto
I Wayan Juliantara, Pembuat Sedotan Bambu yang Digandrungi di Luar Negeri - Headline

KARYA-Wayan Juliantara menunjukkan sedotan bambu yang diekspor ke luar negeri. YUYUN/LOMBOK POST/jpg

INDOPOS.CO.ID - Banjir sampah membuat pintu hati pemuda asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) I Wayan Juliantara terketuk. Dari keprihatinan terhadap persoalan tersebut, ia menggali kreativitasnya untuk memberikan solusi ’kecil’ bagi hidup manusia. Yakni, membuat sedotan bambu.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

BAGI sebagian orang, bambu kecil tidak ada manfaatnya. Yang banyak dimanfaatkan bambu berukuran besar. Tapi tidak bagi I Wayan Juliantara. Pemuda kreatif itu melihat dengan sudut pandang berbeda. Ia menyulap bambu kecil menjadi sedotan. Kreativitasnya itu bahkan mendapat pengakuan di luar negeri. Hingga mendatangkan pundi-pundi rupiah ke kantongnya.

Semua bermula dua tahun silam. Juli dan teman-temannya yang berprofesi sebagai pembuat souvenir berbahan kulit jagung mulai khawatir terhadap sampah plastik di tempat tinggalnya. Banjir sampah menjadi inspirasi. ”Inspirasi saya dari sana,” ujarnya.

Nekat menjadi modal awal. Ia kemudian membentuk komunitas Gumi Bamboo Lombok pada September 2016. Juli mengatakan, ide ini muncul karena manajemen sampah di Lombok kurang bagus. Terutama soal sedotan plastik.

Dirinya ingin menjadi bagian dari solusi untuk masyarakat. Agar mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara beralih dari sedotan plastik ke sedotan bambu. ”Bukan berarti dengan saya melalukan ini, masalah sampah di Lombok bisa teratasi. Tidak seperti itu,” terangnya.

Untuk mengembangkan Gumi Bamboo Lombok, Juli harus mencari para perajin bambu di ’Pulau Seribu Masjid’. Akhirnya, ia bertemu dengan komunitas perajin bambu dari Lombok Tengah. Tepatnya di wilayah Pemepek.

Awalnya, para perajin bambu hanya membuat kotak tisu, kotak pensil, dan semacamnya. Namun dirinya mencoba meyakinkan para perajin agar beralih membuat sedotan dari bambu.  ”Syukurnya mereka mau mencoba dan melihat hasilnya, kami bayar. Jadi kalau masyarakat sudah melihat hasil dan penghasilannya menjadi lebih semangat dan percaya,” terangnya.

Gayung pun bersambut. Gumi Bamboo Lombok akhirnya berkembang. Juli mengatakan, dari produksi sedotan bambu, dirinya ingin mengubah arah pekerjaan ibu-ibu di sana. Pasalnya, ibu rumah tangga di sana banyak yang bekerja sebagai pemecah batu. Setelah ia bersama teman-teman yang lain datang, mencoba menjelaskan penggunaan lain dari bambu, perlahan-lahan ibu-ibu tersebut beralih pekerjaan. ”Karena kalau dibandingkan dengan penghasilan sebelumnya, jauh sekali perbedaan. Pemecah batu setiap hari hanya kurang dari Rp 10 ribu saja,” tegasnya.

Upaya daur ulangnya yang tidak pernah terpikirkan itu, kini berkembang pesat. Saat ini, Juli telah bekerja sama dengan 13 perajin bambu. Dirinya tidak ’mengikat’ ibu-ibu tersebut. Namun sangat terbuka kepada siapa saja yang mau bekerja sama dengannya.

Karena kesuksesannya itu, Juli berhasil mengekspor produk sedotan bambu ke berbagai negara-negara di Eropa, Amerika, Australia, dan beberapa negara di Asia. Salah satunya Singapura. Bahkan, omzetnya kini mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Tapi bukan harta yang membuat Juli puas. Melainkan karena mampu memberi manfaat kepada orang lain. Terutama mengangkat derajat dan penghasilan ibu-ibu di kampung halamannya yang bermitra dengannya. Tak mudah agar bisa membuat sedotan bambu lebih primadona. Ia mengaku, sulit mengubah sikap masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan sedotan plastik. Terlebih masyarakat sudah dimanjakan dengan penggunaan sedotan plastik.

Masih banyak kalangan yang sanksi terhadap penggunaan sedotan bambu. Apalagi melihat harga jualnya, pikiran untuk mengubah prilaku tentu sangat sulit.

Untuk mengkampanyekan penggunaan sedotan bambu, Juli bekerja sama dengan beberapa komunitas pecinta lingkungan, termasuk di Kota Mataram, dirinya bekerja sama dengan pihak kantin Bale Ite.

Cara lain, Gumi Bamboo Lombok juga ikut berpartisipasi dalam seminar-seminar nasional, yang membutuhkan souvenir ramah lingkungan.  Juli memiliki impian. Dirinya ingin agar penggunaan sedotan bambu bisa masuk ke lingkungan sekolah-sekolah. Meski saat ini diakui akan sangat sulit. Tapi ia yakin kalu berhasil, efeknya akan sangat besar bagi lingkungan. Karena sekolah menjadi tempat berkumpulnya anak muda milenial penerus bangsa. ”Rencananya, kami akan memberikan gratis untuk sekolah-sekolah. Karena penjualan dari hasil ekspor bisa kami jadikan subsidi untuk kami berikan ke mereka,” jelasnya.

Sehingga nantinya, bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Dirinya juga ingin menyasar pengusaha rumah makan yang ada di Kota Mataram. Sebab penggunaan sedotan bambu bisa menghemat pengeluaran.

Bayangkan saja jika hanya membeli 30 sedotan bambu yang harganya hanya Rp 2 ribu, bisa menghemat pengeluaran. Bila dibandingkan menggunakan sedotan plastik. Tentu hal ini bisa mendatangkan keuntungan tersendiri bagi pengusaha rumah makan.

Tidak hanya dari segi ekonomi, yang dikerjakan Juli saat ini memberi dampak besar bagi lingkungan. Apalagi isu persoalan lingkungan kian marak saat ini. Hiu mati karena makan sampah. Lautan beralih fungsi menjadi tempat pembuangan akhir.

Walaupun sulit, Juli tidak berhenti bermimpi. Dengan  penuh keyakinan, pekerjaan Juli saat ini akan bermanfaat bagi generasi di masa depan. (r5/jpg)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.