Berawal Jatuh di Kamar Mandi, Lumpuh dari Leher ke Bawah

INDOPOS.CO.ID – Merantau di negeri orang sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) tentunya mengharapkan sesuatu yang lebih dapat dibawa pulang. Namun, kenyataan berkata lain. Musibah menerpa. Itu dialami Shinta Danuar. Mendapat perawatan selama empat tahun di Taiwan, Shinta diterbangkan ke Indonesia menggunakan fasilitas khusus emergency medical services (EMS) dengan pengawalan dokter dan perawat.

NASUHA, Jakarta
Tubuh perempuan berusia 26 tahun itu tergolek lemah di atas pembaringan. Dia harus menggunakan fasilitas khusus EMS yang dilengkapi dengan peralatan medis di tubuhnya. Sesekali Shinta hanya bisa menatap dan menganggukkan kepala dengan senyum tipis menghias bibirnya.

Saat Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita dan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid membesuknya di kamar ICU 1 lantai 3 RS Polri Sukanto Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (29/11).

Dari tatapan perempuan yang menyandang status singel parent, satu anak ini ada pesan yang ia ingin sampaikan. Tetapi itu semua sia-sia. Dia hanya bisa mengangguk saja ketika sejumlah pertanyaan dilontarkan Agus dan Nusron.

Tidak tanpa sebab Shinta harus menjalani hari-harinya dengan terbaring di atas tempat tidur. Empat tahun silam, tepatnya 31 Desember 2014 Shinta terjatuh di kamar tidur ketika hendak beristirahat. “Waktu itu dia mengeluhkan pusing di kepala kepada neneknya. Ketika hendak beristirahat, dia terjatuh. Saya dapat kabar tepat pukul 06.59 WIB,” ujar Suriyah, 52, ibunda Shinta Danuar ditemui INDOPOS di RS Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (2/12).

Ayah tiri Shinta, Ahmadi, 56, mengaku tidak sadarkan diri usai menerima kabar dari agency di Taiwan. Usai kejadian tersebut, Shinta berobat ke rumah sakit. Dari hasil diagnosa dokter memvonis Shinta mengalami sakit yang diakibatkan oleh virus pada sistem syaraf tulang belakang yang mengakibatkan kelumpuhan dari bagian leher ke bawah.

Karena masih menyandang PMI aktif, perempuan kelahiran Banyumas, 2 November 1992 pun mendapat perawatan di rumah sakit di Taiwan. “Selama perawatan di Taiwan, Shinta ditanggung oleh dua asuransi, Indonesia konsorsium Jasindo dan asuransi dari Taiwan,” terangnya.

Perempuan kelahiran Banyumas, 28 Mei 1966 itu menambahkan, sejak kecil Shinta tidak pernah sakit. Bahkan, diia belum pernah sakit sampai masuk rumah sakit. “Paling sakitnya ya pusing, minum obat beli di warung langsung sembuh,” ucapnya.

Suriah yang dikaruniai dua orang anak dari perkawinannya dengan Ahmadi ini melanjutkan, untuk mengobati rasa rindu dengan Shinta, dia kerap berkomunikasi melalui telepon selular. Itu pun dilakukan saat Shinta dikunjungi oleh sesama rekan PMI-nya. “Ya paling bisa video call. Kalau ada temen yang main ke tempat Shinta. Paling curhat “kangen”, kapan ya bisa pulang ke Indonesia,” ujarnya.

Suriyah menjelaskan, saat itu karena masih berada di rumah sakit di Taiwan, keluarga hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Shinta. Sesekali perempuan yang pernah menyandang janda tersebut beberapa kali menanyakan kabar Shinta ke Depnaker di Purwokerto, Jawa Tengah. Karen untuk membawa pulang Shinta harus melalui prosedur.“Usaha waktu itu, hanya bisa berdoa dan menanyakan ke Depnaker. Alhamdulillah sekarang Shinta sudah bisa dipulangkan ke Indonesia,” ungkapnya.

Suriyah hanya berharap ada pertolongan dari Tuhan untuk kesembuhan Shinta. Ia hanya pasrah, apalagi kondisi Shinta harus seperti itu. Karena, semua sudah menjadi garis hidup Shinta. “Kami hanya pasrah, kalau keadaan Shinta harus seperti itu. Karena semua sudah diatur oleh Tuhan,” katanya.

Setelah sembuh, Suriyah hanya ingin Shinta bisa lebih fokus merawat anaknya. Karena, kondisinya yang semakin tua untuk merawat cucunya. “Shinta jadi PMI karena ingin mencari uang untuk membesarkan dan masa depan anaknya,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid mengatakan, keberangkatan Shinta menjadi PMI di Taiwan secara prosedural. Shinta diberangkatkan ke Taiwan pada April 2014 lalu oleh PT. Sriti Rukma Lestari, dengan masa kontrak kerja dua tahun. Seharusnya kontrak kerja Shinta berakhir pada April 2017 lalu.“Nasib tidak bisa diduga, baru 8 bulan bekerja di Taiwan, Shinta sakit lumpuh,” ujarnya.

Selama mendapatkan perawatan di rumah sakit di Taiwan, menurut Nusron, biaya pengobatan ditanggung oleh asuransi. Namun hingga masa kontrak kerja Shinta berakhir penyakitnya tak kunjung sembuh, maka biaya pengobatan ditanggung oleh Kamar Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) dan asosiasi agency Taiwan. “Biaya besar, mereka bahu membahu dengan mengumpulkan uang untuk biaya Shinta selama di rumah sakit,” ungkapnya.

Nusron menjelaskan, pemulangan Shinta dilakukan atas dasar seizin dokter dan pihak keluarga. Selanjutnya Tim Kamar Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan memfasilitasi pemulangan dengan menggunakan fasilitas khusus EMS. Tidak hanya itu, Shinta mendapat pengawalan dari dokter dan perawat dilengkapi peralatan medis selama penerbangan dari Taiwan hingga ke Jakarta. “Kami lanjutkan perawatan Shinta di RS Polri di bawah pengawasan dari Kementerian Sosial (Kemensos),” terang Nusron.

Mantan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini menyebutkan, berdasarkan laporan dokter, kondisi Shinta mengalami kemajuan. Sehingga, sangat memungkinkan dibawa ke Indonesia. Namun, itu semua harus dengan persetujuan dari pihak keluarga. “EMS ini semacam ambulance di udara, karena Shinta tidak boleh lepas saluran pernapasan (ventilator). Setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga, Shinta diterbangkan ke Indonesia,” terangnya.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku setiap tahun memiliki tugas memulangkan PMI yang bermasalah di luar negeri. PMI bermasalah tersebut paling banyak berada di negara Malaysia. Sebagian dari mereka, menurut Agus, mengalami tindak pidana perdagangan manusia (human trafficking). “PMI bermasalah tersebut menyumbang angka penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS),” ujarnya.

Agus menyebutkan, akan memberikan support bantuan transportasi dan biaya hidup untuk keluarga Shinta selama di Jakarta. Kemudian, biaya pemulangan kembali bagi keluarga Shinta dan bantuan sosial jaminan hidup (jadup) di kampung halaman. “Untuk Shinta, apabila sudah sembuh akan kami siapkan modal untuk membuka usaha dari usaha ekonomi produktif (UEP),” katanya. Pada akhir perbincangannya Agus berjanji akan mengambil alih seluruh biaya pengobatan Shinta selama di RS Polri Sukanto Kramatjati. (*)

 

Komentar telah ditutup.