Sebelum Masuk Disurvei Dulu, Kesulitan Dapat Pengakuan Status

INDOPOS.CO.ID – Dari kelompok belajar, kini sekolah anak jalanan ini berubah nama menjadi sekolah alternatif anak jalanan (SAAJA). Pada 2017 sekolah ini porak poranda tertimpa pohon. Tapi berkat uluran tangan para donatur, sekolah bagi anak dari keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini berdiri kembali.

Sekilas ini dari luar bangunan ini tidak tampak seperti ruang untuk belajar. Bangunan semipermanen ini hanya beratap jerami dengan luas 9×12 meter. Di dalamnya hanya terdapat satu buah kipas angin dan satu white board (papan tulis) dengan lantai karpet yang sudah robek di sana-sini.

Sekolah alternatif anak jalanan (SAAJA) tidak hanya memiliki satu ruang untuk belajar. Satu lagi ruangan berada di belakang, dengan ukuran 9×10 meter. Sekolah khusus untuk anak jalanan ini juga dilengkapi taman bermain dengan ukuran 4×12 meter. Ada beberapa fasilitas untuk bermain anak, dari komedi putar hingga ayunan.

Saat INDOPOS menyambangi sekolah di bilangan Jakarta Selatan tersebut, mendapat sambutan meriah para peserta didik. Anak-anak yang tengah asyik bermain sontak berbaris rapi dan bersalaman saat pembinanya, Agus Supriyanto, 49, masuk dan memberitahu kedatangan koran ini. “Ayo berbaris yang rapi dan bersalaman,” ucap Agus Supriyanto sembari membimbing para siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) SAAJA ini.

Seperti magnet, kedatangan laki-laki kelahiran Sragen, 4 Agustus 1969 ini tak luput dari pelukan anak-anak yang berasal dari keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial ini. “Ayo anak-anak duduk yang rapi, kita bermain dan bernyanyi,” ujar Agus Supriyanto ditemui INDOPOS di SAAJA di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurut Agus, sekolah ini sejak pagi sudah ramai. Puluhan anak dari keluarga PMKS belajar di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Karena ruang belajar yang tidak mencukupi, maka waktu belajar PAUD dibagi menjadi tiga sesi. “Kami bagi 3 sesi, pagi ada 2 kelas, siang dan sore sebanyak 3 kelas.” bebernya.

Agus menjelaskan, anak-anak di kelas PAUD mendapatkan pendampingan bagaimana mengekspresikan diri, mengenal lingkungan hingga belajar baca dan tulis. Dalam sehari, PAUD SAAJA mengikuti waktu pembelajaran selama dua jam. “Satu kelas berisi siswa 15-20 siswa,” ucapnya.

Putera pertama dari empat bersaudara pasangan Wagimin Siswohartono, 70, dan Sukiyem, 60, ini mengatakan, kesulitan SAAJA saat ini adalah mendidik anak-anak jalanan agar tidak kembali ke jalanan. Karena, faktor lingkungan dan orangtua sangat menentukan. Untuk itu, menurut Agus, tugas SAAJA adalah membentuk karakter anak.

Selain itu, lanjut Agus, SAAJA melakukan pendekatan ke lingkungan dan keluarga. Dengan melibatkan mereka dalam kegiatan senam hingga kegiatan bilik pintar (Bilpi). “Mereka ini kan tinggalnya di permukiman di makam dan bahkan ada yang berpindah-pindah,” terangnya.
Agus menyebutkan, jumlah siswa PAUD SAAJA saat ini sebanyak 83 orang yang terbagi untuk kelas pagi sebanyak 49 siswa, siang dan sore sebanyak 34 siswa. Dengan usia rata-rata empat hingga enam tahun.

Untuk memperdalam pendidikan di jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), masih ujar Agus, SAAJA menyiapkan bimbingan belajar (bimbel) pada akhir pekan. Pada bimbel, peserta didik diberikan penguatan tentang mata pelajaran (mapel) matematika dan bahasa Inggris.“Dalam sehari peserta bimbel bisa mengikuti selama 4 jam dengan membagi peserta didik sesuai jenjang pendidikannya,” jelasnya.

Laki-laki lulusan manajemen dari Asmi ini menuturkan, ada enam tenaga pendidik tetap dibantu relawan-relawan dari perguruan tinggi di Jakarta untuk membantu proses belajar mengajar di SAAJA. “Biasanya kalau materi bimbel berdasarkan materi dari siswa, kemudian relawan akan membuat silabus untuk memperdalam materi saja,” ujarnya.

Agus mengatakan, SAAJA akan memberikan sertifikat bagi siswa PAUD yang sudah dinyatakan lulus. Mereka wajib mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) selama satu tahun. Sementara untuk siswa bimbel, hingga saat ini belum ada bentuk pengakuan kelulusan.

“Mungkin ini nanti bisa menjadi masukan kami, kalau bimbel di luar kan berbayar. Kami membuka bimbel secara gratis hanya kami meminta orangtua siswa untuk menjaga lingkungan SAAJA,” ujarnya.

Untuk belajar di SAAJA, menurut Agus, ada beberapa tahap harus wajib diikuti orangtua atau keluarga calon siswa. Setelah mengisi formulir pendaftaran, panitia yang terdiri atas para relawan dari perguruan tinggi akan melakukan survei ke tempat tinggal calon siswa. “Kami terima dengan pertimbangan, berasal dari keluarga tidak mampu dan khusus mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Kuota ini kami siapkan 2 persen,” terangnya.

Lebih jauh Agus menjelaskan, SAAJA didirikan tidak tanpa sebab di 1999 oleh pemberdayaan rakyat miskin (Param). Pada akhir perbincangan, Agus mengaku saat ini pihaknya kesulitan untuk memeroleh pengakuan status secara legal dari pemerintah. Maklum saja, lahan yang SAAJA tempati saat ini milik Badan Diklat DKI Jakarta. “Kami sudah berdialog dengan Badan Diklat untuk diberikan ruang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Rencananya akan kami teruskan ke gubernur DKI Jakarta,” pungkasnya. (*)

 

Komentar telah ditutup.