Indobisnis

Umat Buddha Gelar Upacara Agung Homa Atisa 2018

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge
Umat Buddha Gelar Upacara Agung Homa Atisa 2018 - Indobisnis

INDOPOS.CO.ID - Atisa Dipamkara adalah seorang pelajar yang ingin selalu mendalami boddichita. Atisa, pada usia 30 memutuskan datang ke Indonesia karena pada waktu itu Sriwijaya merupakan pusat pembelajaran agama Buddha. Ia mencari guru besar Darmakitri dari Svarnadipa (Sumatera), tepatnya di Jambi. Ia belajar lebih jauh tentang Buddhisme.

Selama 12 tahun (1013 – 1025) diajarkan Buddha Dharma di Muara Jambi oleh guru besar Dharmakitri dari Svarnadipa, Atisa kembali ke India dan menjadi kepala vihara di sekolah sebelumnya yaitu Universitas Monastik Vikramasila. Atisa lalu datang ke Tibet dan merangkum berbagai ajaran Buddha ke dalam sebuah karya yang dipelajari oleh banyak praktisi di seluruh dunia hingga saat ini. Salah satunya adalah Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipa), sebuah naskah panduan singkat yang terdiri dari 68 bait.

Karya ini memaparkan ajaran Buddha secara sistematis dan bertahap. Dharma berupa tulisan serta buku-buku yang ditulisnya sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama Buddha di Indonesia maupun di dunia. Atisa Dipamkara yang dikenal sebagai pemimpin agama Buddha True Buddha Indonesia 2 dari Tibet memiliki hubungan yang sangat erat dengan Indonesia.

Hal ini terlihat dengan ada garis spiritual geografis utara-selatan antara Stupa Borobudur di Indonesia dan Stupa Kumbum di Gyantse, Tibet. Atisa wafat di Nyetang pada 1054 pada usia 72 tahun. Memperingati seribu tahun kedatangan Atisa Dipamkara ke Indoneisa, umat Buddha Tantrayana Zen Fo Cong mengadakan Upacara Agung Homa Atisa 2018 pada 8 Desember 2018 yang dipimpin Dharma Raja Lian Sheng di ICE - BSD.
Dharma Raja Lian Sheng Pendiri True Buddha School atau Zhen Fo Zong dan mendapat panggilan sebagai Buddha hidup karena mempunyai rasa welas asih seperti seorang Buddha menolong seluruh insan. Dharma Raja Lian Sheng adalah seorang biksu yang bernama awam Sheng-yan Lu, lahir pada 1945 di Kota Chia Yi, Taiwan.

Ia adalah lulusan dari Fakultas Geodesi, Institusi Teknologi Chung Cheng Taiwan. Dalam Buddhisme Sutrayana, Dharma Raja Lian Sheng secara berurutan bersarana kepada Mahabhiksu Yin-shun, Bhiksu Le-guo dan Bhiksu Dao-an. Ia menerima Bodhisattva-sila di VIhara Bi-shan, Nantou Taiwan, Guru Pemberi Vinaya adalah Bhiksu Xian-dun, Bhiksu Hui-san dan Bhiksu Jue-guang.

Guru Ritual adalah Bhiksu Shan-ci dan Bhiksu Shang-lin. Dalam Vajrayana, bersarana kepada Karmapa Ke 16, Rangjung Rigpe Dorje, dari Sekte Karma Kagyu. Kemudian dari Gelugpa adalah Acarya Tubten Dhargye . Dari Sakyapa adalah Acarya Sakya Zeng-kong ( Dezhung Rinpoche ). Dari Nyingmapa adalah Bhiksu Liao-ming. Selain itu ia juga bersarana kepada Acarya Pu-fang dari Vihara Zong-chi.

(*catatan : Acarya Rangjung Rigpe Dorje hanya memberikan abhiseka bersarana dan tidak mentrasmisikan ke seluruh sadhana tantranya.) Sejak 1982, ia pindah dan menetap di Seattle Amerika, dan kemudian mulai memutar Dharmacakra Tantrayana untuk menuntun para insan, menyelaraskan Pintu Dharma Tantrayana yang mendalam dan langka supaya menjadi Pintu Dharma Anuttara yang mudah diterapkan, mudah dipelajari, dan dipahami oleh para insan pada zaman sekarang. Ia membabarkan dharma satya Buddha melalui karya tulis, lukisan dan Dharmadesana.

Bentuk Boddhicita yang ia tuangkan adalah ke dalam bentuk penulisan buku yang saat ini telah masuk penulisan yang ke-270. bahkan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Semua bukunya disimpan dalam American Library of Congress. Dunia penerbitan Jepang memujinya sebagai ‘Suciwan Tionghoa Masa Kini’. Dharma Raja Lian Sheng dijuluki juga sebagai yang paling utama dalam membabarkan dharma melalui karya tulis. Dharma Raja Lian Sheng juga menggunakan lukisan sebagai media pembabaran Dharma, sampai saat ini karya lukisnya telah terkumpul dalam 9 album katalog.

Setiap hari Dharma Raja Lian Sheng membabarkan Dharma tanpa henti, mulai 1990 sampai saat ini sudah tak terhingga banyaknya Dharmadesana yang telah diedarkan dalam bentuk buku, kaset rekaman, VCD, dan DVD. Selain itu, ia juga turut hadir dalam upacara-upacara Buddha serta turun langsung membantu umat yang membutuhkan. Welas asihnya yang telah menolong para insan mencapai pencerahan serta membebaskan dari penderitaan, dan juga menyampaikan pesanpesan cinta kasih secara universal tanpa memandang suku dan agama. (adl)

 

Berita Terkait


Baca Juga !.