Internasional

Beli Bekas Gereja Tua untuk Ibadah

Redaktur: Juni Armanto
Beli Bekas Gereja Tua untuk Ibadah - Internasional

Bekas Gereja - Masjid Dee Why yang berada di Sydney, Australia. Faris Bawazier, selaku ketua Dewan Masjid Dee Why. Foto : Insert

INDOPOS.CO.ID - Mencari Masjid Dee Why yang berada di Sydney, Australia. Faris Bawazier, selaku ketua Dewan Masjid Dee Why.*Perkembangan Komunitas Muslim Indonesia di Australia (3)Beli Bekas Gereja Tua untuk IbadahSebuah gereja disulap menjadi masjid. Cara itu dilakukan Komunitas Muslim Dee Why di Sydney untuk beribadah. Komunitas muslim yang sebagian besar Warga Negara Indonesia (WNI) itu menjawab kerinduan bisa beribadah di rumah Allah.Dilianto, Sydney, Australia Mencari Masjid Dee Why tidak sulit.

WNI yang bermukim di Sydney, Australia paham lokasi masjid yang berada di Jalan 12 S Creek RD, Dee Why NSW, 2099. Pasalnya, masjid itu termasuk salah satu yang terbesar dan dapat menampung banyak jamaah. Ini khususnya warga Indonesia yang ada di suburb Dee Why.

”Insya Allah kalau warga Indonesia di Sydney tahu lokasi Masjid Dee Why. Terlebih yang tinggal di suburb sini orang Indonesia jumlahnya bisa seratusan. Sedangkan masjid ini bisa menampung sampai 500 jamaah,” kata Faris Bawazier,  ketua dewan Masjid Dee Why kepada wartawan INDOPOS yang pada pekan  lalu mengunjungi Australia.

Jauh sebelum ada masjid, Faris menuturkan, warga muslim Indonesia harus menyewa salah satu ruangan gereja untuk beribadah. ”Tiap Salat Jumat,  kami umat Islam, khususnya warga Indonesia saling berpatungan untuk menyewa ruangan gereja. Dan pastinya ruangan itu sudah dibersihkan dari segala ornamen gereja,” ucapnya.

Aktivitas menyewa ruangan gereja itu dilakukan selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya para anggota komunitas muslim Dee Why pun berinisiatif mengumpulkan dana untuk memiliki rumah Allah sendiri. Ini agar tidak repot saat salat berjamaah.

Tepat pada 1989, Faris dan kawan-kawan akhirnya melihat sebuah gereja tua dijual karena sudah tak lagi digunakan untuk tempat ibadah. ”Ada gereja Kristen Protestan yang menaruh plang dijual. Gereja tua yang bangunannya terbuat dari papan dan sudah ditinggalkan oleh jemaatnya. Bermodal uang kas AUD 180 ribu atau setara Rp 1,85 miliar, maka alhamdulillah kami berhasil membeli bangunan tersebut,” ujar Faris menceritakan awal mendirikan Masjid Dee Why.

Namun, setelah dibeli, masjid belum bisa menampung banyak jamaah. Bekas gereja itu perlu dipugar. Namun, Faris dan jamaah lainnya tetap memanfaatkan bangunan itu sebagai tempat salat berjamaah. ”Yang terpenting saat itu kami bisa Salat Jumat dengan minimal jamaah 40 orang,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, komunitas muslim Indonesia Dee Why kembali menggalang dana untuk merenovasi bangunan agar bisa memuat jamaah lebih banyak. ”Alhamdulillah berbekal penggalangan dana AUD 20 (sekitar Rp 210 ribu, Red) per minggu dari setiap jamaah,  akhirnya pada 2000 kami mulai melakukan pembangunan. Dan pada tahun itu juga masjid sudah mulai bisa digunakan,” ucapnya.

Kini, masjid dengan bangunan permanen dua lantai yang luas tanahnya 800 meter per segi itu bisa dinikmati warga di Sydney. Bukan hanya warga Indonesia, umat Islam dari berbagai negara juga ikut beribadah di Masjid Dee Why. ”Ada warga Libanon, Turki, Bangladesh dari Afrika, dan lain-lain juga banyak menjadi jamaah di masjid ini,” ujar Faris.

Di masjid ini pula, sejumlah aktivitas dakwah juga rutin dilakukan tiap hari.  ”Ada sekolah Alquran yang kami peruntukan dari anak-anak hingga dewasa. Dan ada pula kelas Alquran untuk ibu-ibu,” tuturnya.

Kegiatan lainnya adalah Tabligh Akbar. Selama empat tahun terakhir, komunitas ini sudah banyak mendatangkan ustad kondang dari Indonesia. ”Ada Ustad Khalid Basalamah,  Ustad Subhan Bawazier ada Abu Zubar dari Riau,  dan masih banyak ustad lainnya yang langsung datang dari Indonesia,” ungkapnya.

Jika Iqro Foundation melakukan pembinaan anak didiknya dengan membentuk klub bola, lain halnya dengan komunitas muslim Dee Why.  Kata Faris, komunitas ini melakukan pelatihan olahraga berkuda dan memanah. Mengikuti ajaran dan pribadi Nabi Muhammad SAW.”Kami ingin mengajarkan generasi muslim Indonesia di Dee Why ini dengan olahraga yang disukai Rasulullah. Dan rutin pula kami adakan berkemah untuk remaja. Ini biar mereka menjadi generasi muslim yang tangguh,” tegasnya.

Lalu, apa manfaat keberadaan komunitas atau masjid ini bagi warga lokal? Menurutnya, setiap Idul Fitri atau Idul Adha,  pengurus masjid juga ikut memberikan sedikit bingkisan kepada warga sekitar. ”Ya ada beberapa rumah yang kerap kami berikan bingkisan kepada warga nonmuslim di sekitaran masjid, khususnya para orang tua atau jompo.  Dan mereka mengaku bersyukur atas kegiatan ini,” jelasnya.

Dampaknya warga sekitar, mau memberikan toleransi kepada warga muslim untuk beribadah di Masjid Dee Why. Bahkan, ikut menjaga mobil milik jamaah saat beribadah di sana. ”Jika ada warga yang komplain karena merasa terganggu dengan keberadaan masjid, terutama mobil yang terparkir di depan rumahnya, maka negara bisa mencabut izin masjid di masa percobaan beberapa waktu lalu. Dan alhamdulillah tidak ada komplain dari warga sekitar,” terang pria yang sudah menetap di Negeri Kangguru sejak 28 tahun silam.

Bahkan, terang Faris, ketika ada aksi pemasangan pamflet yang menghina agama Islam, justru warga di sekitar Masjid Dee Why memberitahukan kepada pengurus masjid. ”Tapi warga sinilah yang justru memberitahukan perihal protes itu kepada kami. Dan mereka pula yang turut menjelaskan bahwa kami umat Islam adalah orang baik,” tuturnya.

Masjid Dee Why juga telah menjadi saksi bisu atas sembilan warga lokal yang menjadi mualaf. ”Alhamdulillah selama empat tahun saya menjadi ketua dewan masjid, ada sembilan warga yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid ini. Ada yang kesadaran sendiri,  adapula mualaf karena pernikahan,” tutupnya. (bersambung) 

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Cerita Duka Rombongan Maut di Tol Cipali

Megapolitan / Pangkalan Ojol Pun Jadi Tempat Mengais Rezeki Pedagang Lainnya

Megapolitan / Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran

Megapolitan / Teguh Sri Suseno Biasa Dipanggil Mbah Rejo, Si Pawang Hujan


Baca Juga !.