Jakarta Raya

Disebut Kota Toleran Rendah, Anies Meradang

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Disebut Kota Toleran Rendah, Anies Meradang - Jakarta Raya

Foto : Dok. INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Hasil riset Setara Institute mengenai kota toleran 2018 berbuntut. Penyebabnya, Jakarta ditempatkan pada urutan ke-92, dari 94 kota yang diamati. Itu secara tidak langsung menyebutkan Ibu Kota Indonesia merupakan kota yang tidak toleran.

“Hasil riset Setara Institute yang menempatkan Jakarta kota toleran nomor 92 kami pikir terlalu berlebihan. Sehingga tidak salah banyak yang meragukan riset tersebut,” ujar Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Jakarta (PPJ) Muhlis Ali pada INDOPOS, Senin (10/12).

Muhlis mengatakan, pihaknya sudah lama melakukan penelitian mengenai toleransi di Jakarta. Hasilnya, Jakarta adalah kota yang cukup toleran. Salah satunya terbukti di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Penghuninya berasal dari berbagai macam suku. Mulai Madura, Jawa, Banten, Tionghoa, dan masih banyak lagi. Namun, kerukunan sealu saja terpeliharan dengan baik. “Sehingga riset Setara Institute kami pikir perlu untuk dikaji lebih dalam lagi,” katanya.

Lebih lanjut kata Muhlis, jika dasar riset dari Setara Institute adalah peristiwa politik seperti pilkada atau pilpres, tentu hal itu tidak dapat menjadi ukuran menentukan sebuah kota toleran atau tidak. Perbedaan pilihan dalam kompetisi politik yang kerap menimbulkan adanya dua kubu, bukanlah bentuk tidak toleran melainkan sesuatu yang wajar dalam suasana kompetisi.
“Pilkada atau pilpres itu menggambarkan demokrasi. Kalau Setara Institute menilai itu intoleran, bisa-bisa Indonesia jika dilakukan riset secara keseluruhan saat pilpres juga akan disebut tidak toleran. Tapi hal itu kan tidak. Jadi apa yang dikeluarkan Setara Institute perlu diteliti ulang,” jelasnya.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta Setara Institute membuka data kuesioner dalam survei indeks kota toleran 2018. Setara merilis Jakarta berada di urutan rendah kota toleran.

"Saya ingin baca nanti studinya, studi apapun kita harus baca supaya kita ketahui dan saya menganjurkan kepada Setara untuk mengumumkan daftar pertanyaanya kepada publik, kuesionernya, seluruh kuesionernya," kata Anies kepada wartawan.

Data mengenai kuesioner harus dibuka untuk mengetahui ragam pertanyaan dalam survei indeks kota toleran. Dia meminta Setara Institute mau mempublikasikan daftar pertanyaan survei kepada publik.

"Karena bisa saja pertanyaan itu disusun untuk mendapatkan jawaban tertentu. Misalnya gini, Anda seorang muslim saya tanya apakah anda salat 5 waktu? Cenderung menjawab iya, betul kan. Jadi pertanyannya pun juga harus diuji," ujar Anies.

Selain itu, Anies meminta ahli statistik ikut menghitung indeks yang dikeluarkan Setara. Ini menurut Anies untuk memastikan indeks yang dikeluarkan Setara bersifat valid.

"Dan saya mengundang kepada para ahli statistik, ahli pengukuran ilmu sosial untuk mereview instrumennya, memastikan bahwa validitas, reliabilitas dalam instrumen itu valid," kata Anies.

"Mengapa penting ahli statistik, supaya kita bisa mendapatkan hasil, kebijakan-kebijakan kita bisa kita rumuskan dengan benar. Kalau alat ukurnya benar kebijakan yang dilakukan terapinya benar juga. Tetapi kalau alat ukurnya tidak benar, nanti langkah kita jadi salah juga," sambungnya.

Terpisah, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan masalah toleransi jadi hal yang penting di Indonesia. Sebab, Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa radikalisme dan terorisme.

"Ini penting sekali tantangan bangsa ini bukan masalah sandang, papan, dan pangan. Itu selesai lah. Kuncinya adalah tantangan masalah radikalisme dan teroris. Ini ancaman bangsa paling berat sekali," kata Tjahjo.

Dia mengatakan, tantangan itu bukan semata-mata tanggung jawab TNI-Polri. Menurutnya, masalah radikalisme dan terorisme jadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia."Kita harus melakukan perlawanan pada anti-Pancasila. Itulah lawan kita," ujar Tjahjo.

Sebelumnya Ketua Setara Institute Hendardi memberi penjelasan mengapa Jakarta berada di urutan buncit kota toleran terendah. Jakarta, menurut Hendardi, menjadi pusat pemerintahan, sehingga terjadi berbagai macam dinamika politik.

"Itu yang menyebabkan apapun, Jakarta tidak mudah menjadi kota yang toleran. Kendati begitu, tetapi bukan tidak ada pemimpin yang berusaha menjadikan Jakarta sebagai kota yang sangat heterogen ini menjadi kota yang juga sangat toleran. Namun masih ada banyak hambatan macem-macem," kata Hendardi di Hotel Ashley, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (7/12). (wok)

Berita Terkait

Megapolitan / Tim Tata Kelola Air akan Datangi KPK

Megapolitan / Gara-Gara Banjir, Anies dan Ahok Berbalas Pantun

Megapolitan / Kendalikan Banjir di Jakarta, Anies Beberkan Solusi Ini

Megapolitan / Berharap Kawasan TOD Memudahkan Angkutan Antarmoda

Megapolitan / Anies Janji Bakal Bangun Banyak Kolam Retensi

Megapolitan / Anies Jatuh Cinta dengan Vespa sejak Muda


Baca Juga !.