Faktor Kebijakan Global ikut Pengaruhi Produksi Kelapa Sawit Nasional

INDOPOS.CO.ID – Ketua Forum Karya Sawit Indonesia (Forkasi) Dedi Zarkasih menyebut, ada beragam faktor yang menyebabkan perkebunan subsektor kelapa sawit lesu. Kurangnya pemerintah dalam mendorong peningkatan komoditas ini tak bisa dianggap sebagai kesalahan secara menyeluruh.

Menurutnya, kondisi global sangat penting untuk diperhatikan di mana saat ini terjadi tekanan pasar global terhadap komoditas sawit. Akibatnya, harga kelapa sawit anjlok jika dilakukan ekspor. Tak ayal, kondisi ini mempengaruhi tingkat penerimaan dan pengeluaran yang diterima petani kelapa sawit.

“Harga kelapa sawit di pasaran dunia anjlok. Ketika ekspor maka harga hasil produksi petani tentu harus disesuaikan dengan nilai pasar dunia,” kata Dedi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Ia beranggapan, ketika nilai tak sebanding maka berdampak kepada produktivitas petani perkebunan kelapa sawit sebab dianggap kurang menguntungkan.

Dedi juga mengungkapkan bahwa kampanye negatif terhadap perkebunan kelapa sawit Indonesia yang dilakukan bangsa asing turut membuat kesulitan ekspor. Sebab, pembatasan komoditas sawit dalam perdagangan dunia sangat ketat.

Kondisi lainnya, Dedi sebut seperti ketersediaan lahan perkebunan kelapa sawit yang selama ini masih belum normal. Masih banyak lahan di luar hak guna usaha (HGU) dicaplok perusahaan swasta yang jelas melanggar hukum.

“Jadi tanah untuk rakyat, petani kelapa sawit amat minim. Untungnya saja sudah diterapkan reforma agraria dan perhutanan sosial sehingga mulai ada kejelasan untuk lahan garapan petani perkebunan,” ungkap Dedi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa nilai tukar petani (NTP) per November 2018 mengalami penurunan. NTP perkebunan per November berada di angka 95,59.

Menurunnya NTP perkebunan disebabkan antara lain faktor merosotnya ekspor kelapa sawit sehingga ikut menekan harga jual di kalangan petani. (jaa)

Komentar telah ditutup.