Liga Indonesia

Baru Disidangkan Komdis PSSI

Redaktur: Riznal Faisal
Baru Disidangkan Komdis PSSI - Liga Indonesia

LAWAN LAIN-Pemain PSIM Jogja Ismail Haris dikepung empat pemain Persegres Gresik United dalam pertandingan Liga 2 di Stadion Sultan Agung, Bantul, kemari (9/9). PSIM Jogja menang dengan skor 1-0. foto : Guntur Aga Tirtana/RAdar Jogja

INDOPOS.CO.ID – Sanksi berat sudah menanti suporter PSIM Jogjakarta atas insiden kerusuhan ketika timnya melawan PS Tira di Stadion Sultan Agung, Bantul, Selasa (11/12). Bukti rekaman dan fakta pertandingan sudah dikantongi Komisi Disiplin PSSI. Begitu juga terkait perilaku pemain PS Tira yang ikut-ikutan ‘rusuh’ menyerang suporter lawan dalam pertandingan tersebut.

Wakil Komdis PSSI Umar Husein belum mau bersprekulasi terkait sanksi apa yang akan dijatuhkan. Baik itu untuk suporter PSIM, panpel pertandingan, hingga pemain PS Tira yang ikut dalam kerusuhan. ’’Tinggal menunggu hasil sidang komdis. Rencananya akan digelar kamis (13/12) besok,’’ paparnya.

Itu artinya hari ini Komdis baru akan memulai melakukan rapat dan memutuskan sanksi. Namun, Umar tidak mau membenarkan hal tersebut. Mengenai sanksi dan hukuman banyak aspek yang harus didapat terlebih dahulu.

“Yang jelas benar-benar disayangkan bisa terjadi kericuhan seperti itu. Untuk lebih lanjut saya akan konfirmasi setelah hasil sidang keluar,” katanya.

Jika merujuk pada Kode Disiplin PSSI, keributan di Stadion Sultan Agung tersebut harusnya baik PSIM dan PS Tira harus dikenai sanksi. Misalnya saja pada pasal 57 yang bisa dijatuhkan kepada Laskar Mataram. PSIM dan suporternya terbukti membuat jalannya pertandingan terhenti. Denda Rp 100 juta sudah terbayang akan dijatuhkan kepada tim.

Denda itu bisa bertambah mengingat suporter PSIM tidak hanya membuat pertandingan terhenti saja, juga tindakan diskriminatif. Karena itu, pasal 60 ayat 2 bisa diberikan. Denda RP 450 juta juga mengancam PSIM dari Komdis.

Belum lagi ancaman larangan menyaksikan tim idolanya bertanding juga sudah pasti dijatuhkan. Berkaca pada beberapa kasus kerusuhan di sepak bola Indonesia, yang terbaru adalah Persita Tangerang melawan Kalteng Putra pada perebutan tempat ketiga Liga 2. Suporter Pendekar Cisadane –julukan Persita- dilarang menonton timnya sebanyak 5 kali akibat turun ke lapangan dan mencoba mengejar pemain Kalteng Putra.

Untuk panpel, pelanggaran pasal 68 terkait tanggung jawab pelaksana pertandingan bisa diberikan. Terbukti, pada pertandingan tersebut panpel tidak bisa memberikan rasa nyaman, baik kepada kedua tim ataupun penonton yang hadir. Denda Rp 20 juta jadi nilai minimum untuk pelanggaran tersebut.

Sementara, untuk pemain PS Tira yang terlibat keributan, hukuman juga siap menanti. Sanksi larangan bertanding mulai dari 1 bulan hingga seumur hidup bisa dijatuhkan. untuk denda sendiri sesuai dengan pasal 53 terkait tingkak laku buruk tim, Rp 100 juta sudah wajib dibayar.

“Komdis harus benar-benar jeli, tidak melihat video pertandingan yang sedikit itu. Harus lihat secara keseluruhan. Kalau kami memulai duluan harus terima tapi ini bukan kami yang mulai. Mereka yang harus kena sanksi bukan kami,’’ tegasnya.

Anggota Exco PSSI Yoyok Sukawi menegaskan peristiwa di Bantul itu merupakan buntut dari isu pengaturan skor yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Akibatnya, suporter sudah tidak ada rasa percaya lagi terhadap wasit ataupun hasil dari sebuah pertandingan. ’’Setiap ada pertandingan yang krusial, yang kalah merasa dikalahkan oleh pengaturan skor. Ini PR panjang bagi kami untuk menyelesaikannya,’’ jelasnya.

Dia menegaskan PSSI akan segera memberantas hal tersebut. Komite AdHoc juga akan segera dibentuk yang secara khusus bakal memberantas permasalahan pengaturan skor. “Kami masih menyelaraskan dengan statuta FIFA. Disesuaikan agar sesuai dengan FIFA,’’ paparnya. (rid/jpg)

 

Berita Terkait

Hukum / Sengketa Kantor Pusat PSSI Berakhir

All Sport / Asprov Kecewa Janji Bantuan PSSI Belum Cair

Indosport / PSSI Utang Rp 4,5 M, Exco: Bukan Hal yang Tabu


Baca Juga !.