Headline

Setiap Perempuan Adalah Ibu Bangsa

Editor: Juni Armanto

INDOPOS.CO.ID - Terdapat peran seseorang yang mengorbankan hidupnya untuk keluarganya. Dialah ibu. Hari ini, seluruh Indonesia memperingati sosok yang melahirkan dan mengasuh setiap individu di dunia.

Dalam sejarah, ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu karena digelarnya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada 1928. Lalu di ulang tahun Kowani ke-25, Presiden Soekarno pun menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Ibu.

Kini, pada peringatan 90 tahun, Hari Ibu tidak sekadar catatan sejarah. Tapi juga pergerakan perempuan-perempuan di Indonesia. Sekaligus refleksi terhadap hubungan anak dengan ibu.

INDOPOS menggali lebih dalam makna Hari Ibu terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Eksistensi peran ibu dalam kehidupan pun menjadi lebih sentral. Kini, ibu tidak hanya sosok yang melahirkan, menyusui atau mengasuh dan membesarkan. Tapi juga memberi nafkah, mengambil keputusan, hingga memberi prestasi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan, ibu adalah motor penggerak sekaligus agen perubahan bangsa ini. ”Pada era saat ini, peringatan Hari Ibu diharapkan dapat mendorong kemajuan perempuan sebagai sumber daya manusia yang mengisi pembangunan,” kata Yohana Yembise.

Peran seorang ibu menurut Yohana tidak lagi sekadar mengurus, tapi mampu menjaga ketahanan keluarga. Maraknya isu kekerasan seksual, radikalisme, intoleransi hingga penggunaan narkoba menjadi ancaman serius terhadap masa depan bangsa ini. Nah, menurutnya sosok penting untuk bisa menanggulangi persoalan itu adalah ibu.Menurut Yohana, peran seluruh perempuan Indonesia sebagai ibu bangsa yang mampu menghasilkan generasi penerus yang dapat diandalkan.

”Ibu bangsa juga harus mampu menghadapi dinamika global. Tidak hanya berperan bagi keluarganya saja. Perempuan harus berperan bersama lingkungannya demi membangun bangsa. Berdayakan perempuan, maka ia akan melahirkan generasi bangsa yang andal, menjadi  pilar yang kokoh bagi negara dan mitra yang dapat diandalkan,” urainya. 

Peringatan Hari Ibu ini, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo pun mengajak seluruh perempuan di Indonesia membangkitkan semangat jiwa dan raganya. Menurut Giwo, ibu bangsa ada pada setiap perempuan di Indonesia. ”Wanita sebagai Ibu Bangsa sangat dibutuhkan. Perhatiannya tidak lagi hanya untuk internal keluarga, tapi lintas binaan,” katanya.

Dia menjelaskan, tugas ibu bangsa bisa diemban dan diperankan oleh semua perempuan. Baik mereka yang sudah melahirkan, atau belum melahirkan. ”Mereka punya ketrampilan, profesional, mandiri, bermartabat, kreatif, berdaya saing, visioner, berkarakter, berani dan sekaligus menjadi guru yang pertama dan utama,” bebernya.

Ia mengatakan, tidak mudah menjadi ibu bangsa, apalagi di zaman ini. Ibu bangsa paparnya harus siap menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Untuk itu, era sekarang, dibutuhkan perempuan yang multitalenta.

Politikus perempuan sekaligus anak dari Presiden Sokarno, Rachmawati Soekarno Putri lebih menyoroti adanya ketidakadilan sosial untuk kehidupan masyarakat. Terutama bagi perempuan. Dari sudut pandangnya, masih terjadi ketimpangan ekonomi terutama bagi perempuan yang telah berumur.

Untuk itu, diperlukan perubahan terutama dari sektor ekonomi agar kehidupan perempuan di Indonesia jauh lebih baik. ”Jadi Hari Ibu saat ini sesuai refleksi perjuangan emak-emak untuk perbaikan negeri,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menjelaskan kolaborasi antara pengambil kebijakan dengan implementasi di lapangan sudah semakin baik.

Pentingnya memperjuangkan kepentingan perempuan pada kebijakan publik menurut salah satu Presidium Kaukus Perempuan Parlemen Politik Republik Indonesia (KPPRI) ini adalah karena setiap aspek kehidupan merupakan bagian politik. ”Menjadi ibu itu juga politis,” katanya saat diwawancarai INDOPOS beberapa waktu lalu.

Banyak hal berhubungan dengan kehidupan ibu yang menurutnya saat berkaitan dengan kebijakan publik. Semisal aturan soal tempat menyusui di tempat umum, atau aturan cuti hamil dan melahirkan. Semua itu terangnya, adalah bagian-bagian dari kehidupan ibu yang sejatinya beririsan dengan kegiatan politik. ”Atau yang sedang diperjuangkan adalah Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Semua itu kan berkaitan dengan kehidupan seorang ibu yang perlu kita sadari,” jelasnya.

Namun, ibu empat anak ini menyayangkan banyak yang belum sadar terhadap hal itu. Untuk itu perlu refleksi yang lebih dalam terhadap keputusan politik dengan kehidupan seorang ibu.

Berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai seorang politikus dan seorang ibu, Hetifah sadar benar bahwa banyak kepentingan seorang perempuan yang belum bisa dipenuhi. Apalagi ketika seorang ibu ingin melanjutkan pendidikannya.Susahnya menjadi seorang ibu sembari melanjutkan pendidikan dirasakan benar olehnya. ”Tidak mudah bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan. Karena akan sangat sulit menghidupkan diri dan empat anak sembari sekolah,” jelas perempuan yang mendapat gelar doktor di Flinders University, Adelaide, Australia. Untuk itu, aturan terhadap mendapat beasiswa dari pemerintah bagi seorang ibu ucapnya juga perlu diperbaiki.

Dia menerangkan perlu dorongan lebih massif agar kebutuhan ibu jadi bagian dari kebijakan publik. Sebab, banyak persoalan di dalam keluarga yang sejatinya berhubungan dengan urusan negara. ”Kini perlu dipikirkan ketahanan terhadap keluarga. Karena ini berkaitan sama sumber daya manusia kita. Ini persoalan yang besar sekali bagi Indonesia,” tandasnya. (dil/nel/nas/rio/ant)

Berita Lainnya kan