Jakarta Raya

Uang untuk Istri, Tak Mau Makan Siang di Luar

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Uang untuk Istri, Tak Mau Makan Siang di Luar - Jakarta Raya

BUKAN HALANGAN - Sekitar setahun ini Iwan menjalani profesi sebagai pengemudi ojek online disabilitas. Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Sudah sekitar setahun Kartiwan menjadi pengemudi ojek online (ojol). Disabilitas yang dialami pria yang akrab disapa Iwan itu, bukan halangan. Setiap hari menghabiskan waktu mengirim paket hingga ke luar Jakarta.

Ojek online menjadi kegiatan sehari-hari. Itulah Iwan mengisi hari-harinya sekitar setahun terakhir ini. Tinggal di bilangan Malaka Sari, dia menyewa sepetak rumah bersama istri tercintanya. Setiap hari, pria berusia 39 tahun itu, sudah bersiap menjalani pekerjaannya mengantar barang ke konsumen.

Dengan setia, istri yang juga penyandang disabilitas mempersiapkan kebutuhan Iwan selama satu hari. ’’Pagi paling saya siapkan sarapan sama bekal makan siang,’’ ujar Julis Jumiati, 38, istri Iwan ditemui di kediamannya di Malaka Sari, Jakarta Timur, Rabu (26/12). Tak lupa, perempuan kelahiran Jakarta, 20 September 1980 ini juga menyiapkan keperluan Iwan untuk mandi. Wajar, Iwan kerap pulang hingga larut malam.

Bekal makan memang selalu disiapkan. Bukan tanpa sebab. Karena Iwan lebih memilih tidak makan siang apabila harus makan di luar. ’’Dia (Iwan) tidak mau makan siang, kalau tidak masakan istri. Jadi kalau tidak dibekali, maka ia tidak makan siang di luar. Alasannya uang untuk istri, padahal sudah saya nasihati kalau tidak bawa bekal dari rumah harus makan siang di luar,” terangnya.

Putri keempat dari sepuluh bersaudara pasangan Hadi Sukarso, 63, dan Endang Sukowati, 65, ini mengatakan, Iwan lebih nyaman dengan profesinya sekarang sebagai ojek online. Selain perolehan pendapatan cukup, menurutnya, waktunya relatif fleksibel.“Kalau berangkat selesai sarapan saja. Enggak harus pagi sih, kadang jam 09.00 WIB,” ungkapnya.

Sebelum menjadi pengemudi ojek online, dikatakan Julis, Iwan pernah menjadi karyawan perusahaan jasa pengiriman. Di perusahaan tersebut Iwan bekerja selama 10 tahun. “Di ojek online Mas Iwan lebih senang, karena di perusahaan yang lama uangnya tidak kelihatan,” ujarnya.

Julis menyebutkan, setiap hari Iwan kerap mengambil order pengiriman barang ke luar Jakarta. Seperti ke Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Setiap pengiriman, lanjutnya, bisa mencapai tujuh pengiriman barang. “Mas Iwan menjadi pengemudi ojek online pengiriman barang untuk someday, bukan yang ekspres,” ucapnya.

Kepada INDOPOS Iwan, 39, bercerita baru menjalani profesi sebagai ojek online setahun lalu. Dia memilih profesi tersebut lantaran lamarannya ditolak oleh pacarnya. Hingga akhirnya dia mendapatkan istri Julis Jumiati. “Dulu sebelum berkeluarga dengan Julis saya punya pacar, tapi lamaran saya, ditolak karena saya berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Lantaran penolakan tersebut, Iwan kemudian berusaha keras untuk membeli kendaraan bermotor. Ini untuk membuktikan kepada sang mantan, bahwa dia bisa bekerja walaupun berkebutuhan khusus. “Akhirnya saya punya motor, dan saya modifikasi habis Rp 10 juta. Saat itu, saya ketemu lagi sama mantan dan kami balikan lagi,” ungkapnya.

Menurut pria kelahiran Jakarta, 17 Mei 1979 ini, usahanya untuk menarik hati sang mantan berhasil. Namun, usahanya tersebut tidak mendapatkan restu dari keluarga. “Ya sudah dari pada saya galau, saya iseng daftar jadi ojek online,” katanya.

Usahanya membuahkan hasil. Putra pertama dari enam bersaudara pasangan almarhum Nahar dan Satem, 65, ini diterima di salah satu operator ojek online. Informasi tersebut diperoleh dari layanan online melalui ponsel.“Ada salah satu operator ojek online menolak karena saya disabilitas. Tapi alhamdulillah ada yang menerima di ojek online pengiriman barang,” katanya.

Berbekal dengan pesan singkat yang diperoleh melalui ponsel, pria yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SMA ini mendatangi kantor perusahaan ojek online. Saat interview, menurut Iwan, sempat ditanya kesiapan di lapangan. Apalagi dengan kondisi berkebutuhan khusus.

“Kalau persyaratan saya lengkap, akhirnya kantor menempatkan saya di bagian pengiriman paket. Tapi kantor waktu itu nanya, repot enggak kalau bawa paket. Saya kemudian jelaskan kalau motor saya modif, akhirnya kantor setuju,” ucapnya.

Dia mengaku terkejut, saat kantor menanyakan kepemilikan SIM D. Pasalnya, perusahaan ojol belum pernah menerima pengemudi dengan kebutuhan khusus. “Loh kok SIM D, kantor sempat bertanya saat interview. Kemudian, saya jawab SIM D untuk pengendara berkebutuhan khusus. Jadi saya ini pertama pengemudi ojol disabilitas,” ucapnya.

Iwan memiliki pengalaman yang sangat berkesan saat pertama menjadi pengemudi ojol. Pertama mengantar paket ke daerah Bogor. Order diperoleh sore hari. Karena belum tahu jalan Iwan mengandalkan Google Maps. “Itu lewat kampung-kampung, gelap. Bolak balik nyasar melulu, lumayan sih dapatnya Rp 110 ribu. Sampai rumah  saya 00.30 WIB,” ujarnya.

Iwan mengatakan, dalam sehari bisa mengambil dua kali order pengiriman paket. Satu paket bisa sebanyak lima hingga delapan barang. Tidak sedikit pengiriman tidak selesai dalam satu hari. Karena masalah barcode, barang melebihi kapasitas hingga konsumen tidak bisa dihubungi. “Barang yang tidak bisa kita delivery ya kita kembalikan ke pengirim,” ucapnya.

Menjadi pengemudi ojol, lanjutnya, kadang menemukan masalah dari penerima atau pengirim paket. Namun berbekal pengalaman dari bekerja di perusahaan jasa pengiriman sebelumnya Iwan bisa mengatasi konsumen yang tidak puas.“Ya kalau konsumen marah, kita minta maaf. Kita jelasin, macet dan motor roda tiga. Biasanya konsumen bertanya “kok roda tiga”. Ya kita jelasin saja kalau kita disabel, biasanya mereka akan mengerti,” katanya.

Iwan mengaku, penghasilannya cukup. Dalam satu hari bisa membawa pulang uang Rp150 ribu sampai Rp 250 ribu. Dari penghasilan tersebut Iwan sisihkan untuk membayar cicilan utang dan biaya bahan bakar minyak (BBM). “Sekarang masih punya cicilan utang untuk modif motor. Dulu pas kerja di perusahaan jasa pengiriman habis untuk cicilan motor,” jelasnya.

Untuk waktu beristrirahat, menurut Iwan dia banyak menghabiskan waktu di taman kota sembari menyantap bekal makan siang. Pria yang menyandang disabilitas karena kecelakaan 15 tahun lalu ini mempunyai keinginan berwirausaha atau bekerja sebagai karyawan perusahaan. Ini karena dia khawatir dengan keadaan jalanan di Jakarta. “Kalau waktu sih enak, kita yang atur. Tapi kalau dengar kabar ada kecelakaan di jalan raya, kadang kita khawatir juga,” pungkasnya. (*)

 

Berita Terkait

Headline / Keluhan Pengemudi Ojol Jadi Priositas Penyusunan RPM

Nasional / Aturan Ojol Ditarget Rampung Februari

Indobisnis / Anterin, Ojek Online Bisa Ditawar Nih

Jakarta Raya / Sesuaikan Lahan Tempat Antar Jemput Ojol

Jakarta Raya / Ojol Difasilitasi ”Ruang Tunggu” di Kantor Pemerintah

Jakarta Raya / Bikin Macet DKI, Anies: Ojol Harus Ditata


Baca Juga !.