Ekonomi

Pemodal Buru Aset Emerging Market

Redaktur: Jakfar Shodik
Pemodal Buru Aset Emerging Market - Ekonomi

PERKASA - Rupiah mulai bergerak lincah atas dolar Amerika Serikat setelah melemah sejak awal tahun ini. Tampak aktivitas pelayanan penukaran di salah satu bank di Jakarta. Foto : TONI SUHARTONO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Dengan begitu, rupiah ditransaksikan di kisaran Rp 14.561 per USD. Posisi ini menguat 16 poin (0,11 persen) dibanding perdagangan hari sebelumnya.

Berdasar kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah bertengger di posisi Rp 14.563 per USD atau menguat dari hari sebelum di posisi Rp 14.602 per USD.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan aset berdenominasi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah kembali diminati pelaku pasar sehingga mengalami apresiasi. ”Rupiah masih bertahan di area positif seiring potensi perlambatan ekonomi di AS akibat shutdown pemerintahan. Situasi itu membuat pelaku pasar uang mengalihkan dana ke pasar negara berkembang,” ujarnya.

Dari dalam negeri, ia menambahkan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang meningkat turut menjadi faktor penopang rupiah. ”Peningkatan transaksi DNDF itu dapat membantu stabilitas nilai tukar rupiah,” tukasnya.

Ia optimistis stabilitas nilai tukar rupiah akan terjaga hingga 2019 mendatang mengingat fundamental ekonomi nasional Indonesia masih kondusif.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan dolar AS tertekan seiring dengan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi AS yang berdampak pada penurunan imbal hasil obligasi AS. ”Penurunan imbal hasil menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap dolar AS,” katanya.

Sementara di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi. Diikuti baht Thailand menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia 0,21 persen, renminbi China 0,28 persen, won Korea Selatan 0,44 persen, yen Jepang 0,48 persen, dan peso Filipina 0,51 persen.

Sedang sejumlah mata uang Asia lainnya berada di zona merah, seperti rupee India melemah 0,24 persen, dolar Singapura minus 0,07 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,04 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Beberapa diantaranya melemah dari dolar AS, seperti rubel Rusia melemah 0,71 persen, dolar Kanada minus 0,3 persen, dan dolar Australia minus 0,28 persen.  Namun, euro Eropa menguat 0,39 persen, franc Swiss 0,34 persen, dan poundsterling Inggris 0,18 persen. (dai/ant)

Berita Terkait

Nasional / Pemerintah Dipuji Tumbuhkan Ekonomi

Nasional / Ekspor dan Investasi Pertanian Meningkat

Ekonomi / Ruang Penguatan Rupiah Masih Terbuka

Ekonomi / Aksi Ambil Untung Tekan IHSG

Headline / Rupiah Terus Menguat Dekati Angka Rp14 Ribu


Baca Juga !.