Opini

Pasang Surut Sistem Deteksi Dini Tsunami

Redaktur: Ali Rahman
Pasang Surut Sistem Deteksi Dini Tsunami - Opini

oleh: Joko Widodo, Mahasiswa Program S-3 (Ph.D), Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Division of Information Sciences, Graduate School of Advanced Integration Science, Chiba University, Japan

INDOPOS.CO.ID - Sistem Deteksi Dini Tsunami akhir-akhir ini menjadi topik yang hangat diperbincangkan di tanah air. Topik ini menghangat setelah kejadian Tsunami Palu-Donggala yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 dan disusul kemudian Tsunami Pandeglang-Lampung yang baru saja terjadi Sabtu (22/12/2018) lalu. Baik tsunami Palu-Donggala maupun tsunami Pandeglang-Lampung menyisakan tanda tanya besar dari publik akibat dari Sistem Deteksi Dini Tsunami yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sirine tanda bahaya tsunami juga tidak berbunyi pada saatnya dibutuhkan. Bahkan publik mungkin bertanya, sebenarnya Indonesia punya atau tidak Sistem Deteksi Dini Tsunami tersebut.

Sistem Deteksi Dini Tsunami Pernah Diimplementasikan di Indonesia

Indonesia telah mengembangkan teknologi buoy sensor sebagai sistem deteksi dini tsunami. Teknologi ini mulai dirintis dan digagas pada 90-an. Inisiasi implementasi teknologinya dimulai dengan menjalin kerjasama dengan sebuah institusi dari Norwegia yang bernama OCEANOR bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dengan mengerjakan proyek bersama. Dikenal dengan Proyek Seawatch Indonesia yang beroperasi pada 1996-1999 (jecko74.com, 2018).

Seawatch Indonesia didesain untuk memantau kondisi met-ocean (meteorologi-oseaonografi) dengan sensor-sensornya meliputi sensor arah dan kecepatan angin, curah hujan, dan sensor oseanografi meliputi tinggi gelombang, suhu, salinitias, oksigen terlarut, klorofil, nitrat, fosfat dan lain-lain. Antara Tahun 1996-1999, proyek Sewatch Indonesia telah berhasil melakukan penempatan buoy di laut sebanyak 12 posisi, meliputi perairan Teluk Jakarta, Selat Malaka dan Selat Masalembo. Berbarengan dengan kerjasama dengan Norwegia ini, Indonesia juga berusaha melakukan transfer teknologi. Krisis ekonomi kemudian melanda Indonesia pada Tahun 1998 dan memaksa proyek ini untuk dihentikan akibat tidak adanya anggaran, dan akhirnya semua buoy yang berjumlah 12 unit ditarik ke darat.

Setelah peristiwa Tsunami Aceh, Desember 2004, Pemerintah pada saat itu kemudian memutuskan untuk mengembangkan sistem deteksi dini tsunami, yang kemudian dikenal dengan nama InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Proyek ini selanjutnya ditetapkan sebagai proyek nasional dengan koordinasi di bawah Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan melibatkan institusi lain seperti Kemkokesra, Bappenas, BPPT, LIPI, Bakosurtanal dan lain-lainnya, dimana proyek yang mulai diinisisasi 2005 ini akhirnya baru diluncurkan pada 2008 dan berhasil menempatkan 9 buoy tsunami (inatews.bmkg.go.id, 2018). Beberapa enjineer di BPPT yang terlibat di Proyek Seawatch sebelumnya, kemudian bergabung dalam kegiatan ini.

Kendala Implementasi Sistem Deteksi Dini Tsunami di Indonesia

Baik Proyek Seawatch Indonesia dan Proyek InaTEWS sebenarnya menghadapi kendala dan permasalahan yang hampir mirip. Permasalahan itu diantaranya adalah mahalnya biaya penempatan buoy karena harus melibatkan kapal besar yang memiliki crane dikarenakan bobot sensor buoy-nya sendiri tidak ringan. Selain itu ada permasalahan mahalnya biaya transmisi data karena menggunakan komunikasi data satelit. Untuk sensor yang dekat dengan pantai sebenarnya bisa diakali dengan sistem transmisi data tidak berbayar berbasis frekuensi HF, tetapi menjadi kendala untuk sensor yang berada di laut lepas.

Permasalahan lainnya adalah sensor yang dipasang di laut rawan hilang dicuri atau rusak akibat aksi vandalisme. Fakta ini telah diungkapkan oleh pihak BMKG paska Tsunami Palu-Donggala terjadi. Permasalahan selanjutnya Sistem Deteksi Dini Tsunami yang diimplementasikan di Indonesia selama ini baik Seawatch Indonesia maupun InaTEWS dilaksanakan dalam bentuk pendekatan proyek. Sementara anggaran proyek rawan hilang dan terhapus tergantung pada saat pembahasan di lembaga-lembaga terkait baik eksekutif maupun legislatif.

Sistem DONET dan S-NET. (Sumber: bosai.go.jp)

 

Rekomendasi Teknologi Sistem Deteksi Dini Tsunami di Masa Datang

Jepang sudah sejak 2006 mengembangkan DONET (Dense Oceanfloor Network System for Earthquakes and Tsunamis), dimana teknologi ini dikelola oleh NIED (National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience) sebelumnya dikembangkan oleh JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology). DONET adalah sistem deteksi dini tsunami yang dimiliki Jepang dengan cara menanamkan banyak sensor di permukaan bumi berbasis kabel fiber optik, Dari 3000-an sensor yang ada, 500-an sensor diantaranya berada di dasar laut.

Pascagempa bumi dan tsunami yang terjadi di Tohuku, 2011 silam, Jepang kemudian mengembangkan S-NET (Seafloor observation Network for Earthquakes and Tsunamis along the Japan Trench). S-NET sebenarnya mirip dengan DONET, tetapi khusus dikembangkan untuk memantau kondisi patahan di laut dalam sebelah timur Tohuku (Japan Trench). S-NET ini dikelola oleh JMA (Japan Meteorological Agency).

Terkait tsunami Pandeglang-Lampung di Selat Sunda yang terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan longsoran bawah laut, teknologi DONET dan S-NET ini dapat menjadi alternatif teknologi untuk memantau kondisi dasar laut, seperti halnya yang dilakukan Jepang. Teknologi ini sangat memungkinkan untuk dapat diintegrasikan dengan jaringan kabel fiber optik Palapa Ring yang sedang dikembangkan Indonesia. Berdasarkan hasil diskusi saya terakhir dengan pihak NEC (Nippon Electric Corporation) di Tokyo sebagai pengembang teknologi ini pascatsunami Selat Sunda, DONET dan S-NET memungkinkan juga untuk dikembangkan dalam rangka memonitor tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas volcano bawah laut, seperti kasus tsunami di Selat Sunda.

Teknologi ini juga dapat dikombinasikan dengan Teknologi Radar Tsunami yang dikembangkan oleh JRC (Japan Radio Co. Ltd), dimana laboratorium tempat saya belajar di Jepang (JMRSL, Chiba University) juga menjalin kerja sama yang sangat erat. Teknologi Radar ini dari sisi instalasi lebih mudah, karena peralatan radarnya cukup dipasang di darat (pantai) untuk memantau gelombang laut. Walaupun begitu teknologi ini tidak bisa memantau kondisi bawah permukaan laut.

Teknologi Sensor Buoy sebagai kelanjutan Proyek Seawatch Indonesia dan InaTEWS yang sudah dikuasai teknologinya oleh para enjineer di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga masih mempunyai peluang untuk dikembangkan. Mahalnya biaya saat meletakkan sensor di laut dapat disiasati dengan cara mendesain sensor yang lebih kecil dan ringan, sehingga saat peletakan sensor di laut dapat menggunakan kapal yang ukurannya lebih kecil. Harus dipertimbangkan juga agar sensor tidak mudah dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tidak kalah pentingnya, Indonesia harus menerbitkan regulasi yang memastikan agar SIstem Deteksi Dini Tsunami ini dapat terselenggara dengan baik. Pendekatan proyek dalam implementasi sistem ini harus diganti dengan pendekatan berbasis kelembagaan, dimana ada lembaga khusus yang ditunjuk dengan mekanisme berbasis dana kegiatan rutin agar lebih menjamin kegiatan operasional dan pemeliharaan. Regulasi juga harus dapat merumuskan secara tegas tanggung jawab para pihak yang terlibat. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Opini / Kursi Roda

Headline / Merangsang Sensitivitas Birokrat

Opini / Domba Hitam

Opini / Bukan di Monas, Tapi di Citangkolo

Opini / RR: Riuh dan Ruwet

Opini / Hak atas Air dalam Konteks Privatisasi dan Korporatisasi


Baca Juga !.