Ekonomi

Percaya Nilai Rupiah Lebih Superior

Redaktur: Jakfar Shodik
Percaya Nilai Rupiah Lebih Superior - Ekonomi

GARANSI - Gubernur BI Perry Warjiyo menilai rupiah lebih kuat tahun ini. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.

INDOPOS.CO.ID - Bank Indonesia (BI) memprediksi nilai tukar rupiah tahun ini bergerak lebih perkasa. Itu dipicu aktivitas bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga acuan.

Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan The Fed hanya mengerek suku bunga acuan dua kali, lebih sedikit dibanding aksi tahun lalu empat kali. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 2,25-2,5 persen setelah naik 25 basis points (bps) akhir Desember tahun lalu. ”Selain itu, faktor pendorong rupiah yaitu kredibilitas kebijakan BI dan pemerintah,” tutur Perry, di Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Dari sisi neraca, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) tahun ini diprediksi lebih rendah, yakni 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan kuartal tiga 2018 lalu membengkak menjadi USD 8,8 miliar atau 3,3 persen terhadap PDB dari kuartal sebelumnya USD 8 miliar atau setara 3,02 persen terhadap PDB.

Pada kuartal empat 2018, BI meramalkan defisit transaksi berjalan masih mencapai lebih dari 3 persen. Itu menyusul neraca perdagangan per November 2018 defisit USD 2,05 miliar. Nah, faktor lainnya mekanisme pasar semakin berkembang tidak hanya spot dan, swap. ”Namun, juga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF),” tegas Perry.

Tahun lalu, rupiah terdepresiasi 5,9 persen. Angka itu diklaim lebih rendah dari koreksi mata uang juga dialami India, Brazil,  Afrika Selatan, Turki, dan Argentina. Jadi, secara keseluruhan depresiasi rupiah 2018 relatif terkendali dengan volatilitas terjaga kurang lebih 8 persen. Berdasar data RTI Infokom, kemarin rupiah bergerak stagnan atau hanya menguat tipis 0,1 persen atau 15 poin di level Rp 14.455 per USD. Bila diakumulasi secara tahunan, rupiah terkoreksi 7,25 persen.

Sementara BI tidak akan mengubah arah kebijakan secara radikal. Tetap mengedepankan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas. Instrumen makroprudensial akan dilonggarkan untuk menggenjot sektor pariwisata dan ekspor. Selain itu, juga akan meningkatkan pangsa pasar ekonomi syariah, memperdalam pasar keuangan, dan efisiensi sistem pembayaran sebagai stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan begitu, BI memberikan panduan jelas kepada pelaku pasar keuangan arah kebijakan moneter terutama suku bunga acuan akan fokus pada tujuan pengendalian inflasi dan nilai tukar rupiah. ”Meski kebijakan moneter pro stabilitas, kami di makroprudensial dorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Perry.

Hanya, Perry enggan mengungkap secara rinci kebijakan makroprudensial untuk mendorong pariwisata. Sorotan BI pada sektor pariwisata juga ditujukan untuk memperbanyak devisa. Dengan begitu, dapat mengerem laju defisit transaksi berjalan yang pada 2018 diperkirakan akan melebar hingga sekitar tiga persen PDB. Tahun ini, BI mematok defisit transaksi berjalan turun hingga 2,5 persen dari PDB. ”Kami terus mengkaji relaksasi untuk instrumen apa, misalnya untuk mendorong pariwisata, ekspor, dan juga UMKM,” ulas Perry.

Sepanjang tahun lalu, BI juga melonggarkan makroprudensial untuk sektor properti. Saat itu, BI merelaksasi rasio nilai kredit untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dengan begitu, syarat uang muka nasabah untuk membeli rumah menjadi lebih ringan. (dai/ant)

Berita Terkait

Ekonomi / BI Garansi Kecukupan Likuiditas

Ekonomi / Peluang Rupiah Menguat Terbuka

Ekonomi / BI Kebut Standarisasi Kode QR

Ekonomi / Prospek Positif, Rupiah Superior

Headline / Melemah Lagi, Rupiah Nyaris Rp 15 Ribu


Baca Juga !.