Kesra

Mentan Amran Lepas Ekspor 42 Komoditas Hortikultura Jawa Barat Ke - 12 Negara

Redaktur: Ali Rahman
Mentan Amran Lepas Ekspor 42 Komoditas Hortikultura Jawa Barat Ke - 12 Negara - Kesra

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kelima dari kiri) didampingi Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi (ketiga dari kanan) melepas lagi ekspor sebanyak 42 jenis komoditas hortikultura ke 12 negara di Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (4/1/2019). Foto: Kementan RI untuk INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura, Suwandi melepas lagi ekspor sebanyak 42 jenis komoditas hortikultura ke 12 negara di Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (4/1/2019).

Komoditas hortikultura tersebut Pisang seperti nenas, manggis, salak, alpokat, mangga, jeruk, durian, jambu biji, salak, melon, semangka dan sayuran 29 di antaranya baby buncis, buncis, selada air, kentang, petai dan jenis sayuran lainnya yang dihasilkan di Jawa Barat.

"Hari ini kami ekspor 42 komoditas sayuran, buah, tanaman hias. Volume sekitar 10 ribu ton setahun ke 12 negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, Tiongkok, Uni EmiArab, Arab Saudi, Pakistan, India, Bangladesh, Australia dan Selandia Baru," kata Amran pada acara pelepasan ekspor.

Adapun ekspor ini dilakukan PT. Alamanda Sejati Utama. Sebagian besar komoditas hortikultura tersebut diambil dari petani. Hadir Anggota Komisi IV DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal dan Erislan, Bupati Kabupaten Bandung Dadang M. Nasser dan Direktur Utama PT Alamanda Sejati Utama Komar Muljawibawa.

Amran menjelaskan peningkatan ekspor pertanian memang menjadi program prioritas Kementerian dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan agar berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian nasional. Di tahun 2018, ekspor holtikultura meningkat 11,92 persen dengan nilai lebih dari Rp 5 triliun di 2018 dengan negara tujuan ke 113 negara. Ekspor sayuran naik 4,8 persen, ekspor bunga naik 7,03 persen dan ekspor buah naik signifikan 26,27 persen.

“Kinerja ekspor ini dan yang kita lepas hari karena kebijakan yang tepat kita lakukan. Salah satunya memangkas perizinan. Jika dulu butuh hingga 13 hari bahkan hingga 3 bulan, kini eksportir hanya butuh 3 jam untuk mendapatkan izin ekspor melalui sistem online tanpa perlu tatap muka. Belum lagi kami cabut 291 peraturan yang menghambat, reformasi birokrasi, dan penegakkan hukum bagi mafia," jelasnya.

“Di tahun 2019 ini, ekspor komoditas hortikultura terus kita tingkatkan. Setelah izin dipangkas, kita layani 24 jam dengan Online Singel Submission, hasilnya ekspor manggis naik 500 persen, tahun kemarin kita ekspor langsung ke Tiongkok, tanpa transit. Kami tidak akan biarkan pihak yang mau main-mainkan sektor pertanian, apalagi mafia,” sambungnya.

Amran juga menegaskan Kementan terus melakukan upaya perbaikan kualitas sesuai permintaan negara tujuan, karena produk pertanian punya persyaratan yang ketat terkait isu higienitas dan keamanan. Upaya yang dilakukan yakni dengan peningkatan produktivitas yang berkualitas dan berdaya saing di pasar internasional melalui penggunaan benih unggul hasil inovasi dan penerapan teknologi baik saat produksi hingga deliveri, termasuk armada angkut dengan alat pendingin dengan kapasitas besar.

“Lobi pun dilakukan agar komoditas Indonesia bisa tembus ke negara lain, termasuk pengiriman bisa langsung ke negara tujuan tanpa transit seperti sebelumnya,” tegasnya.

“Sinergi dengan eksportir juga sangat penting dalam mendorong kesejahteraan petani, karena kelompok tani atau gabungan kelompok tani agar dilibatkan sejak awal dalam proses produksi, dan diperkenalkan dengan pentingnya kontrol kualitas melalui praktik pertanian yang baik mulai dari produksi, manajemen, hingga kelembagaan yang efektif,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan program yang fokus pada peningkatan produksi yang tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri tetapi juga ekspor merupakan program yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami (Komisi IV DPR, red) siap siap mengawal usulan anggaran pemerintah di sektor pertanian untuk program peningkatan ekspor ini. Apalagi hasilnya sudah jelas ada, capaian ekspor pertanian naik 29 persen dan penurunan inflasi pangan 1,26 persen di tahun 2017 sehingga ini merupakan wujud nyata penggunaan APBN yang baik di sektor pertanian,” ujarnya.

Bupati Bandung Dadang M. Nasser mengatakan pemerintah daerah Kabupaten Bandung Barat turut mendukung penuh upaya peningkatan produksi khusus berkualitas ekspor. Karenanya, tanaman 4 musim agar bisa berkembang di wilayahnya dan pembinaan petani perlu dikuatkan agar petani diuntungkan dan negara lebih kuat.

"Sebagai negara agraris kita harus maju. Kita pernah penghasil stroberi terbaik. Kentang juga Alhamdulillah sudah tumbuh. Meningkatkan ekspor dan produksi harus dengan bagaimana petani dibantu dengan benih hortikultura berkualitas agar petani bersemangat,” katanya.

Direktur Utama PT Alamanda Sejati Utama Komar Muljawibawa, selaku eksportir mengungkapkan selama kebijakan pelayanan yang diberikan Kementan berupa pengurusan izin dokumen ekspor menjadi 3 hari, volume ekspor menjadi naik. Sebab dulu pengurusan izin dokumen ekspor memakan waktu hingga 2 bulan. Komoditas hortikultura yang diekspor dihasilkan petani melalui pola kemitraan dan hasil pembinaan dari pemerintah.

“Untuk rencana ekspor sayuran sebanyak 200 ton per bulan atau 6,7 ton per hari. Yang diekspor seperti Baby Buncis 30 ton, Buncis 45 ton, Selada Air 30 ton, Kentang 60 ton, Ubi Manis 20 ton, ditambah Petai 2 ton dan sayur lainnya. Untuk buah Non Musim, ada Jambu Biji merah 2 ton, Rock Melon 20 ton, dan Salak 4 ton,” ungkapnya.

“Sementara buah musiman yang diekspor antara lain manggis dengan perkiraan 500 ton per musim dan Mangga 100 ton per musim,” tambah Komar. (srv)

Berita Terkait


Baca Juga !.