Jakarta Raya

Mbah Parno, Jadi Kuli saat Masjid Istiqlal Dibangun, Puluhan Tahun Jadi Marbut

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Mbah Parno, Jadi Kuli saat Masjid Istiqlal Dibangun, Puluhan Tahun Jadi Marbut - Jakarta Raya

JAWABAN DOA-Mbah Parno (kiri) didampingi putri kelimanya, Novi (kanan) di Jakarta. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Usia Suparno tak muda lagi. Di usia senjanya masih sering ke Masjid Istiqlal. Dulu saat dibangun, selain jadi kuli, dia juga melayani Friedrich Silaban, arsitek masjid yang disebut-sebut terbesar se Asia Tenggara tersebut.

NASUHA, Jakarta

’’Biasa saja, tidak ada perasaan apa-apa. Dari awal nggak menyangka mau dapat rumah.” Kalimat itu diucapkan Mbah Parno, sapaan sehari-hari Suparno, 95, ketika bertemu INDOPOS di Jakarta, Jumat (4/1/2019). Pria lanjut usia yang ikut membantu di Masjid Istiqlal tersebut mendapatkan penghargaan berupa satu unit rumah dari Kementerian Agama pada Hari Santri Nasional, beberapa waktu lalu.

Hidup sederhana. Tidak neko-neko. Mengabdi, menjadi penjaga dan mengurus masjid. ’’Jadi dalam hati saya itu nggak girang saat diumumkan saya mendapatkan penghargaan rumah, nggak ada perasaan apa-apa. Biasa aja,” imbuh Mbah Parno, mengawali perbincangan.

Lekat dengan dialek bahasa Jawa, dia bercerita bagaimana pengalamannya menjadi kuli bangunan saat pembangunan Masjid Istiqlal, hingga dia mengenal Friedrich Silaban. Dia mengaku juga ikut menjadi pelayan Friedrich hingga tutup usia. Kali pertama dibangun pada 1961. Ya, sebelum menjadi marbut sejak masjid diresmikan pada 1978, dia menjadi kuli bangunan di masjid terbesar di Indonesia itu.

Sembari terhuyung-huyung, karena faktor usia, pria kelahiran Desa Kalimati Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, 1924 ini mengaku, merantau ke ibu kota sejak 1951. Kala itu, dia sudah berusia 27 tahun. “Pas peletakan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal oleh Bung Karno (Presiden pertama) pada 24 Agustus 1961, saya menjadi kuli bangunannya bersama mandor saya,” ujarnya.

Di tempat itulah, kemudian Parno bertemu dengan Friedrich Silaban. Penghasilannya menjadi kuli bangunan saat itu hanya Rp 750 per hari. Ia menuturkan, menjadi kuli bangunan di lapangan selama lima tahun. “Dibayar Rp 750 itu paling gede, udah termasuk lembur sampai pukul 18.00 WIB,” katanya.

Dia menyiapkan adonan semen hingga membantu memasang batu. “Awal proyek kuli bangunan ribuan, tapi karena gaji kecil baru sebulan banyak kuli bangunan yang kabur,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, banyak kisah suka duka menjadi kuli bangunan saat pembangunan. Karena, tidak ada kuli bangunan yang bersedia menjadi pesuruh mandor dan menyiapkan makanan, Parno kemudian mengajukan diri menjadi pelayan kantor. “Waktu itu nggak ada tukang yang mau menjadi pesuruh untuk menyiapkan makan para mandor. Akhirnya saya ditunjuk. Sejak saat itu saya ditarik ke dalam (kantor) dari kuli lapangan,” terangnya.  

Saat menjadi kuli bangunan, dalam benak Parno saat itu, Masjid Istiqlal adalah bangunan yang sangat besar. “Saya waktu itu cuma heran, ini masjid kan gede banget, biangnya masjid. Kapan mau selesainya ya?” gumamnya saat itu.

Karena menjadi pelayan Friedrich, dia mengetahui makanan kesukaannya, yakni ikan tenggiri yang disajikan mentah. Dalam sehari, menu tersebut disajikan sekali. “Itu juga kalau diminta, kalau nggak, ya nggak kita bikinin,” katanya.

Pria yang memiliki enam orang anak ini mengaku suka melayani Friedrich. Selain sosok yang baik dan rendah hati, setiap kali dia meminta sesuatu, tidak pernah lupa memberi tips. “Kalau suruh beli-beli, Bapak (Friedrich Silaban) suka ngasih persenen,” ucapnya.

Friedrich, lanjut Parno, juga suka tembakau yang berupa tepung. Itu, biasanya dia peroleh di Pasar Harmoni. “Tembakau ini diisap pakai pipa. Kalau mencari di Pasar Senin susah, paling dapatnya di Pasar Harmoni,” ungkapnya. ’’Beliau sangat berterima kasih banget sama saya, karena sudah melayani dengan baik,” imbuhnya.

Parno tak lupa bersyukur mendapatkan rumah dari Kementerian Agama. Selama ini, ia tinggal bersama keluarga di rumah kontrakan di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat. Di rumah petakan berukuran 3x4 meter tersebut ia tinggal bersama kedua orang anaknya.

’’Anak sudah pada berkeluarga. Ada dua orang anak laki yang belum nikah, jadi nemenin di rumah. Rumah itu buat saya yang penting bisa buat geletak (rebahan, tidur), sudah alhmadulillah,” ucap suami almarhum Kasminah ini.

Mendampingi Parno, Noviana, 36, mengatakan, salah satu rahasia bapaknya tetap sehat hingga saat ini adalah selalu berjalan kaki menuju Masjid Istiqlal pulang pergi (PP). Menurut putri kelima Parno, ayahnya tidak pernah mau naik kendaraan. “Kalau mau, dianter pakai motor, tapi nggak pernah mau. Dianter teman juga nggak mau,” ujarnya.

Perempuan kelahiran Jakarta, 13 November 1982 ini menuturkan, jarak antara rumah dan Masjid Istiqlal lebih dari dua kilometer. Namun, dengan kondisi Parno yang semakin renta, menurutnya, intensitas berangkat ke Masjid Istiqlal pun berkurang. “Dulu rutin setiap hari, akhir-akhir ini paling ke masjid seminggu sekali,” katanya.

Menurut Novi, rekan kerja di Masjid Istiqlal sudah meminta Parno untuk beristirahat. Demikian pula keluarga sudah melarangnya untuk bekerja. “Tapi keinginan Bapak kuat banget, jadi kami tidak bisa melarangnya,” ungkapnya.

Selain di Masjid Istiqlal, dikatakan perempuan yang bekerja di bagian tata usaha di Masjid Istiqlal, di lingkungan kediamannya, Parno sehari-hari menjadi marbut di salah satu musala. “Kalau nggak ada kegiatan di Istiqlal, paling di rumah ngurus musala,” terangnya.

Novi mengatakan, kebiasaan setiap pagi Parno, akrab dengan segelas kopi hitam ditemani sebatang rokok. Dalam satu hari, kebiasaan itu dilakukan tiga hingga empat kali. “Rokoknya masih kuat. Kalau ngopi bisa tiga sampai empat kali sehari. Tapi alhamdulillah puasa Ramadan masih full dilanjut puasa Syawalan,” ucapnya.

Pada akhir perbincangan, Novi dengan terbata-bata mengungkapkan perasaannya saat Parno menerima penghargaan sebuah rumah dari Kementerian Agama. Keluarga mengaku, terkejut dengan penghargaan tersebut. “Ini jawaban doa-doa kami semua. Kami tidak bisa ngomong apa-apa, terima kasih semuanya,” ungkap Novi yang tak kuasa menahan air matanya saking gembiranya. (*)

 

TAGS

Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya Kini

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta


Baca Juga !.