Headline

Ikhlas Jasad Sang Kakak Tak Bisa Ditemukan

Redaktur: Juni Armanto
Ikhlas Jasad Sang Kakak Tak Bisa Ditemukan - Headline

BENCANA - Petugas memantau tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Foto : NURUL RAMADHAN/ANTARA FOTO

INDOPOS.CO.ID - Pada Minggu (6/1/2019) lalu, masa tanggap darurat bencana tanah longsor di Kampung Garehong ditutup. Di akhir pencarian, Tim SAR gabungan sempat mengalami kesulitan mencari satu jasad korban terakhir. Lantas bagaimana tanggapan keluarga korban?

Keluarga korban mengikhlaskan satu anggota keluarganya tidak ditemukan tim SAR gabungan hingga masa tanggap darurat bencana tanah longsor di Kampung Garehong, Dusun Cimapag Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ditutup. "Kami sudah ikhlas kakak saya, Ruhesih, 40, tidak bisa ditemukan tim SAR gabungan, karena ini adalah bencana," kata adik korban, Yadi di lokasi bencana di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Minggu (6/1/2019) lalu.

Menurut dia, pada kejadian tersebut lima anggota keluarganya menjadi korban meninggal dunia yakni, ayah dan ibu, kakak, ipar dan keponakannya. Selain kakaknya, jasad anggota keluarga lainnya berhasil ditemukan dan sudah dimakamkan.

Dirinya masih belum bisa percaya bencana longsor yang terjadi di tanah kelahirannya merenggut nyawa keluarganya. Hingga saat ini ia pun belum mengetahui apa rencana ke depan tetapi minta doa kepada siapapun agar keluarga yang menjadi korban tewas diberikan ketenangan. "Saya dari keluarga tidak akan menuntut apapun, meskipun jenazah kakak saya tidak ditemukan dan harus terkubur selamanya di lokasi tanah longsor," tambahnya.

Sementara itu, Danrem 061/Suryakencana Kolonel (Inf) Hasan mengatakan, sebelum masa tanggap darurat bencana tanah longsor ini ditutup pihaknya melakukan rapat kecil dengan seluruh instansi terkait seperti Polri, Basarnas, BNPB, BPBD dan pemerintah desa. Hasilnya meskipun satu korban tidak berhasil ditemukan, namun pihak keluarga sudah mengiklaskan dan tidak menuntut untuk dilakukan pencarian lagi.

"Kami nyatakan pada Minggu (6/1/2019) masa tanggap darurat bencana tanah longsor di Kampung Garehong ditutup dan untuk penanganan lebih lanjut diserahkan ke panitia lokal," katanya.

Sebelumnya, di akhir masa tanggap darurat bencana, Tim SAR gabungan kesulitan mencari jasad terakhir korban bencana tanah longsor. "Tinggal satu lagi hingga saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian di beberapa titik yang disinyalir terdapat jenazah korban tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok," kata Kapenrem 061/Suryakencana Mayor (Inf) Ratno.

Pantauan di lokasi, ratusan personel pencari mulai dari TNI, Polri, Basarnas, BNPB, BPBD dan relawan masih berjuang mencari jasad korban yang dilaporkan hilang keluarganya atas nama Ruhesih. Empat alat berat jenis backhoe terus melakukan penggalian di lokasi-lokasi yang disinyalir terdapat jasad korban. Timbunan batu berukuran besar pun terus disingkirkan untuk mencari korban berjenis kelamin perempuan tersebut.

Alat lainnya yang digunakan untuk mempermudah pencarian yakni, delapan pompa air yang berfungsi menyingkirkan lumpur tebal yang menutup lokasi pencairan. Cuaca di lokasi saat itu cerah dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Hingga pukul 16.30 WIB jasad korban terakhir di hari ketujuh pencarian masih nihil.

Sementara itu, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 15 triliun untuk anggaran antisipasi dan penanggulangan bencana alam dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. "Kan tahun lalu kita mengeluarkan lebih dari Rp 7 triliun. Anggaran itu tidak hanya yang di BNPB, yang kita tambahkan selalu dalam bentuk pengeluaran untuk 'on call'," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ketika ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna bertopik ‘Program dan Kegiatan 2019’ di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Menurut Sri, kesiapan dana melalui ‘on call’ dilakukan jika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganggap perlu ada tindakan darurat. Sementara itu, Menkeu juga mengungkapkan bahwa pemerintah berinisiatif membuat ‘pooling fund’ yang bertujuan mengumpulkan dana kepedulian atas bencana dari masing-masing daerah.

Pemerintah, ujar Menkeu, juga belajar dari sejumlah negara lain dalam mitigasi bencana seperti dari Filipina yang kerap dilanda taifun, maupun negara-negara Amerika Latin yang kerap dilanda gempa bumi. Skema pendanaan pooling fund disiapkan untuk menghadapi kerugian akibat bencana alam. Pemerintah mulai menyiapkan mekanisme asuransi bencana dalam bentuk ‘pooling fund’ sebesar Rp 1 triliun untuk mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana.

Pencairan dana itu dapat dilakukan dengan mempertimbangkan skala besarnya bencana alam, jumlah korban, maupun tingkat kerusakan daerah. (ant)

 

Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya Kini

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta


Baca Juga !.