Jakarta Raya

Tidak Dipungut Biaya, Liburnya Hanya Dua Minggu

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Tidak Dipungut Biaya, Liburnya Hanya Dua Minggu - Jakarta Raya

OPTIMISTIS - Tubagus Wahyudi, pendiri lembaga pendidikan informal motivator. Foto : NASUHA/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Berawal dari gerakan memakmurkan masjid, Tubagus Wahyudi mendorong para remaja. Kini menjadi lembaga pendidikan informal di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Awalnya, aktivitas Om Bagus, sapaan akrab Tubagus Wahyudi, diragukan. Bahkan mendapat suara miring. Tapi, dia tak patah arah. Berbekal ilmu yang dimilikinya, lulusan S3 di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) itu mengajarkan ilmu komunikasi kepada para remaja masjid. Dari tangan Bagus inilah, Masjid Jami Al Karim di bilangan Jakarta Selatan semakin ramah jamaah, khususnya remaja.

“Waktu itu saya prihatin jamaah masjid itu-itu saja. Kemudian saya menggerakkan remaja untuk memakmurkan masjid. Caranya dengan mengajar para remaja masjid dengan ilmu yang saya miliki,” ujarnya ditemui INDOPOS di Jakarta Selatan, Senin (7/1/2019).

Tidak sedikit remaja masjid tertarik dengan ilmu yang ditawarkan oleh Bagus. Dari ilmu komunikasi, entertainment, public speaking, hingga ilmu pikir. “Jadi saya berdayakan remaja di masjid. Dengan mencari kebutuhan mereka. Selain salat 5 waktu masjid penuh jamaah, para remaja juga senang dengan bekal ilmu tambahan,” ungkapnya.

Menurut dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini, tidak sedikit saat itu para remaja masjid menginginkan menjadi MC (pembawa acara), penyiar televisi, hingga entertainment. Sejak 2003 kegiatan belajar di masjid dilakukan. “Alhamdulillah, semua dikasih oleh Allah. Saya menawarkan kepada para remaja masjid, siapa mau jadi penyiar, siapa mau menjadi MC, siapa mau jadi artis. Syaratnya harus datang ke masjid,” katanya.

Diceritakan, seiring berjalannya waktu gerakan memakmurkan masjid banyak diminati. Akibat keramaian para remaja yang mengikuti kegiatan belajar itu mendapat protes dari jamaah masjid. “Waktu itu kita diprotes, karena kegiatan untuk memakmurkan masjid hanya meramaikan masjid,” ungkapnya.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat pria kelahiran Makassar, 29 Juni 1969 ini untuk berhenti mengajar. Di tengah hidup yang sederhana, semangatnya untuk melanjutkan gerakan memakmurkan masjid mendapat dukungan dari isteri tercinta. “Istri saat itu punya sedikit tabungan, kemudian menyewakan rumah toko (ruko) untuk para remaja masjid yang masih semangat untuk belajar,” katanya.

Berawal dari itulah, gerakan memakmurkan masjid dari putra kedua dari lima bersaudara pasangan almarhum H Ajib Ehwan dan almarhumah Siti Norma Yunus Mile berubah menjadi lembaga pendidikan informal. Kampus informal tersebut, menurutnya, berdiri atas dasar kecintaan kepada ilmu. Seiring berjalannya waktu kampus informal yang kemudian diberi nama Kahfi BBC Motivator School diklaim sebagai akademi motivator pertama di Indonesia.

“Saya kemudian melanjutkan usaha yang awalnya untuk memakmurkan masjid dengan tidak memungut biaya kepada para mahasiswa,” katanya.

Motivasi ayah dengan dua orang anak ini dengan mendirikan sekolah tersebut karena perintah Tuhan dan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yakni, sebaik-baiknya manusia itu yang bermanfaat untuk manusia lain. “Kalau saya dimanfaatkan oleh orang lain malah senang, karena bisa bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya.

Semangat mengajar suami Dwi Andiani Widiastuti, 50,  itulah mendorong dia untuk terus belajar. Dia menyebutkan, lembaganya kini memiliki banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kampus, imbuhnya, hanya mempelajari ilmu komunikasi dengan manusia, seluruh komponen yang berhubungan dengan manusia, seperti ilmu pikir, public speaking, entertainment, hypo communication, hingga hypnosis Alquran.“Lulusan dari sini memiliki sertifikasi setara dengan diploma 3 selama 3 tahun dan diploma 4 dengan waktu 6,5 tahun,” katanya.

Berjalannya waktu, kini kampus melebarkan cabang di Jawa Timur, Batam, Jawa Barat, Pangkal Pinang dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dengan waktu tatap muka setiap hari dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Kepada mahasiswa, Bagus menuntut mereka menguasai ilmu pikir. Karena, dalam Alquran isi kehidupan dunia hanya ada tipuan dan senda gurau.“Mereka (mahasiswa) harus bisa berpikir mengenai tujuan hidup yang sebenarnya dan tidak terjebak dalam tipu daya kehidupan duniawi,” tegasnya.

Ia menuturkan, untuk tidak tertipu oleh dunia maka harus menguasai ilmu pikir. Kuliah ilmu pikir ini, menurutnya, diajarkan pada semester I dan semester II.  

Bagus mengatakan, untuk memberi manfaat kepada para mahasiswa, kampus tidak membebankan biaya sepeser pun kepada tiap mahasiswa. Namun, biaya kampus harus dibayar dengan salat dan berbakti kepada kedua orangtua. “Ilmu yang bermanfaat itu ilmu yang diamalkan. Jadi kami akan keluarkan mahasiswa apabila durhaka kepada orang tua apalagi tidak sholat,” jelasnya.

Bagus menegaskan, ketika gerakan memakmurkan masjid berubah menjadi lembaga pendidikan informal di ruko, tidak menghilangkan ruh gerakan memakmurkan masjid. Karena, semua mahasiswa diajarkan untuk memakmurkan masjid di mana saja. “Dengan memakmurkan masjid, mahasiswa sudah memakmurkan kehidupannya. Terbukti banyak para wisudawan yang telah berhasil menjadi pengusaha dan wirausaha,” aku dosen aktif di PTIQ ini.

Dalam perkuliahan, lanjut Bagus, mahasiswa kelas reguler wajib mengikuti tatap muka tiga kali seminggu dengan dua kali kelas dan satu kuliah umum. Juga tidak menerapkan libur pada hari libur nasional atau Minggu. “Libur kuliah hanya dua minggu, sebelum Lebaran dan 2 minggu setelah Lebaran,” ucapnya.

Para wisudawan lembaga pendidikan informal di bawah naungan MUI ini akan mendapat sertifikasi yang di dalamnya terdiri atas sertifikasi motivator, public speaking, hafalan Alquran, imam, dan khotbah.“Jadi sertifikasi dibagi menjadi dua, sertifikasi kecil dan sertifikasi besar,” ujar dosen di Universitas Terbuka (UT) ini.

Yang membedakan dengan perguruan tinggi formal lainnya, pada setiap kenaikan semester, mahasiswa wajib mengikuti sidang. Sementara di perguruan tinggi formal sidang hanya diikuti setiap akan kelulusan mahasiswa. “Mata kuliah life. Jadi tidak ada menggunakan buku,” ucapnya.

Dia menyebutkan, saat ini memiliki dosen 16 dosen. Yang bertugas menjadi dosen kelas, setiap kelas memiliki 50-60 mahasiswa dengan rata-rata setiap angkatan sebanyak 600 mahasiswa. Di usianya ke-16 tahun, kampus memiliki delapan angkatan yang masih aktif. Secara administrasi, kampus juga tidak menerapkan nilai, tetapi hanya lulus dan tidak lulus.

“Jadi untuk mengetahui mahasiswa berkompeten dari grate angka yang ada di tiap seragam. Grate ini menunjukkan mahasiswa sudah menghafal Alquran, sudah melakukan umrah dan haji, hafalan bahasa asing, dan lain-lain,” ungkapnya. (*)

 

Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya Kini

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta


Baca Juga !.