Jakarta Raya

Sepi Penumpang, Narik Sendiri, Setengah Hari Hanya Dapat Rp 50 Ribu

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Sepi Penumpang, Narik Sendiri, Setengah Hari Hanya Dapat Rp 50 Ribu - Jakarta Raya

LAIN DULU LAIN KINI - Pengemudi metromini Wahyudi. Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bisa jadi nasib metromini di Jakarta tinggal menghitung waktu. Saat ini, yang beredar di jalanan, tentunya tak sebanyak dulu. Bus sedang yang sudah beroperasi sekitar 1976 itu menjadi saksi perjalanan transportasi umum di ibu kota.

Martogi bermandi peluh. Sejak dari Kuningan, pria  berusia 18 tahun itu hanya membawa seorang penumpang. Togi, sapaan akrabnya, merupakan satu dari puluhan pengemudi metromini trayek 640 rute Pasar Minggu – Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ketika INDOPOS naik dari perempatan Kuningan, penumpang Togi bertambah menjadi dua orang. Sepanjang perjalanan Togi banyak bercerita bagaimana nasib dia dan rekan pengemudi metromini lainnya. Kini, mereka harus bersaing di antaranya dengan bus Transjakarta dan ojek online yang kian menjamur. ’’Kita paling narik pas berangkat dan pulang kantor. Lihat saja kalau siang, penumpang hanya 1 atau 2 orang saja,” ujar Togi kepada INDOPOS, Selasa (8/1/2019).

Sembari mengusap peluh yang bercucuran di dahi dan leher dengan handuk kecilnya, Togi hanya pasrah apabila metromini akan diremajakan. Meski demikian, dia berharap, peremajaan nanti tidak membebankan para pemilik metromini.

TERGERUS - Jumlah bus sedang seperti ini tinggal sedikit. Foto : Nasuha/INDOPOS

’’Jujur saya kami mendukung program peremajaan metromini. Kalau sudah pakai AC dan kendaraan lebih bagus pasti ramai sewanya (penumpang),” ungkapnya.

Panas siang itu cukup berasa. Tanpa dilengkapi pendingin, peluh terus bercucuran. Untuk tiba di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, harus ditempuh dengan waktu 45 menit. Tiba-tiba Togi berseloroh, “Kalau panas kayak gini, siapa yang mau naik. Taruh telur di metromini saja bisa mateng,” ucap Togi lekat dengan dialek Batak disusul tawa.

Mengendarai metromini dengan nomor polisi B 7874 EM, Togi mengaku, setiap hari bisa menarik lima rit atau dua setengah (2,5) pulang pergi (PP) Pasar Minggu--Tanah Abang. Itu pun ia harus bersaing dengan bus Transjakarta dan angkutan umum lainnya. “Paling sehari bisa mengantongi pendapatan kotor Rp 700 ribu. Dan dia harus sisihkan untuk setoran Rp 300 ribu dan bahan bakar Rp 35 ribu per rit,” katanya.

Setoran itu, menurutnya, untuk setoran resmi. “Kalau setoran yang resmi itu Rp 300 ribu, kebanyakan pengemudi di sini setoran tidak resmi hanya Rp 200 ribu. Biasanya bisa bawa pulang uang bersih Rp 150 ribu,” jelasnya.

Dia juga menyebutkan, dari empat puluh metromini trayek 640 hanya 10 yang resmi. Makanya sebelum tahun baru lalu para petugas Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan razia, penertiban.

Dengan kondisi kendaraan tua, menurut Togi, dia harus rutin mengecek keadaan mesin setiap dua bulan sekali. Tidak sedikit harus merogoh biaya hingga Rp 400 ribu. Dia menambahkan, saat ini dampak persaingan metromini dengan bus Transjakarta dan angkutan umum lainnya sangat terasa. Pasalnya, dulu metromini bisa beroperasi hingga tengah malam, kini hanya sampai pukul 21.00 WIB.

’’Dulu kita narik bisa sampai tengah malam, dan setoran masih mudah kami kejar. Bahkan untuk setoran Rp 400 ribu per hari itu kecil. Sekarang boro-boro, setoran juga kadang tidak penuh dan paling malam kita paling narik sampai jam 21.00 WIB,” ungkap Togi yang menjalankan kendaraan milik ayahnya itu. Dulu saat masih ikut bapaknya narik, setoran Rp 400 ribu itu, mudah. Bisa narik penumpang sampai tengah malam. ’’Sekarang ramainya pas jam berangkat dan pulang kantor,’’ imbuhnya.

Selain kalah bersaing, masih ujar Togi, banyak sekali langganan kini beralih ke bus Transjakarta. “Biasanya kita sering naikin langganan. Tapi mereka banyak memilih menunggu TJ (Transjakarta) walaupun di belakang kita,” aku pria yang sudah menjalankan metromini selama dua tahun itu sedih.

Dia berharap, program peremajaan metromini ini tidak membebankan pemilik transportasi yang identik berwarna oranye ini. Apalagi sebagian besar pemilik metromini dari kalangan masyarakat kecil. “Kita ingin uang muka tidak membebankan kita dan ada subsidi dari pemerintah daerah seperti pertama metromini dulu,” katanya.

Senada diungkapkan Wahyudi, 48. Pengemudi metromini trayek 640 ini  mengatakan, setiap hari dia mengemudi berdua dengan rekan pengemudi lainnya. Dalam setengah hari, menurutnya, bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu. “Dengan penghasilan segitu mana cukup untuk biaya anak sekolah dan bayar sewa rumah,” ujar Wahyudi dengan nada kencang, mengimbangi suara mesin metromini yang meraung-raung.

Sesekali mengoper gigi mesin, Wahyudi mengatakan, mendukung program peremajaan metromini. Karena, dengan persaingan saat ini metromini kian terpinggirkan. Dari 400 metromini yang beroperasi di Pasar Minggu, kini hanya tinggal 40 unit saja. “Dulu waktu belum ada bus Tranjskarta untuk mendapatkan Rp 300 ribu dalam setengah hari sangat muda. Sekarang boro-boro,” ungkapnya.

Dengan sepi penumpang, Wahyudi mengaku harus menarik seorang diri. Karena, hasil yang diperoleh dalam satu hari tidak cukup untuk dibagi dengan kenek. “Dulu, kita pakai kenek. Hasilnya bisa dapat Rp 150 ribu per hari seorang,” katanya.

Dia berharap, peremajaan oleh Pemprov DKI tidak membebankan pemilik angkutan umum. Selain memenuhi persyaratan, dia berharap pemprov juga tidak membatasi usia untuk pengemudi metromini nanti. “Kalau bisa uang muka tidak mahal, dan jangan hanya sekali. Kalau tidak mending kita kiloin saja, terus usaha lain,” ungkap laki-laki yang sudah mengemudi metromini sejak 1988 ini.

Terpisah, Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Dishub DKI Jakarta terkait rencana peremajaan metromini di Jakarta. Mereka meminta selama berjalan program peremajaan, transportasi umum tetap bisa beroperasi. “Kami minta selama proses kendaraan tetap bisa beroperasi sesuai trayek,” ujarnya.

Ini, lanjutnya, agar tidak menganggu layanan kepada masyarakat dan faktor sosial. Pada peremajaan nanti kendaraan lama akan ditarik dan diganti dengan kendaraan baru dengan rute terintegrasi dengan moda transportasi masal lainnya. “Pengemudi nanti memiliki gaji bulanan,” ucapnya.

Kendaraan baru nanti, masih ujar Shafruhan, akan menjadi milik kendaraan lama (operator). Hanya, menurutnya operator harus menyiapkan uang muka. Untuk memudahkan itu, Organda telah melibatkan investor. “Kita ingin uang muka nanti ringan dan tidak membebankan operator. Kita ingin mereka tidak hilang, apalagi jasanya di layanan kepada masyarakat sudah 40 hingga 50 tahun,” katanya.

Dia berharap, program peremajaan metromini bisa berjalan dengan baik. Dan mendukung sepenuhnya program Jak Lingko. Selain itu, pengusaha atau operator bisa melayani masyarakat dengan tenang.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan DKI Jakarta ingin menata ulang rute angkutan kota (angkot) dan bus sedang, terutama yang bersinggungan dengan angkutan umum masal. Plt Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, akan menghapus rute angkot dan bus yang berhimpitan dengan mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). “Mereka akan kita pindah ke lokasi yang belum terjangkau angkutan umum. Dengan begitu seluruh area DKI  terhubung dengan transportasi Jak Lingko,” katanya.

Ya, tak lama lagi, kemungkinan besar sudah tidak ada lagi bus sedang berwarna oranye itu di ibu kota. “Saya punya tiga armada metromini yang sekarang hanya nongkrong dan tidak beroperasi,” ujar Ketua Forum Komunikasi Angkutan Metromini Seluruh DKI Jakarta Rimhot Siagian pada INDOPOS, Kamis (13/12/2018).

Rimhot sebagai pengusaha metromini mengatakan, dulu kendaraannya beroperasi dengan trayek Tanah Abang-Pasar Minggu. Namun setelah ada trayek Transjakarta yang bersinggungan langsung dengan trayeknya, pendapatan angkutannya semakin menurun hingga tidak mampu lagi memenuhi biaya operasional. “Daripada terus rugi, saya akhirnya memutuskan tidak beroperasi hingga waktu yang belum bisa ditentukan,” katanya.

Lebih lanjut Rimhot mengaku telah mendapatkan sosialisasi dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengenai kebijakan peremajaan angkutan umum agar dapat terintegrasi dengan Transjakarta. Persyaratannya adalah menyerahkan uang muka sekitar Rp 100 juta sebagai uang muka mencicil angkutan baru. Namun, karena memang belum memiliki uang tersebut, akhirnya ia hanya pasrah. “Kami seperti makan buah simalakama, karena jika tetap beroperasi akan rugi. Sementara jika ingin mencicil kendaraan tidak punya uang,” jelas Rimhot. 

Rimhot berharap, ada solusi yang baik agar pengusaha angkutan seperti dirinya apat terus menjalankan usaha dan melayani masyarakat. “Karena pada dasarnya kami patuh pada aturan yang dibuat pemerintah daerah,” ucap dia.

Terpisah Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Masdes Arroufy mengatakan, revitalisasi bus berukuran sedang yang sudah tua dan bobrok berakhir tahun ini. Mulai 1 Januari 2019, hanya bus berusia di bawah 10 tahun yang boleh beroperasi di Jakarta. “Kami menargetkan bus yang usianya tua sudah harus habis,” tegasnya, beberapa waktu lalu.

Masdes menjelaskan, revitalisasi berupa penggantian bus merupakan amanat Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi. Pasal 51 dalam aturan itu menyebutkan masa pakai bus sedang maksimal sepuluh tahun. Ia mengatakan, pasal itu belum pernah diterapkan di Jakarta. Baru pada 2016 lalu, Dinas Perhubungan dan pengusaha transportasi sepakat merevitalisasi bus dalam tiga tahun.

Diungkapkan Masdes, sejak 2016 pengurangan bus tua sudah dilakukan. Sepanjang 2017, dinas menahan 1.600 unit bus sedang karena habis masa uji kir, izin trayek tak diperpanjang, atau usianya sudah tua. Dinas Perhubungan mengizinkan perpanjangan izin trayek dengan syarat pemilik menyerahkan satu unit bus tua untuk dimusnahkan. Cara ini juga berlaku hingga tahun ini.

Menurut Masdes, cara itu membuat jumlah bus reyot berkurang. Bus sedang di ibu kota berjumlah sekitar 5 ribu unit pada 2012. Kini yang masih beroperasi menyusut menjadi sekitar 1.200. Dinas Perhubungan, aku dia, rutin mengundang pemilik bus untuk berdiskusi agar revitalisasi berjalan dengan lancar. Lewat diskusi, Masdes menyampaikan, dinas bisa mengetahui masalah yang dihadapi pemilik. Sebagian dari mereka terkendala permodalan untuk membeli bus baru. Ia berharap perbankan berminat membantu penyaluran pembiayaan. “Ini peluang usaha bagi perbankan,” ucapnya.

Sedangkan anggota DPRD DKI Jakarta Prabowo Soenirman menilai masalah angkutan masal di Jakarta memang perlu dicarikan solusi yang baik. Antara dinas terkait dengan pemilik angkutan perlu terus dijalin komunikasi dua arah.(*)

Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya Kini

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta


Baca Juga !.