Megapolitan

Tergerus Kemajuan, Angkot Makin Tersisih

Redaktur: Syaripudin
Tergerus Kemajuan, Angkot Makin Tersisih - Megapolitan

Info Grafis : angga gumelar/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kemunculan moda transportasi publik, Trans Patriot yang berbentuk bus berukuran sedang di Kota Bekasi diprediksi bakal makin menggeser keberadaan ribuan angkutan perkotaan (angkot) yang ada di wilayah tersebut.

Sebelumnya, angkot di Kota Bekasi sudah kalah bersaing dengan angkutan daring berupa ojek online.  Jumlah angkot yang kini beroperasi di kota itu terus mengalami penurunan hingga mencapai 1.500 unit saja. Padahal, sebelumnya jumlahnya mencapai 3.200 unit.

”Pastinya, jumlah angkot saat ini jauh berkurang. Hanya ada sekitar 1.500 hingga 2.000 armada yang masih beroperasi,” terang Ketua Organda Kota Bekasi Hotman Pane, Selasa (8/1/2019). Sayangnya, kini dia tidak mengetahui patai berapa jumlah pasti angkot di kota tersebut.

Angkot, kata dia juga, awalnya kalah dengan kendaraan pribadi terutama motor. Lalu kondisinya ditambah dengan kehadiran transportasi online. Kini, angkot makin tersisih dengan munculnya bus Trans Patriot yang dikelola Pemkot Bekasi.

Apalagi, transportasi publik yang disubsidi Pemkot Bekasi itu jauh lebih nyaman. Karena dilengkapi AC. Pane juga mengaku belum mengetahui wacana Pemkot Bekasi yang bakal menambah rute bus Trans Patriot mengingat ada tambahan 21 bus dari pemerintah pusat.

Selain itu, Pane juga tidak mengetahui adanya wacana pergantian angkot menjadi bus berukuran sedang, seperti bus Trans Patriot ini.  ”Sistem pergantiannya seperti apa? Mekanisme bagaimana? Perlu ada kajian terlebih dahulu,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi Dedet Kusmayadi mengatakan, kemunculan bus Trans Patriot memang menjadi pesaing angkot di lapangan. Sebab, dalam berburu penumpang, angkot akan jauh tertinggal.

”Karena Trans Patriot lebih memberikan kenyamanan dan keamanan. Apalagi tarif juga murah," katanya, Senin (7/1/2019). Dedet menambahkan, kebanyakan angkot yang sudah tidak beroperasi di daerahnya bukan kalah bersaing, melainkan memang usianya sudah tua.

Sebab, pemerintah daerah sudah memperpanjang izin angkot yang sudah berusia di atas 15 tahun. "Angkot yang sudah tua tidak kami perpanjang izin trayeknya, kecuali diremajakan," ucapnya juga. Dedet juga mengaku, tengah mengkaji pemberdayaan pengusaha dan sopir angkot agar tetap bisa mencari nafkah.

Salah satunya, pengusaha angkot akan diberikan izin untuk membeli mini bus seperti Trans Patriot. Nantinya, para pengusaha angkot akan tetap memiliki penghasilan. "Sedangkan untuk supir angkot, kami akan melatih untuk menjadi supir Trans Patriot," ucapnya lagi.

Tapi, katanya lagi, semuanya masih dikaji. ”Kami masih menunggu kajian regulasinya,” ungkapnya lagi. Kajian itu, kata Dedet juga, bakal segera difinalisasikan menyusul rencana penambahan rute Trans Patriot menyusul bantuan 21 bus Trans Patriot.

Bantuan 21 bus dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) itu akan menjangkau trayek yang belum dilintasi oleh sembilan bus Trans Patrit yang sudah beroperasi. ”Dari 21 bus itu, 20 bus diantaranya untuk angkutan umum, 1 bus untuk pelajar," paparnya.

Terpisah, Ojik, 56, sopir K10 jurusan Ujung Harapan-Bekasi mengaku sangat ingin beralih menjadi supir bus Trans Patriot jika ada peluang. ”Kalau pemerintah daerah membuka kesempatan itu, saya akan ikut jadi supir bus Trans Patriot,” terangnya.

Cuma dia meminta agar aturannya tidak ketat. Apalagi, katanya juga, dia tidak memiliki ijazah. "Karena syarat menjadi sopir Trans Patriot harus punya ijazah. Saya tidak punya. Kalau pengalaman menjadi supir angkot, saya sudah puluhan tahun," ucapnya kepada INDOPOS, Senin (7/1/2019).

Ojik mengaku, keinginan menjadi supir Trans Patriot karena pendapatannya jadi supir angkot sudah terkikis sejam satu bulan lalu. Saat ini, setoran yang harus dipenuhi setiap hari Rp 80 ribu kini tak tercapai. Padahal sebelumnya, pendapatanya Rp 100 ribu- Rp 150 ribu.

”Pendapatan berkurang terus sejak ada Trans Patriot. Kalah bersaing mencari penumpang. Sudah sebulan ini, pendapatan di bawah setoran terus. Masa nombok setiap hari. Saya dapat cape doang," jelasnya.

Menanggapi itu, Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi Harun Alrasyid mengatakan, angkot pasti akan tergeser dengan keberadaan bus Trans Patriot. Sebab, transportasi masal yang dikeluarkan pemerintah daerah memiliki tarif yang murah.

”Terpenting, warga ingin kenyamanan," katanya, Selasa (8/1/2019). Harun menambahkan, banyak angkot yang tetap beroperasi meski tidak memperpanjang izin trayek. Hal itu yang membuat jumlah angkot tidak akan berkurang meski sudah banyak persaingan.

”Pemerintah daerah juga harus siap-siap menghitung dampaknya, jika banyak angkot yang tidak beroperasi harus dicari solusinya. Karena akan terjadi banyak penggangguran,” tandasnya.(dny)

 

 

 

Berita Terkait


Baca Juga !.