Bola Dunia

Nihil Trik, Produktif, Santun

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge
Nihil Trik, Produktif, Santun - Bola Dunia

Info Grafis : GIMBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Mohamed Salah menunjukkan wajah sepak bola yang berbeda dari bintang seperti Cristiano Ronaldo maupun Lionel Messi. Salah bukan sosok glamor, ramah juga murah senyum, kehidupan keluarga jauh dari skandal, pemeluk agama yang taat, tidak suka melakukan trik di lapangan namun tetap produktif mencetak gol. Gampangnya Salah ini loveable bingits.

Jadi, jangan heran jika buat kedua kalinya secara berturut Salah memenangi gelar CAF Player of The Year 2018 kemarin (9/1/2019). Pesepak bola 26 tahun ini menapaki jejak Yaya Toure sebagai pemain terakhir yang berhasil memenangi gelar individu prestisius di Benua Afrika itu. Toure memenanginya empat kali (2011-2014).

 “Sebagai seorang anak saya selalu bermimpi sekali seumur hidup bisa berada dalam acara penghargaan terbaik seperti saat ini. Dan memenanginya dua tahun beruntun sungguh satu sesuatu yang besar bagi saya,” kata Salah dalam situs resmi Federasi Sepak Bola Afrika (CAF), Rabu (9/1/2019).

Dari hasil penghitungan suara yang dibeber CAF ini Salah meraih poin tertinggi sebesar 567. Di posisi runner-up kawan setimnya di Liverpool Sadio Mane mengumpulkan poin 440. Lantas di peringkat ketiga ada penyerang Arsenal Pierre-Emerick Aubameyang dengan 197 poin.

Beda dari sistem pemilihan pemain terbaik FIFA dimana hanya pelatih dan kapten yang punya hak suara maka di CAF ini ada enam elemen pemilik suara. Pertama Technical and Development Committee CAF. Kedua pelatih timnas. Ketiga kapten timnas. Keempat pakar atau wakil media. Kelima pemain legendaris. Dan keenam 16 klub elit Afrika. Dan di enam elemen pemilik suara ini, Salah selalu mendapatkan poin terbanyak. 

Dari tiga besar kandidat pemain terbaik Afrika 2018, capaian Salah memang sensasional. Mulai mengantarkan Liverpool masuk final Liga Champions 2018 (bersama Mane), lalu membawa Mesir ke pentas Piala Dunia 2018 setelah absen 28 tahun, dan pada gelar individu pemain asal Nagrig itu meraih penghargaan Golden Boot sebagai top skor Premier League dengan 32 gol.

Pantaskah Salah dihargai sebagai pemain terbesar Afrika saat ini ? Beberapa pelaku sepak bola, mulai pelatih, mantan pelatih, rekan dan mantan kawan setim semuanya memberikan kesaksian kalau Salah ini memang luar biasa.

“Saya sangat berbahagia buat gelar Mo (Mohamed Salah) ini. Tak terbantahkan dia memang pantas dijuluki The Egyptian King karena dia bisa melakukan berbagai hal di lapangan,” testimoni gelandang Juventus dan eks pemain Liverpool Emre Can kepada UEFA.

“Sedari kecil dia (Salah) sudah menunjukkan akan melakukan apapun untuk menjadi pesepak bola besar. Tak menonton TV sampai malam, bangun tepat waktu, tetap beribadah, kemudian pergi latihan,” kata  Hamdi Nooh, mantan pelatih klub masa kecil Salah, Al-Mokawloon kepada CAF.

“Keinginannya buat selalu mencetak gol dalam setiap pertandingan sangatlah tinggi. Terbukti ketika dia (Salah) saya tarik di menit ke-65 dia sangat kesal dan mentalitas seperti ini yang seharusnya dimiliki semua pemain,” tutur pelatih Liverpool Juergen Klopp kepada Liverpool Echo.

Ketika Salah menang anugerah pemain terbaik Afrika tahun lalu banyak yang memperkirakan kalau pemain berambut kriwil ini tipe one season wonder. Sekali membuat 'ledakan' setelah itu pudar dan menghilang. Namun nyatanya hal itu tak terbukti.

Di kancah Premier League, Salah adalah elemen penting selain bek Virgil van Dijk yang menopang Liverpool tak kalah di Premier League hingga matchweek 20. Dalam 29 tahun terakhir setelah puasa titel liga domestik, musim ini Salah punya kans mempersembahkan gelar Premier League buat Liverpool.

Di ajang Liga Champions, gol Salah juga membuat Liverpool lolos ke fase 16 besar. Saat nasib Liverpool di ujung tanduk dan harus menang pada matchday keenam lawan Napoli di Anfield (11/12/2018), Salah membuat Kopites bergemuruh berkat gol tunggalnya.

Kalau Salah punya kans membawa Liverpool juara Premier League dan Liga Champions maka bagaimana kiprah Salah bersama Mesir ? Peluang memberikan kejayaan buat The Pharaoh cukup besar. Sebab pada musim panas tahun ini, Mesir akan menjadi tuan rumah Piala Afrika 2019. Mesir adalah negara paling sering juara Piala Afrika dengan tujuh kali gelar juara.(koc/ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Enggak Ngotot, Debat Ketiga Dinilai Santun dan Beretika


Baca Juga !.