Internasional

Taliban Gagal Damai dengan Amerika Serikat

Redaktur: Achmad Sukarno
Taliban Gagal Damai dengan Amerika Serikat - Internasional

MENGUNGSI - Anggota keluarga Afghanistan tiba setelah melarikan diri dari distrik Jaghori untuk melarikan diri dari pertempuran. Foto: Afp

INDOPOS.CO.ID - Taliban membatalkan pembicaraan perdamaian dengan para pejabat Amerika Serikat di Qatar pekan ini.

Taliban beralasan ada "ketidaksepakatan agenda", terutama menyangkut keterlibatan para pejabat Afghanistan serta kemungkinan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Sebelumnya, pembicaraan perdamaian dijadwalkan akan digelar pada Rabu selama dua hari, menurut pernyataan beberapa pejabat Taliban kepada Reuters. Namun, kelompok gerilyawan itu menolak para pejabat "boneka" Afghanistan bergabung dalam pembicaraan.

Duta Besar AS di Kabul John Bass pada Rabu mencuit bahwa laporan-laporan soal pembicaraan antara AS dan Taliban "tidak akurat". Ia menambahkan, Taliban perlu berbicara kepada sesama rakyat Afghanistan seperti layaknya mereka berbicara kepada media.

Pernyataan terpisah yang dicuitkan oleh Kedutaan Besar AS untuk Afghanistan menekankan bahwa pembicaraan antara pihak-pihak Afghanistan sangat penting dilakukan guna dapat menyelesaikan konflik.

Departemen Luar Negeri AS kemudian mengumumkan bahwa Utusan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan Zalmay Khalilzad akan memimpin delegasi antarlembaga ke India, China, Afghanistan dan Pakistan mulai 8 Januari.

Delegasi itu akan melakukan pertemuan dengan para pejabat tinggi pemerintah setiap negara untuk memudahkan penyelesaian politik antara pihak-pihak Afghanistan.

Deplu AS mengatakan Khalilzad terus mengkoordinasikan upayanya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah serta pihak-pihak terkait lainnya di Afghanistan.

"Tujuan AS adalah untuk memajukan dialog di antara pihak-pihak di Afghanistan soal bagaimana mengakhiri konflik, serta mendorong mereka berkumpul di meja perundingan guna mencapai penyelesaian politik," bunyi pernyataan itu.

Perang di Afghanistan merupakan intervensi militer Amerika paling lama di luar negeri. Perang tersebut telah membuat Washington mengeluarkan hampir 1 triliun dolar AS (lebih dari Rp1,4 kuadriliun) serta menewaskan puluhan ribu orang.

Laporan bulan lalu, Presiden Donald Trump akan menarik ribuan tentara AS dari Afghanistan, telah memunculkan ketidakpastian di Kabul. Afghanistan bergantung pada Amerika Serikat serta negara-negara kuat lainnya untuk mendapat bantuan dan pelatihan militer.

Seorang nara sumber di Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa para pejabat AS telah bersikeras agar Taliban bertemu dengan para pejabat Afghanisan di Qatar.

"kedua pihak tidak setuju soal menyatakan gencatan senjata pada 2019,” ujarnya

Seorang pemimpin Taliban sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan di Qatar, yang seharusnya akan menjadi putaran keempat dengan Khalilzad, akan membahas masalah penarikan pasukan AS, pertukaran tahanan serta pencabutan larangan bepergian bagi para pemimpin Taliban.

Sumber-sumber di Taliban mengatakan mereka meminta AS membebaskan 25 ribu tahanan dan, sebagai imbalannya, mereka akan membebaskan 3 ribu tahanan. Tapi, pejabat-pejabat AS dikabarkan tidak ingin membahas pertukaran tahanan pada tahap ini. (ant/ash)

Baca Juga


Berita Terkait

Internasional / Taliban Gempur Bangunan Hotel

Internasional / Ekonomi Iran Terus di Tekan AS

Internasional / Korea Utara Tuding AS Pertahankan Permusuhan

Internasional / Trump akan Temui Presiden Korsel Bahas Denuklirisasi Korut


Baca Juga !.