Headline

AIS Dimatikan, Kapal Tak Terlacak

Redaktur: Juni Armanto
AIS Dimatikan, Kapal Tak Terlacak - Headline

Ilustrasi : Ifoed

INDOPOS.CO.ID - Keberadaan kapal MT Namse Bangdzod benar-benar sudah tidak terlacak. Bahkan, web atau situs marinetraffic.com yang memantau lalu lintas maritim secara online, kemarin (10/1/2019) sudah mengeluarkan pengumuman bahwa MT Namse Bangdzod berstatus missing alias hilang di Laut Jawa sejak 8 Januari 2019. Kemungkinan besar Automatic Identification System (AIS) kapal MT Namse dimatikan.

AIS ini merupakan sebuah sistem pelacakan otomatis yang digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit.    

Khairul Fahmi, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menduga kendali kapal MT Namse Bangdzod diambil alih. Kemudian yang terjadi diperkirakan AIS dimatikan, lalu mengganti bendera, samarkan atau ubah identitas. ”Kemudian keluar dari rute (pelayaran, Red) yang seharusnya,” ujarnya kepada INDOPOS melalui sambungan telepon, kemarin.

Menurut Khairul, jika pelakunya berpengalaman dan sudah direncanakan sejak awal, maka transponder atau data sinyal (call sign) kapal akan dibuang. Dengan begitu, kapal akan sangat sulit dicari. "Kata yang lebih tepat bukan dibajak, tapi diambil alih atau dirampas. Pelaku memang spesialis dan kapal sudah ditarget," tandasnya.

Khairul menambahkan, kuat dugaan peralatan navigasi dibuang, lalu kapal diubah identitasnya, dan siap dipindahtangankan. Sementara muatan hanya bonus. Untuk keberadaan awak kapal sebanyak 12 orang, termasuk anak buah kapal (ABK) masih belum bisa dipastikan kondisinya seperti apa. "Ini yang belum jelas, apakah ABK terlibat atau tidak? Jika tidak, sepanjang tak ada yang mengumumkan soal penyanderaan, kita nggak bisa pastikan keselamatan mereka. Bisa dibuang atau diturunkan, bisa dihabisi (dibunuh, Red) nggak jelas," ungkapnya.

Dalam kasus serupa, memang ABK itu disandera. Namun bila niatannya hanya ingin mengambil, maka ABK akan dilepaskan. Keberadaan kapal tersebut disinyalir juga telah keluar dari perairan Laut Jawa.

"Kalau yang tujuannya mengambil kapal, maka ABK jika nggak diturunkan (di laut, Red) ya dilepas di pantai terdekat, ya bisa juga dihabisi (dibunuh, Red) agar tak membebani atau membahayakan perjalanan. Dugaan saya sih kalau lihat waktunya, sudah keluar (dari Laut Jawa, Red)," terangnya.

Safriady, analisis komunikasi militer dan intelijen mengatakan, kejadian di laut itu hanya ada dua, kalau tidak tenggelam, kecelakaan atau dibajak. Jika pun tenggelam atau kecelakaan di laut, sudah tentu meninggalkan jejak seperti ceceran minyak kelapa sawit atau CPO yang diangkut. Lalu kapal akan mengirimkan pesan SOS kepada kapal lain untuk minta tolong. Kapal ini pasti dilengkapi dengan alat teknologi canggih.

"Kalau pun dibajak, harus bisa dilakukan investigasi lebih lanjut. Kasus pembajakan kapal CPO di Indonesia bukan kasus baru. Kapal ini pasti dilengkapi alat-alat keselamatan yang baik. Jika melihat jalurnya, saya pikir masih di sekitar Laut Jawa dan keluar dari lintasan," katanya.

Menurut Safriady, bila dibajak pasti pelaku akan mengontak pemilik untuk meminta tebusan. Namun jika kapal itu hilang, maka pencarian kapal hilang itu selama sepekan atau tujuh hari, tapi bisa di perpanjang sesuai kebutuhan.

"Iya harus melalui proses investigasi lebih lanjut, menurut saya ini motifnya bisnis semata, karena muatannya CPO. Dan nggak ada urusan dengan kapal. Pencarian tetap menjadi tanggung jawab negara, hanya saja kan pasti ada batas waktu, karena semua pasti menggunakan biaya," tukasnya.

Ketua Bidang Komunikasi Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Tofan Mahdi mengklaim kasus perompakan terhadap kapal pembawa minyak kelapa sawit (CPO) jumlahnya sedikit. Namun, pihaknya mengaku tidak memiliki data kasus tersebut. ”Kasus perompakan terhadap kapal minyak kelapa sawit jarang sekali terjadi. Pernah juga sekali, tapi untuk data kami belum memilikinya,” ujarnya kepada INDOPOS, Kamis (10/1/2019).

Presiden (VP) Communications PT Astra Agro Lestari Tbk itu menambahkan, harga CPO pada awal 2019 terus bergerak naik. Saat ini harga CPO pada kisaran USD 530 per ton. Sayang, ketika dikonfirmasi terkait kasus hilangnya kapal MT Namse Bangdzod yang mengangkut sekitar 1.754.382 kg CPO, Tofan enggan berkomentar lebih jauh. ”Maaf, saya tidak bisa menanggapi isu tersebut,” tandasnya.

Sementara Ketua Umum  Indonesian National Shipowners Association  INSA Carmelita Hartoto mengaku prihatin dan berbela sungkawa atas hilangnya kapal MT Namse Bangdzod. Menurutnya, sudah sekitar dua pekan lebih kapal tersebut hilang kontak sejak bertolak dari Sampit, Kalimantan Tengah pada 27 Desember 2018. Seharusnya, kapal MT Namse sudah berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta pada 30 Desember 2018. "Saya harap seluruh pihak terkait dan aparat yang terlibat dalam keamanaan di laut juga aktif mencari keberadaan kapal ini serta menginvestigasi penyebab hilangnya kapal tersebut," ujarnya kepada INDOPOS, kemarin (10/1/2019).

Carmelita menambahkan, setiap kapal wajib memiliki Automatic identification system (AIS) yakni, sistem pelacakan otomatis yang digunakan pada kapal dengan pelayanan lalu lintas kapal (VTS). Ini untuk mengidentifikasikan dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya  "Semoga cepat mendapatkan kabar baik terkait keberadaan kapal, dan semoga (nahkoda dan seluruh ABK, Red) masih dalam keadaan selamat," pungkasnya.

Hingga Kamis (10/1/2019), keberadaan kapal tersebut masih juga belum teridentifikasi keberadaannya. Pencarian juga terus dilakukan. "Sampai sekarang belum ada info terbaru (mengenai keberadaan kapal tersebut, Red)" ujar Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Junaidi, kemarin (10/1/2019).

Potensi Besar

Berbagai kalangan mengungkapkan minyak sawit memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia. Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Dr Tatang Hernas S. menyatakan, keberadaan minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu, keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak. "Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia," katanya dalam diskusi ‘Sawit Bagi Negeri’ di Jakarta.

Senada dengan itu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto menyatakan, bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi harus terus didorong. Ini supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. "Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia, " katanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan, keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan. "Minyak sawit harus terus dikembangkan, supaya memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik," katanya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) M.P. Tumanggor menjelaskan, persoalan masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia. "Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan," katanya.

Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non-Pangan Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian Lila Harsyah Bakhtiar, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak. Ini agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. "Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia," katanya.

Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (Persero) Gema Iriandus Pahalawan mengakui, keberadaan biodiesel minyak sawit membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. "Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel," ujarnya.(dan/nas/dai)

 

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Tanpa Batas, Pencarian MT Namse Bangdzod Berlanjut


Baca Juga !.