Bentuk Perusahaan Transportasi Terintegrasi

INDOPOS.CO.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menyiapkan integrasi tiga moda transportasi masal. Kereta api ringan atau light rail transit (LRT), moda raya terpadu atau mass rapid transit (MRT), dan bus rapid transit (BRT). Terintegrasi dari rute hingga tiketnya.

“Kami sangat mendukung program Pemprov DKI untuk mengintegrasikan ketiga moda transportasi masal di Jakarta,” ungkap Coorporate Communication LRT Jakarta Melisa kepada INDOPOS, Kamis (10/1/2019).

Hingga saat ini, menurut Melisa, LRT Jakarta sedang menunggu arahan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ia menyebutkan, ada satu stasiun yang terintegrasi dengan BRT. Di stasiun Velodrome terintegrasi dengan halte bus Transjakarta di Jalan Pemuda. “Saat ini yang bisa langsung baru di stasiun Velodrome,” ungkapnya.

Terkait konsorsium dari tiga badan usaha milik daerah (BUMD), dikatakan Melisa PT. LRT tengah melakukan pembahasan. PT. LRT Jakarta, menurutnya, akan menjalankan apa saja yang diamanahkan oleh Pemprov DKI. “Arahan dari Pak Anies akan kami support,” katanya.

Hingga saat ini PT. LRT belum mengeluarkan usulan tarif untuk LRT. Sementara progress hingga kemarin, dikatakan Melisa, untuk kontruksi sudah 93 persen, untuk sarana kereta api sudah 100 persen dan pengoperasian sudah 75 persen, serta total kesiapan keseluruhan 98 persen. “Untuk kereta api sudah 4 yang tersertifikasi dan 4 baru lulus uji, hanya tinggal menunggu sertifikasi keluar,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Kamaludin. Ia mengatakan, persiapan pengintegrasian ketiga moda transportasi masal tengah berjalan. Baik pengintegrasian dari sisi rute dan sisi tiket. “Untuk pengintegrasian tiket sudah dalam tahap pembentukan perusahaan patungan dari 3 BUMD (MRT, LRT, BRT),” ungkapnya.

Dalam proses pembentukan perusahaan patungan tersebut, menurutnya, melalui beberapa tahapan yang harus rampung dalam tahun ini. Ia menyebutkan, MRT terintegrasi secara langsung dengan LRT dan bus Transjakarta di stasiun Bundaran HI. “Jadi penumpang bisa langsung terhubung. Masuk ke halte Trasjakarta dari tengah (bawah stasiun),” jelasnya.

Selanjutnya, masih ujar Kamaludin, di Sisingamagaraja juga terintegrasi dengan halte bus Transjakarta dan di Lebak Bulus juga terintegrasi dengan bus Transjakarta. “Fase kedua MRT juga akan kita desain stasiun MRT terintegrasi dengan LRT dan BRT. Untuk saat ini dari fase kedua baru 1 stasiun yang terintegrasi, setelah ground breaking akhir bulan ini akan terbuka nanti,” ungkapnya.

Untuk pembentukan perusahaan patungan, dikatakan Kamaludin, dalam proses finalisasi perjanjian ketiga BUMD. Dalam waktu dekat nama perusahaan patungan tersebut bakal diumumkan. “Pembahasan tarif itu fase berikutnya, setelah pembahasan sistem pengintegrasian sistem pembayaran,” ucapnya.

Sistem pembayaran terintegrasi nanti, menurut Kamaludin, sesuai dengan program Pemprov DKI, yakni program Jak Lingko. Ia menuturkan, saat ini kartu MRT dipertimbangkan untuk digunakan pada kartu terintegrasi nanti.

“Usulan tarif untuk MRT saja Rp 8 ribu untuk rata-rata menggunakan MRT 10 kilometer (KM) dan Rp 2.500 untuk tarif terdekat MRT, untuk tarif terintegrasi bisa berbeda. Tentu semua lebih untuk mempermudah bagi pengguna,” ucapnya.

Ia menyebutkan, tarif terintegrasi untuk angkutan jalan antara bus Transjakarta dan angkutan umum lainnya Rp 5 ribu. Sementara tarif terintegrasi antara angkut jalan dan rel masih pada tahap berikutnya.

Lebih jauh Kamaludin mengatakan, hingga saat ini progress MRT sudah mencapai 98 persen. Untuk uji coba fase parallel train run akan selesai pada 26 Februari 2019 dilanjutkan full train run dan operasi komersial pada Maret mendatang. “Infrastruktur sudah 98 persen. Pada saat full train run semua sudah bisa mencoba,” terangnya.

Sedangkan Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Josep mengatakan, seharusnya moda transportasi di dalam kota harus terintegrasi. Tidak hanya terintegrasi dengan LRT dan MRT saja, tetapi juga dengan kereta api. “BUMD di DKI harus terintegrasi, jadi ini akan kita prioritaskan,” ungkapnya.

Halte bus Transjakarta yang terintegrasi dengan MRT dan LRT, menurutnya, berada di halte Bundaran HI, halte CSW (Sisingamangaraja), halte Lebak Bulus. Secara rute, moda transportasi masal di Jakarta sudah terinterigrasi. Penumpang yang berangkat dari Kelapa Gading bisa transit halte Velodrome untuk berpindah ke bus Transjakarta.

Sementara pengguna bus Transjakarta dari selatan, bisa transit di Lebak Bulus untuk menyambung MRT. “Secara pembayaran, semua BUMD bisa menggunakan kartu Jak Lingko dan PT Transjakarta sudah mengeluarkan. Dan itu bisa digunakan untuk transaksi di kereta api,” terangnya.

Terkait perusahaan patungan, dikatakan Daud, PT Transjakarta mendukung langkah tersebut. Tarif sementara untuk Transjakarta dan angkutan umum maksimal Rp 5 ribu. Untuk jarak dekat menggunakan bus kecil gratis. Tetapi, apabila disambung menggunakan bus besar atau masuk halte akan dikenakan tarif Rp 3.500.

Sejumlah pihak merespons integrasi tersebut. “Konsep integrasi angkutan umum sangat bagus. Tapi itu belum cukup, perlu keseriusan dan konsistensi untuk melaksanakannya,” ujar Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Jakarta (PPJ) Muhlis Ali, Kamis (10/1/2019).

Muhlis mencontohkan, konsep Transjakarta yang terintegrasi dengan angkutan umum untuk menjangkau masyarakat di permukiman warga saja hingga saat ini belum terealisasi secara maksimal. “Padahal semua adalah konsep yang bagus,” katanya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, semua sistem yang dipakai Jak Lingko, sistem transportasi pengganti one karcis one trip atau ok otrip, didasari oleh integrasi.“Kata kuncinya adalah integrasi. Ini yang akan terus dikembangkan oleh Pemprov DKI,” ujar Sigit.

Sigit mengatakan, pihaknya akan membuat sistem manajemen yang baru. Ini diharapkan mampu menarik keinginan warga DKI, agar mau naik transportasi umum. “Nanti kami akan kembangkan integrasi manajemen. Selain itu, akan ada integrasi pada rute dan pembayaran,” ujarnya.  

Pihaknya juga menyiapkan integrasi transportasi laut dengan Jak Lingko. Rencananya, penumpang kapal dari dan ke Kepulauan Seribu cukup sekali bayar untuk naik angkot dan bus transjakarta.

“Sekarang sudah ada layanan Transjakarta ya. Kami bicara sampai dengan dermaga Kali Adem, Sunda Kelapa, kami ingin ini bisa diintegrasikan dalam satu sistem. Jadi satu platform, sekarang ada Jak Lingko. Nanti ke depannya kami ingin ini juga integrated dengan Jak Lingko,” kata dia.

Menurut Sigit, saat ini warga Kepulauan Seribu memang mendapat fasilitas gratis naik Transjakarta dari Dermaga Kali Adem ke Pluit dan Kota. Namun ke depan, Sigit menargetkan integrasi bisa lebih luas jangkauannya.

“Kami ingin mengintegrasikan, kasarnya kami bicara dari Pulau Pramuka menuju Jalan Pasar Pramuka itu dalam satu platform yang sama,” ujar Sigit.(nas/wok)

 

Komentar telah ditutup.