Jakarta Raya

Cepat Tangani Banjir!

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Cepat Tangani Banjir! - Jakarta Raya

STANBY - Petugas operator Pintu Air Manggari, Jakarta Pusat, memantau ketinggian air. Pintu Air Manggarai masih dalam keadaan normal, Kamis (10/1) siang. Foto : Joesvicar Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Penanganan banjir oleh Pemprov DKI Jakarta butuh digenjot. Ini agar jumlah genangan di ibu kota yang masih banyak dapat dikurangi. Di antaranya dengan menguatkan konsep penanggulangan banjir.’’Misalnya soal konsep penanganan banjir dengan sumur resapan, kami melihat kurang kuat konsep itu,” ujar anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP William Yani, Kamis (10/1/2019).

William mengatakan, pembangunan sumur resapan adalah salah satu janji kampanye Gubernur Anies Baswedan untuk mengatasi banjir. Sehingga sangat dinantikan masyarakat dan ingin dilihat bagaimana efektifitasnya."Jika memang mau membuat sumur resapan, kapan dijalankan? Jangan menunggu sampai terjadi banjir,” kata dia.

Diungkapkan William, beberapa waktu lalu sejumlah wilayah Jakarta masih terjadi banjir. Apabila upaya pencegahan terjadinya banjir tidak segera dirampungkan oleh pemprov, maka, menurut Yani, dalam waktu dekat ini bisa jadi Jakarta akan kembali direndam banjir dengan skala yang lebih besar. "Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, ancaman banjir dapat terjadi kapan saja. Sehingga perlu penanganan serius dan segera," ucapnya.

Lebih lanjut William menyarankan, agar gubernur tidak perlu sungkan melanjutkan program-program penanggulangan banjir gubernur sebelumnya seperti proyek banjir kanal barat (BKB) dan banjir kanal timur (BKT) yang dilakukan di era Gubernur Fauzi Bowo dan program normalisasi sungai oleh Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, serta Djarot Saiful Hidayat.

"Segera lakukan sodetan Kali Ciliwung, kemudian normalisasi, lanjutkan banjir kanal barat segera dibuat. Konsep Pak Fauzi itu dilaksanakan. Jadi nggak usah pakai konsep baru yang belum jelas. Wujudkan saja banjir kanal barat, melakukan sodetan, dan normalisasi itu," tutur William.

Terpisah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaku telah telah memetakan titik-titik yang menjadi langganan banjir saat musim hujan di ibu kota. Sebanyak 26 lokasi masih berpotensi tergenang banjir. Ini berbeda dengan Sekretaris Fraksi PDI-P DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo. Menurutnya, ada 129 titik di Jakarta yang rawan banjir karena normalisasi tidak dilanjutkan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Teguh Hendrawan mengatakan, persiapan sudah dilakukan untuk mengantisipasi banjir memasuki musim hujan tahun ini. Sebanyak 5.186 petugas akan dikerahkan untuk membantu mengantisipasi apabila banjir menimpa permukiman warga.

’’Kita sudah memetakan lokasi banjir dan genangan yang ada di DKI. Hasilnya terdapat 26 titik rawan genangan berdasarkan genangan yang berulang selama 2017-2018,” kata Teguh.

Dinas SDA, lanjut dia, juga menyiapkan berbagai alat untuk mengurangi debit air jika sewaktu-waktu mengalami luapan air yang sangat besar. Teguh menuturkan, sedikitnya 436 unit pompa stasioner, 102 unit pompa mobile, 241 unit alat berat, dan 383 dump truck yang ditempatkan di 153 lokasi."Secara tenaga dan alat, Dinas SDA sudah siap mengantisipasi banjir dalam musim penghujan sekarang ini,” ucap dia.

ANGGA GUMELAR/INDOPOS

Selain mengidentifikasi lokasi rawan banjir, Teguh mengatakan, Dinas SDA juga melakukan naturalisasi sungai dan waduk agar air tidak meluap saat turun hujan.

Dari pantauan INDOPOS di Pintu Air (PA) Manggarai, Jakarta, Kamis (10/1/2019) siang, masih normal. Ketinggian air di PA Manggarai pada angka 585 pel priok (pp). "Pintu Air Manggarai masih normal pada Kamis, 10 Januari 2019, dapat terlihat pada peilschaal, untuk membaca ketinggian air di PA Manggarai ini," ujar Fajar Zuli, 31, operator Pintu Air Manggarai, seraya menunjukkan angka ketinggian air di PA Manggarai, siang kemarin. 

Fajar menambahkan, untuk titik nol diukur dari dasar permukaan laut. Patokannya dari pel priok itu tadi. Dia katakan, memasuki musim hujan, akhir 2018 di Pintu Air Manggarai masih aman. Tidak ada ketinggian air yang signifikan, selain itu di PA Katulampa masih normal juga. "Katulampa masih normal, kita lihat dari situ juga," tambah Fajar. 

Sebab, menurutnya, pengaruhnya dari Katulampa dan Pos Pemantau Depok. Namun demikian, koordinasi pemantauan oleh petugas operator intensif melalui radio. "Pemantauan tetap kami lakukan dalam kondisi normal pun terus dipantau. Selama 24 jam kita pantau," tegas dia. 

Kalau hujan seharian, intensitas air dari Katulampa dan Pos Pemantau Depok berpengaruh di PA Manggarai. "Kadang air naik, namun cepat juga surut. Kita pantau terus," katanya.  

Kroscek tinggi muka air dipantau setiap satu jam sekali. Tapi kalau ada kenaikan Pos Pemantau Depok, per 15 menit-30 menit sekali dipantau, koordinasi terus dan intens. "Tergantung jika ada kenaikan air. Di sini pun demikian, jika ada kenaikan kita lapor pusat," ungkapnya. Begitu juga di Pintu Air Karet, koordinasi antarpetugas terus dilakukan.

Terpantau siang kemarin, sampah-sampah tampak terjaring dan masih menunggu diangkut ke atas untuk kemudian dikeringkan terlebih dahulu. Setelah sampah kering, segera diangkut oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta. "Kita juga lapor ke pusat. Kita mantau ke hulunya, mantaunya mundur, justru bukan ke PA yang ada di depan kita," ujar Fajar Zuli, operator Pintu Air Manggarai. 

"Jadi sampai saat ini PA Manggari masih dalam keadaan normal," tutupnya.

Diberitakan INDOPOS sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan keseriusannya dalam mengantisipasi bahaya banjir di ibu kota, baik itu dengan normalisasi sungai maupun naturalisasi. "Kita jalan terus. Mudah-mudahan tidak ada masalah nantinya," kata Anies, Senin (3/12/2018).

Kelanjutan program tersebut terlihat dari program anggaran Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta dalam kebijakan umum anggaran-plafon prioritas anggaran sementara (KUA-PPAS) DKI 2019.

Untuk pelaksanaan program normalisasi sungai, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mengalokasi anggaran pengadaan tanah sungai dan saluran sebesar Rp 500 miliar.

Setelah tertunda di 2018, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta melanjutkan normalisasi. Di antaranya Kali Ciliwung. “Kita tahun ini juga akan normalisasi Kali Pesanggarahan, Kali Sunter, dan Kali Cipinang,” ujar Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Teguh Hendrawan kepada INDOPOS, Selasa (8/1/2019).

Dia menegaskan, target 2019 adalah melanjutkan normalisasi kali pada daerah-daerah yang terdampak banjir dari luapan Kali Ciliwung. Untuk itu, pihaknya terus melakukan proses pembebasan lahan terdampak normalisasi kali. “Kita harus segera selesaikan pembebasan. Target kami 2019 semua program normalisasi kali bisa rampung. Karena, program ini untuk mengatasi banjir di DKI,” katanya.(wok/ibl)

 

Berita Terkait


Baca Juga !.