Jakarta Raya

Habiskan 50 Kg, Semua Serbajengkol, Ada Jengkol Kopi

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Habiskan 50 Kg, Semua Serbajengkol, Ada Jengkol Kopi - Jakarta Raya

MANJAKAN JENGKOLER - Presiden Republik Jengkol Fatoni di warungnya. Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Di tangan Fatoni, jengkol bisa menjadi daya tarik dan menghasilkan  pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, saat ini, di warungnya ada 13 menu yang serbajengkol.

Ini bukan Negara. Bukan juga bangsa. Ini hanya terkait kuliner, tepatnya jengkol. Hanya yang menarik, ada kata republik sebelum jengkol. Semua serbajengkol. Ya, sejak dibuka 27 Maret 2012, semakin dikenal oleh pengemar jengkol (jengkoler). Menempati kios berukuran 3 x 5 meter. Warung yang menyajikan kuliner berbahan dasar jengkol tersebut buka dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Dua orang pramusaji dengan sabar melayani pembeli. Baru saja duduk, pembeli datang lagi. Maklum, jam saat itu menunjukkan waktu makan siang. Warung ini akan ramai dikunjungi pembeli saat jam makan siang dan sore hari. “Minta tongseng jengkol ya, sama kopi jengkol,” ujar seorang pembeli. Tidak menunggu lama, sajian pun dihidangkan.

Kerja cepat tidak mengurangi cita rasa masakannya. Yang punya warung, Fatoni, 48, disebut sebagai presiden, telah menyiapkan bahan-bahan dasarnya. Sehingga, dengan cekatan pramusaji bisa menyajikan dengan cepat. “Kalau bahan sudah kita siapkan. Dan saya selalu berpesan kepada pelayan agar tidak mengurangi takaran bumbu. Karena kita berjualan cita rasa, harus dijaga,” ujar Fatoni ditemui di Republik Jengkol di bilangan Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (10/1/2019).

Mimpi Fatoni adalah memiliki warung yang luas. Namun hingga saat ini belum terwujud. Tidak sedikit pembeli yang datang menggunakan mobil enggan turun, karena warung yang sempit dan tidak adanya tempat parkir. Sehingga, banyak pembeli yang hanya memesan untuk dibawa pulang.“Mimpi saya punya warung yang luas dengan parkir, tapi entah itu kapan?” gumam Fatoni.

Fatoni mengungkapkan, pernah mengembangkan usahanya dengan membuka cabang baru di Jalan Raya Bogor. Tapi usaha yang dijalani bersama kedua rekannya selama satu dua bulan hanya menyisakan capek saja.

“Kalau kios memang besar tapi sewanya terlalu mahal. Pembeli juga ramai, parkir penuh terus oleh mobil pembeli. Tapi untungnya pas-pasan, jadi kita putuskan berhenti. Alhamdulillah sekarang buka cabang di Tambun, Bekasi,” katanya.

Fatoni tidak puas hanya dengan sebatas  itu. Putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan almarhum Sukarno Cokro Subroto dan Mulyani, 80, ini tengah mengembangkan dengan menjual bahan dasar jengkol. Karena, banyak pembeli yang kerap memesan jengkol rebusan. “Kepingin jual jengkol rebusan saja, kita packing dengan plastik dalam kemasan. Kemudian kita kasih bumbu pasta. Jadi pembeli bisa mengolah jengkol sesuai selera,” ucapnya.   

Pria kelahiran Jogjakarta, 27 Maret 1970 ini mengatakan, untuk melayani pelanggan, ia telah bekerja sama dengan operator ojek online. Selain itu, ia juga memberdayakan pemuda yang kerap nongkrong di warungnya. “Banyak sih langganan, untuk mengantar setiap hari saya sering menyuruh anak-anak muda yang nongrong di warung. Lumayan mereka dapat ongkos kirim. Langganan ada yang di Bogor, Tangerang dan wilayah sekitar Jakarta lainnya. Kan lumayan sekali anter bisa kantongi Rp 130 ribu,” terangnya.   

Dia menyebutkan, warungnya kini telah melayani 13 menu untuk para jengkoler. Dari menu nasi goreng jengkol, semur jengkol, sate jengkol, tongseng jengkol, bebek jengkol, lada hitam jengkol, pasta jengkol, rendang jengkol, mi goreng jengkol, balado jengkol, jengkol sambel, jengkol sambal ijo dan kopi jengkol. Harganya bervariasi. Dari Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

“Yang baru kopi jengkol dan bebek jengkol. Untuk kopi jengkol kami berikan gratispada Sabtu dan Minggu. Syaratnya jengkoler harus memposting ke teman-teman dan media sosial,” ungkapnya.

Suami Jila, 41, ini mengaku, sudah banyak pesohor, baik artis dan sejumlah pejabat pemerintah datang untuk mencicipi olahan jengkolnya. Seperti Jenita Janet, Fahmi Bo, Ayu Hastari, Lola, dan keluarga Mandra. “Yang datang banyak artis sinetron, tapi banyak yang tidak kenal namanya. Deddy Corbuzier paling suka dengan tongseng jengkol, jengkol lada hitam, dan kopi jengkol. Kata Om Deddy ’enak dan beda’,” bebernya.

Fatoni mengaku sudah beberapa kali mengisi acara di stasiun televisi, menjadi narasumber di acara berita hingga acara “Hitam Putih”. Selain kalangan entertainment, banyak kalangan pejabat datang. “Kadang saya tidak tahu, paling dikasih tahu ajudannya. Ini dari Mabes TNI atau dari Polda Metro Jaya,” ungkapnya.

Ditanya omzet, pria yang tidak lepas dari kopiah di kepalanya hanya tersenyum. Sembari berkata, cukuplah, bisa beli rumah, menyekolahkan anak dan untuk ibadah.

Untuk menyiapkan menu dengan cita rasa tinggi, menurut pria yang dikaruniai dua orang anak dari perkawinannya dengan Jila itu, jengkol harus direbus selama satu jam dengan lengkuas dan daun salam.  Tujuannya untuk menghilangkan zat kapur dalam kandungan jengkol. Sementara untuk menghilangkan bau (aroma) hanya dengan daun jeruk dan sereh. “Kita rebus jengkol selama 1 jam, setelah ditiriskan jengkol siap diolah menjadi menu apa saja tanpa harus diproses lagi,” ungkapnya.

Menurut pria lulusan Sekolah Seni Rupa (Sesri) atau setingkat SMK di Jogjakarta itu, nama Republik Jengkol tengah dipatenkan. Dalam satu hari warung milik Fatoni ini bisa menghabiskan bahan dasar jengkol hingga 50 kilogram.

Kesuksesan Fatoni untuk mengolah jengkol tidak datang tiba-tiba. Ia harus jatuh bangun berpindah-pindah tempat. Kali pertama buka Fatoni menyewa kios di bilangan Kebon Pala, Jakarta Timur. Itu pun hanya berlangsung dua tahun saja, karena kios tidak diperpanjang. Kemudian   memutuskan berpindah di Kramat Jati hingga saat ini.

“Mulai dikenal setelah 1 tahun di Kramat Jati. Awalnya buka dulu Soto Betawi. Pas buka pertama buka dengan spanduk jengkol, ada orang lewat senyam senyum sembari berkata, ‘mana mungkin jengkol nggak bau’. Tapi pas dia nyobain, besoknya bolak balik nambah,” ucap Fatoni tertawa geli.

Fatoni mengaku tertarik mengolah jengkol karena pangsa pasar di Betawi dan Sunda, jengkol cukup mendapat perhatian dari masyarakat. Apalagi jengkol olahannya tidak berbau seperti olahan jengkol yang hanya diolah biasa-biasa saja.“Untuk menjaga pelanggan, resepnya cita rasa jangan berkurang. Makanya kita selalu berpesan kepada anak-anak (pramusaji) jangan mengurangi takaran bumbu untuk menjaga cita rasa,” pungkasnya.(*)

 

Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya Kini

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta


Baca Juga !.