Minta UE Terapkan Aturan Ketat Terhadap China

INDOPOS.CO.ID – Asosiasi perindustrian ternama Jerman BDI meminta Uni Eropa (UE) menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih ketat terhadap China untuk membantu perusahaan-perusahaan setempat di tengah kekhawatiran atas dumping harga, alih teknologi, dan ketidakadilan akses pada izin dan pendanaan.

Dalam sebuah makalah yang dipresentasikan BDI menekankan bahwa perusahaan Jerman membutuhkan pasar China, namun mengingatkan keengganan China untuk membuka akses. Dalam kesempatan itu BDI juga mengungkapkan 54 tuntutan agar Berlin dan Brussels turun tangan.

“Beijing harus membuka pasar domestikanya dengan kesadaran sendiri dan mengimplementasikan dengan tepat reformasi ekonomi yang telah lama diumumkan,” kata presiden BDI Dieter Kempf.

Makalah itu, yang pertama kali dilaporkan Reuters pada Oktober, meminta UE membuat kerangka ekonomi yang lebih kuat untuk pasar dalam negerinya guna menyatukan berbagai perusahaan dari ekonomi nonpasar ke sistem ekonomi liberal.

“Bagi UE, sangat penting untuk tidak hanya menguraikan pentingnya sistem dan nilai-nilainya sendiri ke dalam tapi juga secara ofensif menghadirkan mereka ke luar,” kata BDI.

Memperkuat aturan subsidi UE menjadi salah satu tuntutan yang mereka minta. Perusahaan-perusahaan yang tidak memproduksi barang di UE tidak boleh mendapat subsidi negara, desak asosiasi itu. Mereka juga menyerukan lebih banyak investasi UE di bidang infratruktur dan inovasi.

Sebagai organisasi lobi bisnis utama Jerman, padangan BDI memberi pengaruh pada pengambilan kebijakan pemerintah.

Perdagangan bilateral antara Jerman dan China membukukan rekor 187 miliar euro (sekitar Rp 3,03 kuadriliun) pada 2017, hampir 30 persen dari total perdangangan UE dengan raksasa Asia tersebut.Beberapa raksasa otomotif Jerman seperti Volkswagen dan BMW sangat bergantung pada pasar yang tumbuh pesat di China. (ant/ash)

Komentar telah ditutup.