Ekonomi

Pelaku Perbankan Harus Kreatif

Redaktur: Jakfar Shodik
Pelaku Perbankan Harus Kreatif - Ekonomi

TREN BUNGA - (Ki-ka) Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti, Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah, Kepala Eksekutif Fauzi Ichsan, dan Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank LPS Ferdinan Dwikoraja Purba saat mengumumkan tingkat suku bunga penjaminan di Jakarta, Kamis (10/1). Foto : Toni Suhartono/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tahun ini memprediksi pertumbuhan kredit perbankan tumbuh 12,4 persen. Itu juga diikuti perbaikan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di kisaran 9 persen. Ramalan itu didasari pemilu April mendatang segera member kepastian.

”Pemilu selesai, peta pertumbuhan kredit perbankan akan terlihat jelas. Mudah-mudahan hajatan lima tahunan itu berjalan lancar,” tutur Anggota Dewan Komisioner LPS Destry Damayanti di Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Destry menambahkan, secara historis pemilu membuat aktivitas bisnis melambat. Kredit investasi baru akan tampak pada semester kedua, setelah Pemilu selesai. Pada semester pertama, orang cenderung membaca kebijakan-kebijakan calon presiden, terutama bulan Mei. Selain itu, penggalangan dana bank BUKU III juga mengalami pertarungan sengit dan tidak mudah.

Di mana, bank-bank harus kreatif menggalang DPK. Pasalnya, meski DPK total perbankan saat ini tercatat Rp 5.500 triliun, namun secara pertumbuhan mengalami pelambatan. DPK per tahun tumbuh atau nambah Rp 350 triliun. Hanya, perbankan harus berkompetisi dengan produk investasi lain macam reksadana, dan 0bligasi. ”Jadi, ke depan bank harus kreativ untuk bisa menciptakan sumber dana baru. Jangan hanya bergantung dan mengandalkan DPK,” ingatnya.

LPS memprediksi pertumbuhan DPK tahun ini ada di level 9 persen. Di awal 2019, terutama kuartal pertama penyaluran kredit diperkirakan masih akan melambat di tengah penyesuaian terhadap kenaikan suku bunga kredit. Dan, LPS telah mengerek suku bunga penjaminan 25 basis points (bps). Itu berlaku untuk simpanan berdenominasi rupiah di bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Selain itu, LPS juga menaikkan tingkat suku bunga penjaminan untuk simpanan dalam valuta asing (valas) di bank umum 25 bps.

Dengan keputusan teranyar itu, tingkat suku bunga penjaminan dalam rupiah menjadi 7 persen. Sementara, untuk simpanan valas 2,25 persen di bank umum. Sedang, tingkat suku bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di BPR tercatat 9,5 persen. Tingkat bunga penjaminan itu berlaku untuk periode 13 Januari 2019 hingga  edisi 14 Mei 2019 mendatang.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menjelaskan kenaikan itu mempertimbangkan tren kenaikan suku bunga simpanan perbankan sebagai respons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Suku bunga simpanan rupiah pada 62 bank rujukan LPS terpantau naik 10 basis poin menjadi 6,09 persen untuk periode 4 Desember 2018 sampai 3 Januari 2019. Sepanjang tahun lalu, suku bunga simpanan rupiah naik 88 basis poin. Sedang suku bunga valas pada 19 bank rujukan LPS pada periode sama tercatat menanjak 9 bps menjadi 1,3 persen. Sepanjang 2018 suku bunga valas tumbuh 66 bps. ”Suku bunga simpanan masih terus meningkat. Itu menunjukkan bank masih melakukan penyesuaian dengan suku bunga moneter,” tutur Halim di Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Halim melanjutkan kondisi likuiditas relatif terjaga. Namun, terdapat risiko pengetatan lantaran pertumbuhan kredit melampaui pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio pinjaman terhadap pihak ketiga atau Loan to Deposito Rasio (LDR) bank umum pada November 2018 tercatat 92,59 persen. Rasio itu sedikit lebih longgar dibanding posisi LDR bank umum pada Oktober tercatat 93,06 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit pada periode sama terpantau 12,5 persen atau turun dibanding Oktober 2018 terakumulasi 13,35 persen. Pada saat sama, pertumbuhan DPK melambat dari 7,6 persen pada Oktober 2018 menjadi 7,19 persen pada November 2018. ”Sejak beberapa bulan terakhir sejalan tingginya pertumbuhan kredit, DPK relatif tidak secepat pertumbuhan kredit, sehingga kondisi likuditas perbankan kecenderungannya mengetat,” imbuh Halim.

LPS juga menimbang kondisi Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) dalam kondisi terjaga. Sebab tekanan depresiasi rupiah mulai mereda. Kondisi itu dipengaruhi tensi ekonomi global juga telah mulai reda. ”Beberapa bulan ke depan, sebagaimana prediksi pengamat, The Fed tidak akan mengambil langkah terlalu drastis. Selain itu, isu perang dagang juga mudah-mudahan mulai mereda,” harapnya. (dai/ant)

Berita Terkait


Baca Juga !.