Nasional

Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Ceritakan Kronologis Kasus Dugaan Asusila 

Redaktur: Redjo Prahananda
Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Ceritakan Kronologis Kasus Dugaan Asusila  - Nasional

Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Guntur Witjaksono memberikan keterangnnya di Jakarta. Foto: Dhika/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Guntur Witjaksono menyampaikan kronologis kasus dugaan asusila yang melibatkan salah satu anggota Dewan Pengawas (Dewas) dengan salah satu staf komite Dewas.

BPJS mengetahui tindakan tersebut pada 6 Desember 2018 setelah RA, korban dugaan asusila mengajukan laporan kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

Dia bertemu dengan RA pada 28 November 2018, saat dirinya akan rapat. Dalam waktu yang singkat dengan menangis bahwa korban terduga asusila itu dimarahi oleh Syafri Adnan Baharuddin. 

"Saya tahu SAB pemarah sekali dan sudah berkali-kali marah di mana-mana. Semua orang tahu saya kira. Spontan saya bilang, kamu mundur saja kalau kerja tertekan itu yang saya katakan," ujar Guntur Witjaksono di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).

Setelah rapat, ia menuturkan bahwa Ra memosting dalam sebuah aplikasi pesan singkat berisikan postingan yang tidak pantas. "Ada postingan-postingan yang kurang senonoh dari segi bahasa maupun kesopanannya," tuturnya. 

Sesampainya di rumah, Guntur mendapat pesan dari dari SAB. Pesan tersebut diterima juga oleh Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto."Menyatakan langsung merujuk kepada postingan-postingan tersebut kalau SAB mengakui terjebak dalam hubungan khusus pada malam itu," kata Guntur. 

Kemudian hal itu dibahas dalam rapat rekomendasinya diingatkan (kepada RA) agar jangan memosting hal itu dan memang ada juga hal-hal yang kurang relevan. "Artinya ada satu waktu itu ada undangan pernikahan dari satu direksi (BPJS TK) dikomentari. Jadi kami takut ini menyinggung direksi itu," terangnya.

Hasil rapat Dewas itu memutuskan keduanya berikan skors. Skors ini juga secara implisit dimaksudkan untuk mencegah pertemuan SAB dengan RA karena konteksnaya. semakin membahayakan. 

"Bahkan dalam konteks dia (SAB) mau ke Jepang, RA ini tadinya mau ikut, dia masih berkeinginan untuk ikut. Waduh, bahaya kalau di luar negeri berdua dan sebagainya," bebernya.

Dewas melakukan rapat kembali 30 Desember 2018. Saat itu SAB memang mengakui ada hubungan khusus. Awalnya dirinya tidak mempunyai anggapan seperti itu. Kemudian salah satu anggota menasihati Ra untuk mengirim aduan ke DJSN.

"Akhirnya syukur tanggal 6 Desember 2018 baru ada aduan masuk. Baru kronologisnya kami baca. Dan minta maaf kepada kami semua. Ya sudah kalau begini berarti benar-benar terjadi," tukas Guntur.

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.