Megapolitan

Protes Proyek Tol Cibitung-Cilincing, Dituding Bikin Banjir

Redaktur: Syaripudin
Protes Proyek Tol Cibitung-Cilincing, Dituding Bikin Banjir - Megapolitan

Pekerja dengan alat berat tengah mengeruk tanah yang akan dibeton di salah satu proyek ruas tol Serpong-Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Jumat (11/1/2019). Dampak sejumlah kendala, ruas jalan tol sepanjang 11,19 kilometer itu ditargetkan baru bisa beroperasi pada April 2019. (foto kiri) Tampak warga dengan sepeda motor melintasi jalan tol yang sudah jadi. Foto : Adrianto/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pembangunan Tol Cibitung-Cilincing diprotes warga. Pasalnya, proyek jalan bebas hambatan yang akan menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, itu membuat pemukiman warga banjir.  

Ada enam RT yang dihuni ratusan warga di Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, yang menjadi korban salah satu proyek strategis nasional tersebut. Penyebabnya, saluran drainase di pemukiman warga terhambat karena urugan tanah proyek tol tersebut.

Camat Cibitung Hasan Basri mengatakan, warga yang mengeluhkan proyek pembangunan Tol Cibitung-Cilincing itu berasal dari RT 01, 09, 10, 11, 14, dan 18. Dia memaparkan, ada 16 keluhan yang disampaikan warga terkait dampak pembangunan tol tersebut.

Namun, setelah dirunut ada beberapa yang patut jadi perhatian utama kontraktor proyek tol tersebut. Di antaranya pemukiman warga banjir, jalan rusak sampai rumah warga retak akibat proses konstruksi menggunakan paku bumi.

Hasan juga mengaku, pemantauan di lokasi proyek, banjir yang melanda pemukiman warga dampak jalur drainase atau pembuangan air terganggu oleh aktivitas konstruksi tol. ”Karena ada urugan tanah, maka saluran air terhambat. Di saluran air juga berdiri pagar proyek tol itu,” terangnya.

Lalu, menurut Hasan juga, warga juga mengeluhkan jalan rusak dan berdebu di lingkungannya yang dipicu karena banyaknya lalu lalang kendaraan dan alat berat menuju lokasi proyek. Menurutnya juga, Desa Wanajaya bukan hanya sawah saja, namun juga ada pemukiman warga.

Karena itu, Hasan berharap keluhan warga tidak hanya didengar namun juga ditindaklanjuti oleh kontraktor proyek tol tersebut. "Intinya warga ingin ada perbaikan. Warga kami menuntut agar dampak negatif yang ditimbulkan proyek tol bisa dikurangi,” cetusnya.

Sementara itu, Evi Mutiara, kepala seksi Tata Ruang Bidang Fisik, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bekasi meminta agar keluhan masyarakat disampaikan langsung ke kontarktor proyek.

Agar bisa langsung ditangani.

”Saya belum dengar adanya protes warga terkait proyek Tol Cibitung-Cilincing. Kalau ada protes, sebaiknya langsung disampaikan ke kontraktornya," katanya, Jumat (10/1/2019). Evi juga mengakui, proyek Tol Cibitung-Cilincing itu memang melintasi Kecamatan Cibitung dan berakhir di Kecamatan Tarumajaya.

Jadi, ada beberapa wilayah yang terkena dampak pembangunan jalan berbayar tersebut. Pembangunan tol Cibitung-Cilincing memang di-desain untuk lintasan angkutan barang. ”Jadi angkutan barang melalui tol bisa langsung sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok," katanya.

Seperti diberitakan INDOPOS sebelumnya, jalan tol itu rencananya memakai sistem right of way (ROW) sekitar 60 meter. Tol itu menggunakan delapan lajur masing-masing arah Jakarta dan Bekasi. Ada median jalan batas jalan tol untuk jaringan utilitas seperti drainase, kabel, dan kebutuhan lainnya.

Proyek itu menggunakan lahan yang ada di DKI Jakarta sepanjang 31 kilometer (km) dan Kabupaten Bekasi sejauh 29 km. Jalan tol ini melintasi Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Sukawangi, Sukakarya, dan Kecamatan Cabang Bungin.

Ari Sunaryono, Direktur Teknik PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways, pengembang proyek tol Cibitung-Cilincing mengatakan keluhan yang disampaikan warga tidak sepenuhnya diakibatkan oleh pembangunan tol.

”Tidak seluruhnya dampak pembangunan tol. Karena sebelum adanya proyek tol Cibitung-Cilincing, daerah itu memang sering banjir. Namun warga justru berharap setelah adanya jalan tol dapat membantu mengurangi banjir di daerahnya," katanya saat dijumpai di DPRD Kabupaten Bekasi. 

Ari juga memastikan tidak ada drainase yang tertutup akibat material proyek selama konstruksi tol berlangsung. Menurut dia lagi, setiap pengerjaan konstruksi selalu direncanakan dengan matang. Tujuannya meminimalisir atau menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

”Namanya proyek itu tidak hanya merencanakan jalan, tapi juga merencanakan saluran, berikut drainasenya. Sedangkan drainase yang ada sekarang, nantinya akan dihubungkan dengan drainase jalan tol. Jadi, baru air akan dibuang ke sungai,” tandasnya.(dny)

 

 

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.