Nasional

BPJS Ketenagakerjaan Serahkan ke Pihak Berwajib

Redaktur:
BPJS Ketenagakerjaan Serahkan ke Pihak Berwajib - Nasional

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Kasus dugaan perbuatan asusila yang dilakukan oleh oknum anggota Dewan Pengawas (Dewas) Syafri Adnan Baharuddin (SAB) dengan salah satu staf komite Dewas yang berinisial RA, kini diproses hukum. Tindakan asusila itu terjadi pada 6 Desember 2018 lalu, setelah RA yang menjadi korban dugaan asusila mengajukan laporan kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Guntur Witjaksono menyampaikan, kasus dugaan asusila itu diketahui saat dirinya akan rapat. Dalam waktu yang singkat, RA menangis  karena dimarahi oleh SAB. 

"Saya tahu SAB pemarah sekali dan sudah berkali-kali marah di mana-mana. Semua orang tahu saya kira. Spontan saya bilang, kamu mundur saja kalau kerja tertekan itu,” ujar Guntur Witjaksono memastikan ucapannya di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).

Setelah rapat, dia baru mendapat, RA memosting pesan singkat dalam sebuah aplikasi berisikan yang tidak pantas. "Ada postingan-postingan yang kurang senonoh dari segi bahasa maupun kesopanannya," tuturnya. 

Setelah tiba di kediamannya, Guntur kemudian mendapat pesan dari SAB. Pesan tersebut diterima juga oleh Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto yang menyatakan, langsung merujuk kepada postingan RA tersebut. Sedangkan, SAB mengakui terjebak dalam hubungan khusus. Kemudian hal itu dibahas dalam rapat, yang isi rekomendasi diingatkan (RA,Red) agar tidak memosting hal itu (tak disebutkan). "Artinya ada satu waktu itu ada undangan pernikahan dari satu direksi (BPJS Ketenagakerjaan) dikomentari. Jadi kami takut ini menyinggung direksi," terangnya.

Hasil rapat Dewas memutuskan, keduanya (SAB dan RA) diberikan skors yang secara implisit untuk mencegah pertemuan keduanya karena semakin membahayakan. Bahkan saat SAB hendak ke Jepang, RA berkeinginan ikut. “Aduh, bahaya kalau di luar negeri berdua dan sebagainya," bebernya.

Guntur kemudian menjelaskan, Dewas melakukan rapat kembali, tepatnya 30 Desember 2018. Saat itu, SAB mengakui ada hubungan khusus. Dirinya pun sempat tak mempunyai anggapan seperti itu. "Akhirnya syukur ada aduan masuk. Baru kronologisnya kami baca. Dan minta maaf kepada kami semua. Ya sudah, kalau begini berarti benar-benar terjadi," katanya.

Atas tindakan pelecehan seksual itu, Guntur menyesalkan, insiden tersebut menimpa pegawainya. Dia menjelaskan, berbagai macam tudingan yang datang termasuk adanya dugaan Dewas BPJS Ketenagakerjaan sengaja melindungi SAB atas tuduhan asusila. Kami ingin melakukan klarifikasi atas kasus ini. Kami sampaikan, bahwa itu tidaklah benar," ucapnya.

Guntur pun mengaku, mendukung langkah RA melaporkan dugaan asusila yang dialaminya. Namun Guntur sangat menyayangkan, adanya pihak yang membuat kasus ini semakin melebar tanpa memperhatikan relevansi kasus pelecehan, seperti tuduhan yang menyebutkan tata kelola Dewas BPJS Ketenagakerjaan buruk dan adanya over lapping (tumpang tindih) wewenang dalam perekrutan staf komite Dewas BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami sangat mendukung pihak yang berwenang agar terus melakukan penyelidikan agar kebenarannya segera terungkap,” ujarnya.

“Bahwa hal itu tidak benar. Kegiatan operasional BPJS Ketenagakerjaan setiap tahun pasti dilakukan audit oleh lembaga pengawas keuangan seperti OJK, BPK dan KAP. Disamping kegiatan monitoring, evaluasi, dan mendapat predikat baik,” imbuhnya.

Menurutnya, proses rekrutmen staf juga telah mengacu pada Undang undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS dan Peraturan turunan yang terkait. Dewas dalam melakukan tugas pengawasaan, memberikan saran, perimbangan, dan nasihat sesuai dengan amanat aturan yang berlaku.

"Kami berharap semua pihak dapat berpikir jernih dalam melihat kasus ini. Jangan sampai ada pihak yang memiliki niat menggulirkan hal ini sebagai isu politik," tukas Guntur.

Kasus dugaan asusila yang kini merundung Dewas BPJS Ketenagakerjaan, tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan lain. "Saya kira belum terlalu siginifikan. Tidak akan banyak mempengaruhi," ujarnya.

Ditambahkan, Anggota Dewas BPJS Ketenagakerjaan Rekson Silaban memastikan, adanya kasus itu sama sekali tidak berdampak terhadap kinerjanya jajarannya. Dia berharap, masalah yang dialami oleh RA sebagai korban terduga asusila bisa cepat selesai. 

"Tidak ada yang menyebutkan kinerja kami buruk, yang mengukur pihak resmi itu. Kami harap RA yang sedang dirundung masalah bisa selesai dan semua bisa mendapat sesuai dengan hak," tutup Rekson Silaban.(yah/dan)

Berita Terkait


Baca Juga !.